Bupati Aceh Timur Terapkan Pendidikan Berkarakter
SahabatGuru - Pendidikan berkarakter merupakan sebuah pembelajaran yang sangat perlu dilakukan untuk memperbaiki dekadensi moral yang sedang melanda sebagian kaum muda di negeri ini. Melalui pendidikan berkarakter nantinya akan terbentuk jati diri seseorang yang menentukan sikap dan perilaku seseorang di tengah-tengah masyarakat.
Pendidikan karakter bukan sebatas tanggung jawab guru, melainkan juga peran orangtua sangat diharapkan, sehingga moralitas anak dapat terbentuk dengan baik.
Bicara pendidikan berkarakter, sebaiknya diterapkan di saat anak menginjak usia 5-11 tahun atau ketika anak masih menduduki bangku TK dan SD. Namun melihat pengaruh budaya asing di era globalisasi, maka perlu dilanjutkan ke jenjang SMP dan SMA.
Pendidikan berkarakter bertujuan untuk mengembangkan kepribadian anak atau siswa ke arah yang baik, sehingga bisa menjadi generasi muda yang membanggakan daerahnya
Di awal 2014, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur di bawah kepemimpinan H. Hasballah HM.Thaib dan Syahrul Bin Syama’un sebagai Bupati/Wakil Bupati Aceh Timur periode 2012-2017, mulai menerapkan pendidikan berkarakter terhadap siswa di jenjang SD, SMP dan SMA. Modelnya adalah melalui pemisahan ruang belajar laki-laki dengan perempuan.
Tak sebatas itu. Sekolah juga memisahkan kantin dan toilet siswa dengan siswi. Hal itu telah berlangsung sejak akhir 2015. Sebagian sekolah, kebanyakan SD, tidak mencukupi ruang belajar, sehingga pihak sekolah menyiasatinya dengan membuat pemisah atau sekatan di tengah ruangan antara para murid.
Pendidikan karakter yang dilakukan Rocky -sapaan akrab Bupati Aceh Timur- merupakan cara untuk membuat peserta mampu mengerti, memahami dan bertindak sesuai dengan etika dan norma yang berlaku. Artinya, ketika seorang anak kecil menghadapi masalah, maka dia mampu menentukan mana yang benar dan mana yang salah tanpa ada tekanan dari mana pun.
“Hakikat dari konsep pendidikan berkarakter adalah pendidikan tentang nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya sendiri. Pendidikan berkarakter bertujuan untuk mengembangkan kepribadian anak atau siswa ke arah yang baik, sehingga bisa menjadi generasi muda yang membanggakan daerahnya,” ujar Bupati Rocky kepada Sahabat Guru.
Pendidikan Karakter Sertakan Berbagai Aspek
Secara nasional, konsep pendidikan karakter akan menyertakan berbagai aspek dalam diri siswa didik nantinya, seperti aspek psikologis, sosio dan kultural. Pembentukan karakter pada setiap siswa didik ini akan mengembangkan semua fungsi dalam diri siswa, seperti kognitif atau pola pikir, afektif dan psikomotorik.
Selain itu, pendidikan karakter siswa di Kabupaten Aceh Timur, yang berupa sosio-kultural akan menentukan sikap siswa ini ketika berhadapan dengan orang-orang yang ada di dalam keluarganya, teman sepermainan, tetangga, lingkungan sekolah, termasuk lingkungan selain rumah dan sekolah.
Perlu diketahui salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan pendidikan karakter pada anak didik adalah faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini memiliki peranan yang sangat penting,
“Faktor lingkungan sang penting karena perubahan sikap dan tingkah laku seseorang sangat ditentukan oleh faktor ini,” kaya Rocky.
Bukan itu saja. Bupati juga menerapkan kurikulum dayah (pesantren) ke dalam kurikulum umum, sehingga bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) lebih banyak diterapkan. Di jenjang SD bidang studi yang diterapkannya antara lain Fiqih, Aqidah, Akhlak, Bahasa Arab, Al-Qur’an, Hadis dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Di jenjang SMP jam pelajaran PAI ditambah, dari tiga jam dijadikan lima jam.
Kebijakan Kepala Daerah (KDh) di pantai timur Provinsi Aceh ini bertujuan untuk menerapkan pendidikan berkarakter di Kabupaten Aceh Timur. Bahkan seluruh pelajar mulai jenjang SD, SMP dan SMA diharuskan mengaji atau belajar agama pada malam hari di pondok pesantren (ponpes) atau balai pengajian setempat.
Dengan kurikulum dan metode pengajaran ini diharapkan mampu membentuk karakter peserta didik, sehingga melalui strategi keteladanan dan penguatan religi itu membiasakan murid SD dan pelajar siswa SMP konsisten dalam memilih dan memilah yang akhirnya membuatkan mereka mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dengan status mereka sebagai insan kamil yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.*
What's Your Reaction?






