Pentingnya Komunikasi di Kegiatan Pembelajaran

Pentingnya Komunikasi di Kegiatan Pembelajaran
Ir. Daisy Radnawati, M.Si dan Diana Setyawati, M.Hsc.Psy., Ph.D di 'Webinar Pendidikan Kabupaten Bantaeng'.

Kondisi saat ini dapat diketahui bahwa hanya 50-62% siswa yang berpartisipasi dalam belajar daring. Selain itu, akses internet yang masih buruk sehingga peserta tidak mendapatkan akses internet yang tidak memadai selama proses pembelajaran daring. Guru juga harus selalu berinovasi dan kreatif agar siswa tidak jenuh dalam mengikuti kelas daring.

Komuniaksi merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran di sekolah, karena dengan komunikasi yang efektif di sekolah sangat mempengaruhi kualitas pelayanan seorang guru terhadap siswa dan akan berpengaruh pula pada hasil pembelajaran yang juga sekaligus berkaitan erat dengan mutu pendidikan di sekolah.

Komunikasi yang efektif juga memiliki banyak manfaat di sekolah seperti dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan seluruh stakeholder yang ada di sekolah maupun berbgaai pihak terkait dengan lembaga. Selain itu, juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja pelaku komunikasi di sekolah terutama pelayanan seorang guru kepada siswa dalam proses pembelajaran.

Di sekolah, guru harus mampu berkomunikasi yang baik dengan siswa agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik dna mencapai tujuan yang diharapkan. Terdapat 5 strategi yang dapat dilakukan oleh guru untuk membangun komunikasi efektif yaitu dengan respect, audible, clarity (jelas maknanya), humble (rendah hati), dan empati.

Komponen penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan adalah tenaga pendidik atau guru dalam melakukan inovasi dan berkreativitas dalam pembelajaran berkualitas. Hal ini diperlukan upaya yang yang terus-menerus agar guru tetap memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum serta kemajuan IPTEK.

Ir. Daisy Radnawati, M.Si mengungkapkan bahwa hard skills dan soft skills sangat dibutuhkan ketika guru akan berinovasi. Hard skills terkait dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan pengetahuan. Sedangkan soft skills merupakan atribut pribadi yang dapat mempengaruhi hubungan, komunikasi, dan interaksi dengan orang lain.

Pembelajaran akan berjalan lebih baik apabila ditunjang dengan kreativitas guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di antaranya seorang guru harus bisa membuat siswanya lebih tertarik dalam setiap mata pelajaran. Maka dari itu, guru perlu untuk membuat RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, hal ini agar mengarahkan kegiatan belajar mengajar dalam upaya mencapai Kompentensi Dasar.

Dengan adanya RPP dapat membuat pembelajaran menjadi lebih sistematis, memudahkan analisis pencapaian siswa, memudahkan penyampaian materi, dapat mengatur pola pembelajaran, dan menghemat waktu serta tenaga. Selain itu, dengan adanya RPP sangat memungkinkan dilakukan variasi oleh guru, dimana dalam satu materi penyampaian, guru bisa merancang metode belajar diskusi dan kerja kelompok.

RPP yang telah disusun oleh guru tentu terdapat butir penilaian yang akan diberikan kepada siswa. Dari butir penilaian tersebut, guru bisa melihat nilai yang didapat oleh siswa dan mengetahui apakah butir penilaian yang ada di dalam RPP sudah dicapai oleh siswa dengan baik atau tidak. Guru juga bisa mencari tahu dan memprediksi dalam sebuah materi bisa diselesaikan dalam berapa kali tatap muka. 

RPP juga bisa membuat guru untuk merancang pola penyampaian materi. Selain itu, guru juga tidak perlu bingung untuk me ikirkan model, metode, dan sumber belajar yang sekiranya nanti akan digunakan oleh siswa. RPP yang telah dibuat dapat membuat gutu bisa menentukan apa saja yang dibutuhkan dalam penyampaian materi ajarnya.

RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran memiliki 3 komponen inti yaitu tujuan pembelajaran, langkah-langkah (kegiatan) pembelajaran, dan penilaian pembelajaran (assessment) yang wajib dilaksanakan oleh guru. Pembelajaran dapat menggunakan media, seperti zoom, instagram, tiktok, youtube, whatsapp, dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk memberikan variasi sehingga dapat menghilangkan kejenuhan dan memacu kreativitas anak.

Ir. Daisy Radnawati, M.Si memberikan tips mengajar daring yaitu dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, tanyakan kabar terlebih dahulu, berdoa, dan baru mulai masuk ke materi belajar. Selain itu, gunakan metode belajar yang kreatif, inovatif, dan fleksibel untuk memudahkan proses belajar mengajar. Sediakan hadiah kecil atau penghargaan untuk anak agar mereka senang mengikuti kelas, dan berikan tugas yang bersifat menganalisa untuk menguji kompetensi siswa. Akhiri kelas dengan rakuman materi dan pertanyaan, lalu tidak perlu untuk membuat slide yang banyak karena dapat memunculkan kejenuhan.  

Ir. Daisy Radnawati, M.Si menyampaikan bahwa perilaku guru dalam mendidik murid atau anak bangsa menjadi pegangan dan modal utama sehingga Ki Hajar Dewantara menciptakan istilah yang kemudian sangat terkenal yaitu 'Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani' yang memiliki arti di muka memberi contoh, di tengah membangun cita-cita, mengikuti dan mendukungnya.

Menurut Diana Setyawati, M.Hsc.Psy., Ph.D, anak-anak ingin merasa dibutuhkan, dipahami, dihormati, didukung, dihargai, didengar, dan merasa aman. Namun hal ini tidak mudah didapatkan anak ketika melakukan pembelajaran secara daring. Salah satu dampak positif dari pembelajaran daring selama masa pandemi adalah anak memiliki kemampuan self-regulated learning yaitu ketika anak memiliki strategi untuk mengaktifkan metakognisi, motivasi, dan tingkah laku dalam proses belajar diri mereka sendiri.

Namun, di sisi lain efek jangka panjang dari pandemi pada anak menurut para pakar mengungkapkan bahwa pandemi dapat mengakibatkan seseorang merasa kehilangan kemampuan mengontrol segala seuatu (disangegement life goal), pesimis, kesulitan atau bahkan kehilangan akses pada pendidikan karena digital divide seperti putus sekolah, kehilangan tahun-tahun emas yang dapat berefek jangka panjang pada kehidupan. Selain itu, kemungkinan besar anak juga melihat hidup ini berat karena pandemi datang di saat dia belum memiliki banyak bekal pengalaman dalam melewati tantangan kehidupan.

Ketika sekolah telah dibuka kembali anak dapat berinteraksi dengan teman sebayanya yang bisa memenuhi keinginan untuk bergerak bersama-sama. Selain itu, guru juga berperan untuk memfasilitasi anak agar bertumbuh dan berkembang. Guru perlu untuk menghargai setiap potensi yang dimiliki anak.

WHO mengungkapkan bahwa sehat mental adalah dimana keadaan seseorang sejahtera yang dapat ditunjukkan dengan beberapa perilaku seperti mengenali potensi diri sendiri, mampu menghadapi tekanan hidup sehari-hari, produktif, dan berkontribusi/bermanfaat untuk komunitas.

Strategi Pembelajaran Sekolah Blanded menempatkan kembali tujuan sekolah yaitu memfasilitasi pengalaman belajar bagi siswa untuk bekal menjadi pribadi yang mampu berkontribusi di masyarakat. Selain itu, juga mendorong kolaborasi antara orang tua, guru, dan siswa. Guru membangun komunikasi positif dengan orang tua, berusaha memahami kondisi latar belakang keluarga siswa.

Selain itu, sekolah dan orang tua juga perlu untuk melakukan re-koneksi dengan anak, guru membantu orang tua untuk menciptakan suasana belajar di rumah, serta guru perlu menjadikan orang tua partner bekerja sama dalam menyusun pengalaman belajar yang bermakna.

Strategi pembelajaran sekolah blended yang dapat dilakukan adalah dengan mendesain ruang interkasi (membangun koneksi), menyusun pembelajaran bermakna untuk memberikan pengalaman belajar berjenjang yang berpusat pada siswa, menguatkan makna belajar pada setiap proses (umpan balik dan refleksi), memanfaatkan sumber daya di sekitar siswa (keluarga dan lingkungan sekitar), dan sediakan ruang kebebasan memilih tantangan dan bertanggung jawab.

Diana Setyawati, M.Hsc.Psy., Ph.D memberikan kiat untuk membangun komunikasi efektif dengan remaja di era pandemi yaitu dengan menjalin kerjasama antara sekolah dengan orang tua agar dapat menciptakan remaja yang sehat. Hal ini dapat dilihat dari terlibatnya anak dalam aktivitas akademik, aman secara emosi dan fisik, memiliki konsep diri dan efikasi diri positif, kemampuan menarik kesimpulan, dan sehat secara mental dan fisik.

  1. Memahami remaja.

Mulai dengan pengertian, dan mencoba untuk mengerti posisinya sebelum memintanya untuk berubah, hal ini dapat membuat remaja lebih mendengarkan. Remaja tidak lagi akan membela diri namun justru akan mendengarkan.

  1. Hindari sikap emosional

Jagalah emosi meskipun perilaku remaja sagat mempengaruhi anda. Hal ini memang sulit untuk dilakukan, namun perlu untuk dicoba agar terbiasa. Selain itu, dengan memikirkannya, tidak ada alasan untuk marah karena kepribadiannya. Yang harus dilakukan adalah mengajarinya pilihan yang lebih baik, dan ingat jangan bicarakan masalah pribadi.

  1. Bertanya tanpa menghakimi

Mintalah umpan balik, ide, dan kolaborasi. Jangan menanyakan hal yang membuatnya terbebani karena akan membuatnya berusaha untuk membela diri. Tetapkan tujuan untuk emmbantu berfikir yang dapat membuat remaja merasa bahwa ia mempunyai tanggung jawab atas dirinya sendiri. Coba dengarkan dan minta remaja untuk berpikir kritis atas setiap pilihannya.

  1. Jangan bereaksi saat situasi sedang panas, tunggu sampai situasi mereda

Tidak perlu merespon ketika remaja sedang merasa kecewa. Guru bisa diam dan dapat melakukannya beberapa hal sesuai kebutuhan. Ketika emosi sudah menurun, anda dapat duduk berdua dan membicarakannya. Tentu hal ini sangat sulit untuk menyelesaikan masalah atau konflik dalam kondisi yang masih panas. Maka, jika masih merasa sama-sama kecewa, lebih baik tunggu sampai situasi lebih tenang.

Di akhir sesi, Diana Setyawati, M.Hsc.Psy., Ph.D memberikan kutipan semangat untuk guru yaitu guru yang bahagia maka dapat membuat siswa yang bahagia juga. Meskipun penyesuaian pembelajaran di masa pandemi tidak mudah, namun tetap perlu untuk melihat dari sisi positif, mungkin guru-guru hebat saat ini merupakan saksi sejarah awal sebuah era baru.