Bahaya, Asal Berikan Pujian Pada Peserta Didik!

Dalam mendidik siswa, biasanya guru tidak lepas dari sistem reward and punishment. Sejak dahulu sistem tersebut telah menjadi tren dalam dunia pendidikan. Jika peserta didik berhasil melakukan sesuatu akan diberikan apresiasi, sebaliknya yang melanggar aturan diberi hukuman. 

Bahaya, Asal Berikan Pujian Pada Peserta Didik!
Boros pujian. sumber : https://www.satuharapan.com/

Sistem itu pada dasarnya bertujuan untuk mengenalkan pada siswa, perbuatan apa saja yang dianggap baik dan buruk. Dengan demikian akan mendorong siswa untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan yang buruk. Akan tetapi, tidak semua guru tepat dalam memberikan pujian. Sejatinya tujuan memberikan pujian memang baik dilakukan. Namun jika cara memberikan pujian salah, justru akan berakibat pada tumbuhnya fixed mindset pada anak. Lantas bagaimana cara yang benar dalam memberikan pujian?

Tulisan ini akan merujuk pada hasil penelitian Dr. Carol Dweck yang terkenal menemukan konsep fixed mindset dan growth mindset. Ia juga memberitahu kita mengenai cara pemberian penguatan atau pujian yang berujung pada pembentukan mindset pada anak. Secara singkat growth mindset merupakan pola pikir yang menekankan bahwa semua pencapaian akan mudah terwujud melalui kerja keras. Sedangkan fixed mindset berfikir bahwa keberhasilan, kepintaran, dan kesuksesan merupakan kodrat yang sudah ada di dalam diri seseorang dan bukan didasari atas kerja keras.

Dalam hal itu, guru memiliki peran besar dalam membangun pola pikir anak. Melalui pemberian pujian, guru mampu menciptakan kondisi dimana anak menjadi termotivasi atau malah berbalik memilih jalan keluar yang mudah. Sehingga growth mindset dapat muncul jika anak diberikan arahan atau dorongan dari lingkungan sekitar.

Sering kali guru memberikan pujian atas hasil yang dicapai oleh siswa. Contoh sederhananya ialah siswa yang mendapat nilai tertinggi akan mendapat apresiasi dengan memberikanya juara 1 di kelas. Sistem yang seperti itu tanpa disadari akan menumbuhkan fixed mindset karena pujian tersebut berdasarkan hasil nilai yang dicapai siswa, padahal mungkin saja guru tidak mengetahui apakah hasil itu diraih dengan kerja keras atau menggunakan cara instant dengan tujuan supaya mendapat apresiasi juara 1. Begitu pula dengan siswa yang hasilnya tidak terlalu memuaskan akan ditempatkan di rangking terakhir tanpa mengetahui kerja keras yang dilakukan. Sistem perangkingan menjadi kurang tepat jika dihadapkan pada growth mindset.

Dengan menempatkan peserta didik sebagai juara pertama tanpa disadari kita telah melabeli anak dengan kualitas kepintaran tersebut. Sehingga anak cenderung untuk menjaga label tersebut dan orang akan selalu memujinya pintar. Yang terjadi adalah mereka akan tidak termotivasi ketika menemui kesulitan di luar kemampuanya, dan cenderung menunjukkan penurunan karena terpengaruh stereotype yang dibangun atas dirinya.

Dweck melakukan eksperimen pada dua kelompok anak. Kelompok tersebut diberikan tantangan yang sama. Kelompok A mendapatkan nilai yang lebih baik daripada B. Kelompok A diapresiasi karena berhasil mengalahkan B. Sedangkan kelompok B diapresiasi atas kerja kerasanya. Di eksperimen berikutnya diberikan tantangan yang lebih susah yang belum diajarkan pada dua kelompok tersebut. Hal mengejutkan terjadi, kelompok A akan lebih cepat menyerah karena merasa tidak mampu, sedangkan kelompok B terus mencoba hingga hasilnya lebih baik daripada A.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa anak yang diapresiasi karena kepandainya cenderung akan mudah menyerah jika dihadapkan pada situasi yang tidak sesuai dengan kemampuanya. Sebaliknya anak yang diapresiasi karena kerja kerasnya cenderung akan berani mencoba tantangan yang diberikan dengan tidak mudah menyerah. Mereka akan lebih kuat bertahan dibandingkan dengan anak yang diapresiasi karena  pencapaianya.

Sejatinya pemberian materi ilmu pengetahuan di kelas saja tidak cukup untuk meningkatkan pengetahuan siswa. Mereka perlu tahu bagaimana caranya menjadi individu yang lebih baik dan mereka harus percaya bahwa dengan tetap melatih kemampuan yang mereka miliki nantinya akan menunjukkan hasilnya.

Isna M. 

Sumber :
Sawitri D.P Ni Luh. 2017. Memberikan Pujian Yang Tepat Menurut Growth Mindset. Jurnal Pendidikan Dasar. Vol.2(2)