Guru Milenial Melek Teknologi, Siapa Takut?

Guru Milenial Melek Teknologi, Siapa Takut?
Ilustrasi. Pembelajaran di era digital. sumber:apahabar.com

Saat ini kata milenial sering digunakan untuk menunjukkan trend transformasi generasi. Klasteriasai generasi mulai dari generasi  X-Z sudah tidak asing di telinga. Generasi milenial termasuk ke dalam generasi Y yang identik dengan pola pikir inovatif, kreatif, dan kolaboratif. Penguasaan teknologi juga berada di lingkaran generasi milenial. Mereka dikenal sebagai digital native yang melek dan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi. Keterbukaan dan kemampuan dalam penguasaan teknologi tentu membuat generasi milenial banyak dibutuhkan dalam berbagai sektor pekerjaan, salah satunya pendidikan.

Menjadi guru milenial bukan berarti hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki umur terpaut masih muda. Guru milenial dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa ada batasan usia. Mereka yang mengajar dengan gaya mengajar ala milenial sudah berarti mampu menyesuaikan perubahan zaman. Peserta didik saat ini pun merupakan siswa yang memiliki pola pikir milenial, sehingga menjadi guru dengan kemampuan mengajar ala milenial sangat diperlukan.

Fenomena perubahan generasi tersebut dapat kita amati dari hal sederhana. Jika dahulu penggunaan gadget dilarang saat pembelajaran karena khawatir akan mengganggu kelas, maka sekarang penggunaan gadget sangat dibutuhkan untuk membantu memahami pembelajaran. Begitu pula pembelajaran daring yang saat ini sedang kita lakukan, teknologi memudahkan pembelajaran, mampu mendekatkan yang jauh, dan sangat penting dimanfaatkan kala pandemi.

Lantas bagaimana cara mengajar ala guru milenial?

Peserta didik di era sekarang cenderung cepat bosan dan tidak menyukai pembelajaran yang monoton. Sedangkan faktanya sistem pendidikan di negara kita masih terpaut dengan penggunaan LKS, mencatat, mendengarkan ceramah guru, menghafal, dan mengerjakan tugas-tugas. Kegiatan yang monoton tersebut seiring berjalanya waktu menjadi kurang relevan dengan generasi sekarang. Peserta didik sangat suka menggunakan gadget, sehingga seharusnya guru mampu mengambil peluang untuk melakukan terobosan mengajar dengan memanfaatkan gadget.

Melek teknologi

Ada banyak sekali aplikasi seru untuk menunjang pembelajaran supaya tidak monoton. Pemanfaatan teknologi juga mengubah posisi guru, yang dahulunya dianggap sebagai centre of learning, sekarang  siswa dapat belajar dari  banyak platform. Salah satu aplikasi yang dapat digunakan ialah kahoot. Aplikasi tersebut memberikan kemudian kepada guru untuk  membuat pertanyaan dengan berbagai animasi, sehingga dapat memberikan keseruan pada siswa saat mengerjakan tugas. Selain itu, aplikasi tersebut juga memudahkan proses penilaian.

Dengan adanya fitur-fitur menarik di gadget seperti editing video, dapat digunakan oleh guru millennial untuk mengajarkan cara membuat video menggunakan editing sederhana. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya pekerjaan yang memerlukan tenaga digital sangat dibutuhkan, seperti content creator, digital marketing, copy writing, dan lain sebagainya.

Sudah seharusnya sistem pendidikan juga menyesuaikan dengan memberikan materi tambahan terkait teknologi digital. Hal ini akan menarik untuk dipelajari karena siswa sudah tidak asing lagi dengan teknologi gadget. Selain itu, pemanfaatan aplikasi seperti youtube juga memuat banyak materi pembelajaran yang tidak membosankan. Hal itu dapat dimanfaatkan oleh guru-guru milenial sebagai media penunjang belajar.

Meskipun teknologi telah menjadi salah satu pusat pembelajaran, peran penting seorang guru juga tidak dapat dilewatkan. Setiap kemajuan zaman memiliki sisi positif dan negatif. Teknologi dapat memberi berbagai macam pengetahuan teori, namun peran mengajar, mendidik, dan membina murid tetap bertumpu pada guru. Guru memiliki peran penting untuk membentuk karakter, memberi pengetahuan, dan menjadi motivator bagi siswa. Sehingga kemajuan teknologi tidak saja menggantikan peran guru sebagai pendidik, melainkan keduanya dapat berjalan beriringan.