Survei Median: Buruknya Koneksi Internet Jadi Hambatan Terbesar PJJ

Sebanyak 62,7 persen orang tua mengeluhkan buruknya koneksi internet saat anak-anaknya melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kemudian sebanyak 48,7 persen orang tua merasa tantangan utama bagi anak mereka dalam pelaksanaan PJJ adalah tidak adanya ponsel yang kompatibel untuk digunakan.

Survei Median: Buruknya Koneksi Internet Jadi Hambatan Terbesar PJJ
Ilustrasi koneksi internet

SahabatGuru - Sebanyak 62,7 persen orang tua mengeluhkan buruknya koneksi internet saat anak-anaknya melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kemudian sebanyak 48,7 persen orang tua merasa tantangan utama bagi anak mereka dalam pelaksanaan PJJ adalah tidak adanya ponsel yang kompatibel untuk digunakan. 

"Orang tua menyatakan, mereka melihat salah satu hambatan yang paling besar itu adalah koneksi internet yang buruk. Itu ada 62,7 persen," ungkap Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, pada konferensi pers merilis hasil survei yang dilakukan secara daring, Kamis (9/9).

Sementara diposisi ketiga, sebanyak 42 persen orang tua melihat anaknya sulit mengikuti kurikulum yang ada dalam pelaksanaan PJJ. "Ketika pandemi datang kurikulum itu tidak didesain untuk kurikulum jarak jauh. Sehingga ini seperti kurikulum face to face yang kemudian dipaksa untuk dipindahkan melalui jarak jauh," terang Marbun. 

Tantangan atau hambatan lain yang kerap dihadapi anak dan dirasakan orang tua selama PJJ antaran lain tidak adanya motivasi, kehilangan teman, terganggu oleh anggota keluarga lainnya, tidak memiliki laptop yang kompatibel, dan tantangan-tantangan lainnya. 

"Itu semua disebut menjadi hambatan yang anak-anak hadapi selama PJJ dilakukan selama pandemi berlangsung. Mungkin karena belum tentu setiap rumah tangga memiliki space khusus untuk belajar sehingga harus share lingkungan dengan kegiatan lainnya di rumah tangga," jelas Marbun. 

Dalam melakukan survei Median mengambil sebanyak 1.000 responden yang merupakan warga Indonesia berusia 17 tahun ke atas. Margin of error survei ini kurang lebih tiga persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pengambilan data dilakukan pada 19-26 Agustus 2021 dan sampel yang terpilih dipilih secara acak dengan teknik Multistage Random Sampling dan proporsional atas populasi provinsi dan gender. 

(Robi)