Platform Digital: Faktor Pendukung Kesuksesan Pembelajaran Era Pandemi

Platform Digital: Faktor Pendukung Kesuksesan Pembelajaran Era Pandemi

Dosen Media Pembelajaran UMS Eko Yuliyanto, S.Pd.Si., M.Pd. hadir menjadi salah satu narasumber pada Webinar Pendidikan Kabupaten Tulang Bawang yang mengangkat tema “Strategi Guru Menghadapi Defisit Kompetensi Guru Melalui Pemanfaatan Teknologi Digital Pendidikan”. Agenda ini dapat diikuti melalui Zoom dan YouTube SahabatGuru. Webinar yang masih pada rangkaian mewujudkan guru cakap bermedai digital, cakap numerasi, dan berkarakter dalam menghadapi tantangan global ini juga turut mengundang Menteri Kominfo RI Johnny G. Plate, Dewan Pengurus APKASI dan Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M., Bupati Tulang Bawang Dr. Hj. Winarti, S.E., M.H., Staf Ahli APKASI Bidang Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus Inisiator SahabatGuru Dr. Himmatul Hanasah, M.P., dan Dosen Teknologi Pembelajaran Teknik UNY Dr. Zainur Rofiq, M.Pd.

Dalam pemaparan materinya, Eko Yuliyanti S.Pd.Si., M.Pd. menyampaikan jika pembelajaran yang telah dilalui guru ada dua bentuk, yaitu sinkronus dan asinkronus. Pada pembelajaran sinkronus terdiri dari live webinars, instant messaging, video conferencing, dan virtual classrooms. Pada pembelajaran asinkronus terdiri dari email, blog, pre-recorded video lessons, dan online discussion boards.

Selanjutnya, mengenai platform digital. Guru bisa memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan materi, menjelaskan tugas, membuat soal, mengoreksi soal, dan menilai soal. Contoh yang bisa kita gunakan yaitu Google Classroom, Rumah Belajar, Siap Pintar, Quipper School, Zenius, dan Sekolah.mu. Dosen UMS ini juga memberikan rekomendasi website interaktif https://phet.colorado.edu/ untuk membantu guru-guru menyajikan materi. Terkait pembuatan kuis, para guru bisa memanfaatkan Quizziz sebagai ajang mengadakan kuis sambil bermain.

Eko juga menjelaskan mengenai langkah-langkah dalam mempersiapkan ruang kelas virtual. Pertama, pilih sistem manajemen pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Kedua, tinjau bahan pembelajaran online. Ketiga, gunakan aplikasi kalender dan komunikasi untuk memperlancar komunikasi guru dengan siswa. Keempat, pilih platform streaming yang aman/mempunyai jaringan pengiriman konten. Kelima, pilih aplikasi yang mendorong kolaborasi agar siswa turut aktif.

Pada kegiatan pembelajaran, tidak menutup kemungkinan akan ada siswa yang sangat aktif bertanya/mungkin lebih pintar daripada gurunya. Kejadian ini mungkin saja terjadi dan tidak perlu dipermasalahkan. Kolaborasi antara guru dan siswa bisa bermanfaat untuk saling berdiskusi dan mempelajari ilmu. Oleh karena itu, meskipun diberlakukan e-learning, pemilihan aplikasi yang bisa menuntut kolaborasi antara guru dan siswa sangat diperlukan untuk menjaga dan memupuk kreativitas siswa.

Lalu, pada sesi tanya jawab, seorang guru bernama Nurjanah, S.Pd. dari TK Nurul Jannah Tulang Bawang bertanya mengenai cara penyampaian pembelajaran sains di PAUD. Ada juga Pak Dedi Supriyadi yang bertanya mengenai aplikasi yang paling tanggap dan mudah diaplikasikan untuk anak SD.

“Sebenarnya, terkait platform, kita perlu melihat kondisi perangkat peserta didik kita. Perlunya memutuskan suatu aplikasi yang akan dipakai. Selanjutnya, ini juga berkaitan dengan lembaga sekolah. Jika sekolah memiliki fitur langganan, guru bisa memanfaatkan aplikasi yang sudah didaftarkan pihak sekolah. Namun, tidak menutup kemungkinan guru juga bisa memanfaatkan aplikasi tidak berbayar/gratis dengan maksimal, seperti Google Classroom. Fitur pada aplikasi tersebut sudah cukup lengkap, tinggal nanti disempurnakan dengan Google Meet. Namun, kembali lagi pada kondisi sekolah dan peserta didik masing-masing,” jelas Eko.

Kini, telah tersedia berbagai platform digital untuk membantu pembelajaran sekolah. Para guru dapat memanfaatkannya sesuai kebutuhan. Tak perlu khawatir terkait biaya langganan pada platform yang tidak menyediakan fitur bebas biaya, karena banyak juga platfom digital yang membebaskan biaya/gratis serta memiliki fitur yang mumpuni.

ANIS SAFITRI