Konsekuensi Hidup di Tengah Kemajuan Teknologi

Konsekuensi Hidup di Tengah Kemajuan Teknologi

Kehadiran teknologi dalam kehidupan manusia pada dasarnya dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam kehidupan. Hal ini sejalan dengan definisi teknologi secara leksikal, yaitu teknologi merupakan keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yg diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Eksistensi teknologi memberikan dampak terhadap peradaban manusia. Teknologi yang tinggi memacu peradaban manusia yang tinggi pula. Perkembangan teknologi semestinya memberikan perubahan yang nyata terhadap sikap dan pemikiran manusia. Jangan sampai kemajuan teknologinya tinggi, sementara manusia tidak dapat mengimbanginya dengan penguasaan yang baik.

Kemajuan teknologi  saat ini dikenal dengan sebutan revolusi industri (RI).  Sampai saat ini kehidupan manusia sudah mengalami 4 kali revolusi industri. Perubahan pertama terjadi tahun 1784. Revolusi ini ditandai dengan ditemukannya mesin uap. Penemuan mesin uap ini yang  kemudian menggantikan secara luas tenaga manusia ataupun hewan di berbagai pabrik pertambangan atau trasportasi. Revolusi yang kedua terjadi pada tahun 1870. Revolusi ini bermula ketika tenaga listrik mulai digunakan secara masif untuk membagi pekerjaan manufaktur. Pembuatan mesin bertenaga listrik menggantikan pekerjaan secara manual. Industri 2.0 muncul pada awal abad 20 dengan ditemukannya tenaga listrik oleh dua orang sekaligus, yakni Nikola Tesla dan Thomas Alva Edison. Keduanya mampu membuat sistem kerja listrik sebagai sumber penggerak mesin.

Perkembangan teknologi selanjutnya adalah dengan munculnya revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan sistem komputasi data. Mesin hitung yang ditemukan pada pertengahan tahun 1800-an oleh Charles Babbage akhirnya dikembangkan Alan Turing menjadi pemecah kode buatan Nazi Jerman. Komputer yang sekarang kita gunakan sebenarnya hasil dari industri 3.0 karena setelah Perang Dunia ke-2 selesai, muncul berbagai komponen pelengkap, seperti bahan semikonduktor, transistor, hingga microchip. Selanjutnya adalah revolusi industri 4.0 yang sudah mulai dicetuskan pada tahun 2000-2005 ketika internet mulai berkembang serta memiliki kecepatan tinggi. Namun saat sistem internet mulai merambah semua produk, pelayanan masyarakat, adanya penyimpanan cloud, hingga Big Data pada tahun 2010 ke atas, nama revolusi industri 4.0 semakin besar. Memang industri 4.0 membuat sistem otomasi menjadi semakin dikenal dan diterapkan di berbagai industri. Akhirnya mulai banyak pekerjaan yang hilang. Namun dengan melihat kemajuan zaman dan teknologi, ini adalah salah satu risiko yang harus dihadapi.

Kini kita hidup di masa teknologi yang semakin maju. Di era revolusi industry 4.0 (four point o) seharusnya manusia dapat beradaptasi dengan dampak yang dimunculkannya. Jangan sampai manusia dikuasai oleh kemajuan teknologi. Sebaliknya semaju apapun mestinya teknologi itulah yang harus dikuasai dan ditaklukkan. Minimal manusia mau beramah-tamah dengan teknologi itu sendiri. Tidak memunculkan sikap antipati dan skeptis sementara pekerjaannya sendiri sangat membutuhkan dukungan teknologi.

Manusia yang hidup di era teknologi yang semakin maju mengharuskan dirinya melakukan adaptasi. Berusaha untuk ingin tahu dan mencoba mengenal berbagai perubahan yang dipengaruhi kemajuan teknologi. Seorang guru misalnya, sebelum pandemi covid-19 mungkin dapat mengesampingkan teknologi yang mendukung media pendidikan. Merasakan zona nyaman menjalankan tugas yang masih bersipat konvensional. Padahal masa sebelum pandemi pun negara ini sudah berada di era teknologi tinggi. Bukan tidak ada pemacu dan pemicu bagi guru untuk bertahap hijrah dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Namun lagi dan lagi kesadaran untuk berubah atau mengubah diri ke arah perbaikan keprofesionalan kerja masih sangat lemah.

Bulan Maret 2020 adalah momentum yang mengawali lahirnya salah satu kebijakan pemerintah dalam hal ini Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengatur sistem pembelajaran jarak jauh. Tentu saja kebijakan yang terbilang baru ini mengharuskan para pelaku pendidikan mencari dan menentukan langkah konkret dalam menerapkan teknik pembelajaran yang mendukung situasi dan kondisi yang terjadi saat itu. Kesiapan mental guru untuk mengenal dan mengeksplorasi teknologi terkait dengan pendidikan mau tidak mau harus dilakukan. Pembelajaran jarak jauh memerlukan mediasi teknologi.

Guru harus memahami hakikat dan peran teknologi dalam penciptaan media pendidikan yang diperlukan sebagai sarana pendukung dalam pembelajaran jarak jauh. Leslie J. Briggs menjelaskan bahwa media pendidikan adalah “The physical means of conveying instructional content …. books, films, video tapes, slide-tapes,  etc”. Maksudnya adalah suatu alat yang dapat menyampaikan isi bahan pengajaran …. buku, film,video tape,slide tape, dan lain-lain. Berdasarkan definisi tersebut ada keterkaitan kepentingan guru dalam membuat media pembelajaran di masa pandemi yang memberlakukan pembelajaran jarak jauh.

Pertemuan guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar berjarak ini tentu harus dimediasi dengan media yang dibutuhkan. Video pembelajaran menjadi salah satu tawaran yang dapat dipilih untuk digunakan dalam pembelajaran jarak jauh. Bagi guru yang belum familiar dengan pembuatan video pembelajaran, maka yang bersangkutan membuat bahan ajarnya dengan menggunakan media slide yang dikirim kepada siswa melalui perangkat berbasis android. Pemberian tugas, seperti quis yang efisien dalam pengoreksiannya juga bisa menjadi pilihan guru untuk diberikan kepada siswa melalui ruang kelas maya yang telah dibuat sebelumnya.

Pada intinya ada banyak media pembelajaran yang ditawarkan tutorial pembuatannya oleh para youtuber yang fokus pada konten pendidikan. Mulai dari pembuatan kelas maya/ classroom, membuat tugas/ quis dengan aplikasi google form, lifeworksheet, quizizz, plifpdf, membuat video pembelajaran dengan menggunakan aplikasi filmora, bandicam, kinemaster, canva, dan banyak lagi. Penjelasan tentang tutorial pembuatan media pembelajaran tersebut juga banyak diperoleh melalui kegiatan pertemuan virtual, seperti kegiatan webinar pendidikan.

Sebagai orang yang sudah pasti terlibat dalam dunia pendidikan, perkembangan dan kemajuan teknologi tidak mungkin membuat langkah guru harus terhenti ataupun mundur untuk menghindarinya. Usia yang terkadang menjadi alasan sebetulnya tidak perlu dikambinghitamkan untuk meminta toleransi menghindari konsekuensi teknologi. Perlu juga diingat bahwa kehadiran teknologi apapun nama generasinya pada hakikatnya memiliki fungsi memudahkan pekerjaan. Hanya saja memang perlu adaptasi yang ramah dalam mengenal dan menguasainya.

Kini teknologi sudah mengantarkan manusia menuju sebuah peradaban yang semakin modern. Seorang guru merupakan agen of change. Sangat mustahil tugas guru sebagai pembawa perubahan dapat berjalan dengan efektif jika kompetensi profesinya yang terdukung oleh kemampuannya tidak dibarengi dengan  mengenal, memahami dan menguasai teknologi. Berbagai regulasi dunia pendidikan tendensinya jelas menuntut pelaku pendidikan, guru khususnya untuk menyikapi bahwa pekerjaan seorang guru memerlukan sentuhan teknologi yang disesuaikan dengan kemajuan teknologi. Ini adalah sebuah keniscayaan. Kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan merupakan bagian yang terintegrasi dengan pekerjaan-pekerjaan keprofesionalan seorang guru. Mari, kita membuka diri terhadap perubahan dan tidak berselisih paham terhadap kemajuan teknologi yang terus dan terus akan terjadi.

Ary Hendari