Guru, Model Pengguna Bahasa Indonesia

“Gimana dengan penjelasan ibu? Ada yang ngga ngerti? Atau ada yang mau nanya?” Begitulah kalimat-kalimat sederhana yang mungkin pernah terlontar dari  seorang guru yang berada di dalam kelas saat terjadi proses belajar mengajar. Sepintas dari sisi efektivitas komunikasi tak ada persoalan. Siswa sebagai komunikan dan guru sebagai komunikator menganggap ada keberterimaan makna yang membuat keduanya saling mengerti terhadap maksud pembicaraan. Bila kondisi dan situasi lingkungan komunikasinya tidak resmi, mungkin petikan kalimat tersebut tergolong dalam ragam Bahasa tidak baku. Sepanjang situasi dan kondisi lingkungannya seperti itu memang tidak menjadi persoalan ketika dibenarkan dengan alasan situasi dan kondisi. Persoalannya jika petikan itu berada pada lingkungan guru yang notabene menjadi tempat pembelajaran bahasa rasanya harus ditelaah kembali.

Guru, Model Pengguna Bahasa Indonesia
Guru Mengajar (Republika/Putra M. Akbar)

Persoalan efektivitas komunikasi tidak melulu dapat menjadi pelindung terhadap kekeliruan penggunaan bahasa Indonesia yang akan berdampak pada pemerolehan dan pembelajaran bahasa Indonesia itu sendiri. Sebaliknya, efektivitas komunikasi yang didukung oleh penggunaan bahasa dalam hal ini, misalnya kata-kata yang baku akan mengantarkan siswa dalam pemeroleh bahasa dan pembelajaran bahasa yang benar. Menurut (Dendy Sugono:13:2009) ragam bahasa yang dituturkan oleh kelompok penutur berpendidikan memiliki ciri keterpeliharaan.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa seorang guru yang tergolong dalam kelompok penutur berpendidikan tinggi semestinya menjaga penggunaan bahasa yang taat asas. Pelafalan kata gimana, ngga, ngerti, dan nanya mungkin sekali lagi tidak mempengaruhi maksud atau makna yang ingin disampaikan, tetapi jika tidak dilakukan klarifikasi alasan penggunaannya –kecil kemungkinan dilakukan- ada dampak pemerolehan dan pembelajaran bahasa yang keliru tersimpan dalam skemata siswa.

Guru adalah bagian dari lembaga pendidikan. Dengan begitu guru memiliki kewajiban moral menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal itu diperkuat dengan Undang-Undang RI nomor 24 tahun 2009, Bab III tentang bahasa negara, pasal 29 ayat 1 dinyatakan bahwa Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan. Tak ada alasan kiranya jika guru harus melakukan komunikasi di lingkungan pendidikan baik dengan rekan sejawat terlebih lagi dengan siswa menggunakan Bahasa Indonesia beragam resmi. Pesan undang-undang tersebut jelas memposisikan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Di tempat itulah seharusnya terjadi komunikasi bahasa Indoneisa yang resmi terlebih dalam pengantar pembelajaran baik yang terkhusus mengajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia maupun mata pelajaran lainnya.

Akankan berpengaruh terhadap kualitas pemerolehan dan pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa ketika terjadi peristiwa komunikasi bahasa Indonesia di satuan pendidikan? Untuk menjawab itu sebelumnya kita tilik terlebih dahulu makna pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa. Menurut Dardjowidjodjo (2003:225) dinyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural waktu dia belajar bahasa ibunya. Sedangkan istilah pembelajaran dinyatakan sebagai padanan dari istilah Inggris learning. Dalam pengertian ini proses itu dilakukan dalam tatanan yang formal,yakni, belajar di kelas dan diajar oleh seorang guru. Definisi kedua tentang pembelajaran bahasa memposisikan guru sebagai orang yang dijadikan sebagai sumber sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa. Melalui bahasa pengantar guru dalam pembelajaran  tidak menutup kemungkinan diperoleh bahasa-bahasa yang mengisi perbendaharaan kata dalam benaknya.

Isitilah guru seringkali dianggap sebagai akronim dari digugu dan ditiru artinya dipercaya dan diikuti atau dicontoh. Siswa menganggap guru adalah figur yang dapat dijadikan sebagai orangtua yang layak dipercaya dan dicontoh perilaku dan tutur bahasanya. Tentu hal ini mestinya menjadi beban moral bagi guru untuk senantiasa memberikan yang terbaik untuk siswa agar tercipta pengalaman belajar yang mengisi skematanya. Begitulah dengan bahasa yang digunakan guru. Guru memiliki tugas dan tanggung jawab moral dari negara untuk menjadi bagian terdepan sebagai pemberi atau menjadi teladan atau model dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Dalam pernyataan lain guru dalam proses pembelajaran “tidak hanya apa yamg mereka katakan, tetapi juga apa yang mereka lakukan” (Ormrod, 2003 dalam Parkay). Guru adalah agen aktif yang ucapan dan tindakannya mengubah kehidupan membentuk masa depan, agar lebih baik atau lebih buruk.

Guru sebagai model keteladanan bagi siswanya dituntut harus memiliki kepribadian, tutur kata, dan sikap perilaku yang dapat dijadikan sebagai panutan. Dalam dunia pendidikan, kepribadian guru meliputi (1) kemampuan mengembangkan kepribadian, (2) kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara arif bijaksana, dan (3) kemampuan melaksanakan bimbingan dan penyuluhan. Kompetensi kepribadian guru berkaitan erat dengan penampilan sebagai individu yang harus memiliki kedisiplinan, berpenampilan baik, bertanggungjawab, memiliki komitmen, dan menjadi teladan. Perilaku guru bagi siswa menjadi ukuran dalam anggota masyarakatnya.

Bahasa Indonesia yang benar dalam dunia pendidikan sekaligus sebagai referensi perolehan bahasa siswa sangat memerlukan penutur yang menjaga keterpeliharaan terhadap bahasanya. Bahasa guru dalam pengantar pembelajaran menjadi representasi penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Benar menurut kaidah bahasa yang meliputi tata bunyi, tata bahasa, kosakata, ejaan, dan makna. Sedangkan parameter penggunaan bahasa yang baik adalah dapat dengan tepat memilih ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan kominikasi. Pemilihan ragam bahasa tersebut terkait dengan perihal yang menjadi objek pembicaraan, tujuan pembicaraan, pihak yang diajak bicara maupun tempat pembicaraan.

Aryhendari