Apa itu Pelecehan Emosional?

Pelecehan emosional dapat berpengaruh negatif terhadap kualitas hidup dan kesehatan korbannya.

Apa itu Pelecehan Emosional?

PELECEHAN emosional atau mental adalah bentuk intimidasi pada orang lain dengan cara mengkritik, mempermalukan, menyalahkan, atau memanipulasi. Hal ini bisa terjadi pada hubungan pertemanan, keluarga, pekerjaan bahkan dalam pernikahan. Tindakan pelecehan emosional seringkali dilakukan tanpa disadari.

Menurut riset, 50% orang dewasa pernah mengalami pelecehan emosional selama hidupnya. Hal ini dialami juga oleh anak-anak dan remaja. Pelecehan emosional kerap kali dialami oleh korban bullying.

Ciri-ciri pelecehan emosional

Pelecehan emosional salah satu bentuk pelecehan yang terkadang sulit dikenali. Meski tidak terjadi secara jelas tetapi bisa dilihat jika seseorang mendapatkan kata-kata kasar, cacian, serta sikap yang membuat harga dirinya direndahkan. Pelecehan emosional dapat berakibat panjang buat korbannya. Pelecehan emosional juga bisa disebut bullying.

Biasanya dilakukan oleh seseorang yang menggunakan kekuasaannya untuk mengintimidasi orang yang lebih rendah posisi atau statusnya. Pelaku pelecehan emosional biasanya meminta permintaan tidak masuk akal kepada korbannya. Seperti:

  • Selalu memberi kritikan dengan kata-kata kasar,
  • Meremehkan dan mengabaikan perasaaan korban,
  • Meminta permintaan tidak masuk akal,
  • Menuntut korban untuk menghabiskan waktunya bersama pelaku,
  • Memanipulasi korban hingga merasa bersalah,
  • Selalu menyalahkan sudut pandang korban,
  • Membuat ancaman secara halus atau terang-terangan kepada korban,
  • Mencoba membuat korban mempertanyakan kewarasan dirinya sendiri (gaslighting)
  • Bertindak superior, semena-mena.

Hal yang bisa dilakukan ketika seseorang mendapatkan pelecehan emosional

1. Mencari bantuan.

Bercerita kepada teman atau keluarga yang dipercaya untuk menenangkan kamu. Jika tidak ada teman atau keluarga yang dipercaya, kamu bisa meminta seorang profesional atau bergabung dengan kelompok orang-orang yang mengalami hal serupa untuk memperoleh dukungan.

2. Batasi hubungan dengan pelaku pelecehan emosional.

Memutuskan untuk tidak berhubungan terlalu erat dengan pelaku bisa membuatmu berani untuk membela diri. Tidak lagi mentoleransi sikap pelaku. Jangan turuti kemauan pelaku dan nyatakan sikapmu. Ini agar pelaku pelecehan sadar diri. 

3. Cari lingkungan yang lebih positif.

Daripada terjebak dengan toxic people atau toxic relationship, lebih baik mencari lingkungan positif dan bisa menghargai satu sama lain.

4. Bersosialisasi.

Menarik diri untuk tidak bersosialisasi sama saja akan membuat kita menjadi semakin terpuruk. Jangan mengurung diri. Pilihlah komunitas yang berbeda, yang memberi energi positif. Tidak perlu menceritakan apa yang sedang kita rasakan, cukup nikmati kebersamaan dengan orang yang ingin kita temui sudah membuat pikiran terasa senang.

5. Tidak menyalahkan diri sendiri.

Setiap korban pelecehan emosional cenderung untuk menyalahkan diri sendiri. Hal ini terjadi karena mereka menganggap pantas mendapatkan perlakuan tersebut dan kurangnya self-esteem (menghargai diri sendiri). Daripada terus menerus menyalahkan diri sendiri, lebih baik mencoba untuk self-love (cinta diri sendiri) dan menghadapi luka batin dengan cara yang positif.

6. Fokus pada diri sendiri.

Terapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, makan bergizi, beristirahat yang cukup, serta kelola pikiran negatif dengan baik. Sempatkan diri untuk me time.

Jangan merasa kalau kamu pantas mengalami pelecehan emosional. Cobalah hubungi orang terdekat atau terpercaya untuk mendapatkan bantuan. Hubungan yang sehat tentu didasari oleh rasa hormat serta bisa menerima satu sama lain. Pelecehan emosional termasuk kekerasan dan melanggar hak asasi manusia (HAM). 

FAIRUZ ZAHIRA