Agar Generasi Milenial Akrab Dengan Tembang Macapat

SahabatGuru Generasi milenial apakah mengenal macapat? Puisi tradisional Jawa atau tembang yang diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat). Maksudnya saat melagukannya atau menembang, cara membaca syairnya terjalin tiap empat suku kata. Merasa asing dengan tembang Jawa itu? Hal yang wajar karena generasi sekarang tidak diperkenalkan dengan budaya adiluhung. Dan, jangan salah mengira bila macapat hanya ditemukan di Jawa. Meski kemunculannya disebut-sebut dari Jawa, namun macapat juga tumbuh dan berkembang di kebudayaan Bali, Sasak, Madura, dan Sunda. Macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Demi memperkenalkan atau bahkan mengakrabi tembang Jawa ini, Museum Benteng Vredeburg menggelar Lomba Macapat Perjuangan bagi pelajar SMP dan SMA perwakilan dari kabupaten dan kota di DIY, Rabu (24/10/2018). Kegiatan itu sebagai salah satu upaya yang tak sekadar mengenalkan tetapi juga mentradisikan macapat di kalangan generasi muda di era milenial. Hanya itu memang bukan pekerjaan mudah. Plt Kepala Museum Benteng Vredeburg Zaimul Azzah mengakui tidak mudah membiasakan minat macapat terhadap generasi milenial. Pasalnya anak muda lebih familiar dengan budaya luar dan perkembangan teknologi informasi. “Padahal warisan budaya lokal seperti macapat yang seharusnya digeluti karena menyimpan nilai positif. Ini yang menjadikan kami konsisten menggelar kompetisi macapat sebagai salah satu wadah untuk menarik minat generasi milenial tampil dengan macapat,” ujar Zaimul. “Ini tugas kita semua di era milenial. Anak jangan hanya tahu budaya luar karena kita punya budaya yang sangat luhur, adiluhung yang harus dilestarikan seperti macapat,” katanya. Wanita yang juga menjabat sebagai Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY ini menegaskan, berbagai upaya harus dilakukan untuk melestarikan macapat. Terlebih saat ini tembang macapat telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda (WBTb). Sebagai warisan budaya takbenda, macapat harus dilestarikan. Dan, siswa sekolah menjadi salah satu sasaran strategis membumikan macapat pada generasi milenial. “Melalui kompetisi ini kami berusaha menanamkan nilai positif dari macapat kepada generasi muda. Mereka harus menjadi ujung tombak pelestarian budaya, sekaligus menguatkan karakter mereka,” kata dia. Lomba tersebut diikuti 50 pelajar dari hasil seleksi oleh kabupaten/kota. Namun Zaimul berharap di tahun mendatang, jumlah peserta bisa meningkat. Pasalnya peserta terpaksa dibatasi karena menyangkut keterbatasan anggaran. Lomba dibedakan dalam dua kelompok yaitu SMA/sederajat se-DIY (25 peserta) dan tingkat SMP/sederajat se-DIY (25 peserta). Untuk tingkat SMA/sederajat, juara diraih Erlangga Bertrand dari SMAN 2 Playen, disusul Azalia Farikha Andit (SMAN 1 Kasihan) dan tempat ketiga Ikhsanudin (SMAN 1 Playen). Di tingkat SMP/sederajat, juara diraih Bagas Nur Satwika dari SMPN Kretek, runner-up Anienda Kidung K (SMPN 4 Pandak), tempat ketiga Pramudya Wijaya (SMPN 2 Wates).
What's Your Reaction?






