Literasi Informasi Itu Penting Lho...

Memberantas berita hoax adalah tanggung jawab bersama. Jika menerima dan membaca sebuah informasi melalui dunia maya, kita harus kritis, selektif, dan tidak mudah untuk menyebarkannya. Literasi informasi dimulai dari diri sendiri.

Literasi Informasi Itu Penting Lho...
Poster anti-hoax [indonesiaimaji]

DI era digitalisasi ini banyak kalangan yang sudah familiar dengan smartphone. Frekuensi penggunaan smartphone yang tinggi menyebabkan interaksi di dunia maya lebih sering dilakukan daripada interaksi sosial di dunia nyata. Hal ini menyebabkan penyebaran informasi di dunia maya sangat cepat. Semua informasi yang tersebar pun belum tentu pasti kebenarannya. Informasi yang tersebar di dunia maya memiliki dua jenis, yaitu informasi fakta dan informasi hoax.

Pada masa pandemi saat ini, Indonesia sangat darurat informasi hoax. Berdasarkan data Kemenkominfo tahun 2017 saja, terdapat 800.000 situs yang telah terindikasi sebagai penyebar hoax. Informasi hoax sengaja diproduksi untuk menimbulkan kehebohan, kebingungan, bahkan memunculkan konflik.

Hoax termasuk usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang atau kejadian aslinya. Definisi lain menyatakan hoax adalah suatu tipuan yang digunakan untuk mempercayai sesuatu yang salah dan seringkali tidak masuk akal yang melalui media online (https://www.merriamwebster.com).

Ada adagium di dunia media: bad news travel fast. Kabar buruk cepat beredar. Begitu juga dengan hoax. Orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki (Respati, 2017). Bramy Biantoro (2016) menyebutkan ada empat bahaya yang ditimbulkan dari berita hoax, yakni hoax membuang waktu dan uang, hoax jadi pengalih isu, hoax sebagai sarana penipuan publik, serta hoax sebagai pemicu kepanikan publik. Dalam menyebarkan berita hoax, biasanya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab itu melakukan suatu kebohongan dan menyebarkan informasi yang tidak benar secara sadar.

Penyebaran berita hoax di masa pandemi sangatlah massif. Media sosial seperti WhatsApp Group memegang peranan penting dalam proses penyebaran berita hoax oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sejak awal pandemi muncul, sudah banyak sekali berita-berita hoax yang beredar dan viral, seperti vitamin C yang harus dikonsumsi dalam jumlah banyak agar menangkal Covid-19, padahal konsumsi vitamin C yang melebihi batas wajar dalam sehari justru membahayakan ginjal. Ada banyak sekali berita hoax lainnya yang tersebar selama pandemi ini.

Pada masa pandemi yang banyak sekali dihiasi berita hoax, kita harus lebih selektif dan kritis ketika menerima sebuah informasi, terutama melalui dunia maya. Entah berita buruk atau berita baik (seperti upaya menangkal Covid) harus kita cermati terlebih dahulu. Sebuah berita yang benar tentu berasal dari sumber yang kredibel dan terpercaya. Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan tingkat literasi informasi.

Literasi Informasi

Menurut (Bundy: 2001), definisi tentang literasi informasi sangat banyak dan terus berkembang sesuai kondisi waktu dan perkembangan. Dalam rumusan yang sederhana, literasi informasi adalah kemampuan mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Hakikat dari literasi informasi adalah seperangkat keterampilan yang diperlukan untuk mencari, menelusuri, menganalisis, dan memanfaatkan informasi.

Individu yang sudah terliterasi alias 'melek informasi' diharapkan mampu: menentukan sejauh mana informasi yang dibutuhkan; mengakses informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien; mengevaluasi informasi dan sumber-sumber yang kritis; menggabungkan informasi yang dipilih menjadi basis pengetahuan seseorang; menggunakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu; memahami isu-isu ekonomi, hukum, dan sosial seputar penggunaan informasi, dan akses; serta menggunakan informasi secara etis dan legal. Karena begitu bahayanya dampak berita hoax, kita sangat perlu mengevaluasi diri untuk lebih berliterasi.

Tampilan Hoax Buster (https://covid19.go.id/p/hoax-buster)

Kembali ke masa pandemi saat ini yang masih dipenuhi oleh banyak berita hoax. Pemerintah sebenarnya sudah memberikan fasilitas kepada masyarakat Indonesia untuk mengonfirmasi informasi yang sering didapat melalui laman resmi bernama https://covid19.go.id/p/hoax-buster. Pada laman tersebut, masyarakat dapat melihat banyaknya informasi yang sering beredar melalui WhatsApp Group atau media lain. Informasi tersebut secara resmi dinyatakan hoax. Tidak hanya pelabelan hoax saja, tetapi juga penjelasan mengapa informasi tersebut bisa dinyatakan tidak benar. Untuk masyarakat Indonesia yang ingin mengonfirmasi sebuah berita/informasi, laman tersebut juga menyediakan layanan chat melalui WhatsApp yang dapat digunakan untuk mengetahui kejelasan informasi tersebut.  

Hingga pada akhirnya, memberantas berita hoax adalah tanggung jawab bersama. Dimulai dari diri kita sendiri, mari bersama kita meningkatkan kemampuan literasi informasi dan memanfaatkan fasilitas https://covid19.go.id/p/hoax-buster. Jika menerima/membaca sebuah informasi melalui dunia maya, kita harus kritis, selektif, dan tidak mudah untuk menyebarkannya.  

ANIS SAFITRI 

REFERENSI

Biantoro, Bramy. 2016. Jangan gampang terpengaruh, ini 7 cara kenali hoax di duniamaya!. https://www.merdeka.com/teknologi/jangan-gampangterpengaruh-ini-7-cara-kenali-hoax-di-dunia-maya.html.

Bundy, Alan. 2001. “For a Clever Country: Information Literacy Diffusion in the 21st Century”. https://www.library.unisa.edu.au/about/papers/clever.pdf.

Respati, S. (2017, January 23). Mengapa Banyak Orang Mudah Percaya Berita “Hoax”? Kompas.com. Retrieved from http://nasional.kompas.com/read/2017/01/23/18181951/mengapa.banyak.orang.mudah.percaya.berita.hoax..