Orang tua yang strict dan pengaruhnya bagi anak
Jadi orang tua yang strict merupakan sesuatua yanga sepertinya sudah diturunkan dari generasi sebelumnya. Bukannya baik bagi anak, orang tua yang kaku dan strict (ketat) hanya akan memberikan efek negatif kepada anak
Pernahkah kita mengetahui asian strict parent stereotype? Singkatnya, itu adalah stereotip kepada orang tua di asia yang terkenal sangat tegas kepada anaknya. Bahkan di media sosial pun banyak berseliweran jokes betapa kaku dan strictnya para orang tua di asia. Contohnya seperti orang tua yang melarang anaknya masuk jurusan tertentu saat kuliah ataupun melarang anaknya mendapat nilai yang “rendah” dimana standar rendah bagi mereka itu diluar nalar. Dan sepertinya orang tua di Indonesia mengiyakan stereotip ini. Buktinya, mereka masih saja mengatur penjurusan saat masuk SMA dan jurusan kuliah. Walaupun tidak seketat orang tua di negara dengan tekanan akademik yang tinggi seperti yang ada di Asia Timur, tetap saja kultur ini harus dihentikan karena akan menyiksa anak. Mereka membutuhkan ruangnya sendiri untuk berkembang dan suatu saat mereka akan hidup mandiri. Bagaimana anak bisa mandiri jika perkara jurusan saja masih harus didominasi orang tua?
Sebagai orang tua, memang sudah menjadi keharusan untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Termasuk membimbing anak agar tidak salah melangkah. Namun cukup disayangkan bahwa ada orang tua yang salah memaknainya sehingga berpikir bahwa hanya pendapat mereka yang benar. Hal ini kadang dibarengi dengan sikap oranga tua yang tidak menerima pendapat dari anaknya walaupun anaknya memiliki alasan yang logis. Ketika sang anak ingin masuk ke sebuah jurusan misalnya, orang tua yang strict ini justru akan memaksa anaknya agar mengambil jurusan yang tidak disennagi oleh anaknya. Contoh lainnya saat masuk SMA dimana banyak kita lihat anak SMA yang dari kelas IPA malah mengambil jurusan klaster sosio-humaniora. Ini terjadi karena orang tua yang memaksakan kehendak mereka agar sang anak bisa masuk ke kelas IPA.
Selanjutnya dalam urusan nilai, banyak juga orang tua yang terlalu menekan anaknya agar meraih nilai sempurna. Memangnya mendapat nilai yang sempurna itu mudah? Belajar itu adalah proses, bukan paksaan apalagi sampai memaksa anaknya ikut les walaupun sang anak tidak suka. Memaksa anak agar mendapat nilai sempurna adalah tindakan yang bodoh yang hanya dilakukan oleh orang tua yang bodoh dan dangkal otaknya. Ditambah bahwa pemaksaan ini dilakukan untuk memenuhi ego para orang tua ini. Sungguh sangat menjijikan.
Strict parent dapat terjadi oleh beberapa faktor, seperti masa lalu orang tua, pikiran yang masih close-minded (pemikiran tertutup), salah menafsirkan makna dari ketegasan, hingga ekspektasi berlebihan kepada anak. Apapun alasan orang tua yang strict seperti ini, mohon dipahami bahwa anak bukanlah robot. Memang dapat dimengerti jika orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya. Tetapi, pemaksaan seperti itu apakah baik bagi anak? Atau justru baik untuk memuaskan ego orang tua? Pahamilah bahwa orang tua tidak selamanya benar dan mulailah menerima masukan dari anak. Jangan jadikan usia sebagai alasan untuk menggurui mereka. Lagipula daripada seperti itu, kenapa tidak mencoba untuk saling berdiskusi dengan anak?
Sadarilah bahwa menjadi strict parents merupakan upaya untuk mengurung jiwa mereka. Jika ada sesuatu yang tidak disukai maka bicarakan baik-baik dengan mereka. Bukannya mau menang sendiri dan menjadikan pendapatnya sebagai seusatu yang mutlak. Kurangi jugalah beragam aturan yang dirasa berlebihan dan tidak masuk akal yang sekiranya diterapkan kepada anak. Janganlah menjadi orang tua yang strict dan kaku, tetapi jadilah orang tua yang bijak dan berpikiran terbuka.
What's Your Reaction?






