Belajar Matematika, Belajar Berempati

Bagaimana jika Matematika bukan hanya tentang angka saja, melainkan merupakan bahasa alam semesta?

Belajar Matematika, Belajar Berempati
Belajar Matematika, Belajar Berempati

Matematika. Mendengar kata ini mungkin yang ada di pikiran kita adalah, “pelajaran tentang hitung-hitungan”, “tentang angka-angka”, “pelajaran yang sulit dan membosankan”. Tetapi, bagaimana jika sebenarnya Matematika tidak hanya sebatas tentang berhitung dan angka saja (apalagi sulit dan membosankan)? Neil deGrasse Tyson, seorang astrofisikawan Amerika Serikat menyebutkan bahwa, “Math is the language of the universe.” Atau “Matematika adalah bahasa alam semesta.” Apa yang membuatnya demikian?

Jika kita lihat secara garis besarnya saja tentu kita hampir tidak bisa melihat bagian apa yang terdapat pada Matematika yang merupakan bahasa. Tapi mari kita perdalam sedikit melalui perbandingan berbagai bahasa dengan contoh sederhana.

Two” merupakan bahasa Inggris. “Dua” merupakan bahasa Indonesia.  Kemudian “2”, adalah bahasa Matematika. Kita dapat menyimpulkan dari sini bahwa Matematika memiliki kaitan dengan ilmu bahasa. Lantas, apa yang membuat Matematika menjadi bahasa alam semesta? Terdapat banyak penjelasan di internet yang dapat menjawabnya. Namun karena menggunakan istilah-istilah sains dan teori pembentukan alam semesta, kita bisa jadi kesulitan memahaminya.

Meskipun demikian, terdapat sebuah kesimpulan sederhana yang dapat kita pahami dari suatu kegiatan yang dibuat oleh gerakan pendidikan @probeducation.id di Instagram. Salah satu kegiatan yang dibuat oleh gerakan ini adalah Gernas Tastaka, atau Gerakan Berantas Buta Matematika. Dalam kelas ini, para orang tua belajar bagaimana caranya mengajarkan Matematika dengan baik dan benar kepada anak-anak sejak dini.

Hal ini berawal dari banyaknya anak sekolah yang sering mengalami kesulitan mengerjakan soal Matematika, bahkan sampai membenci pelajarannya karena tidak paham cara mengerjakannya. Selain itu banyak sekali orang tua atau guru yang keliru mengajarkan Matematika dengan menggunakan cara cepat tanpa memahami konsep dari persoalan yang harus anak-anak selesaikan.

Dalam kelas Gernas Tastaka, para peserta diajarkan untuk memahami tahapan belajar Matematika (yang sebenarnya dapat diterapkan pada pelajaran apapun), yang terdiri dari tahapan konkret, tahapan gambar (visual), dan terakhir abstrak. Secara singkat, tahapan konkret merupakan tahapan bagaimana kita belajar dari benda nyata yang kita bisa cium, sentuh, dengar dan lihat secara langsung. Tahapan gambar adalah gambar dari benda. Sedangkan abstrak adalah bentuk lain dari suatu benda. Tahapan-tahapan ini harus dilalui secara berurutan, agar materi yang diterima oleh peserta didik dapat dipahami dengan baik. Jika anak tidak mempelajari Matematika melalui tahapan konkret, mereka akan sulit membayangi meskipun sudah melihat gambarnya.

Tahapan Belajar Konkret, Gambar, Abstrak

Dalam materi bangun ruang, kita mempelajari bagaimana mencari luas dari berbagai bangun ruang menggunakan rumus-rumus. Salah satu rumus yang kita ketahui adalah rumus mencari luas segitiga, yaitu ½ alas x tinggi. Pertanyaannya adalah, dari mana asalnya rumus segitiga itu?

Persegi Panjang dan Segitiga

Jawabannya, dari rumus luas persegi panjang dibagi 2. Bagaimana cara mengetahuinya? Para peserta diminta untuk mengambil sebuah kertas berbentuk persegi panjang, kemudian diminta untuk melipat dan mengguntingnya ke dalam beberapa bagian, dengan hasil sebagai berikut. Pada gambar 2, dapat diketahui bahwa terdapat dua buah segitiga besar. Hal ini menunjukkan bahwa rumus luas segitiga merupakan rumus persegi panjang yang dibagi dua. ‘Alas’ dan ‘Tinggi’ dalam rumus luas segitiga adalah ‘Panjang’ dan ‘Lebar’ dalam rumus luas persegi panjang.

Kegiatan ini merupakan tahapan konkret mengenal bangun ruang. Dengan memahami ini, ketika peserta didik mengerjakan soal cerita, mereka akan terbayang bagaimana bentuk-bentuk bangun ruang yang terdapat pada soal. Lalu mereka dapat menjawabnya dengan baik dan benar.

Hal yang menarik dari tahapan-tahapan ini adalah bagaimana kita berempati.

Bayangkan seorang teman kita datang curhat tentang masalahnya. Ternyata apa yang ia hadapi pernah kita lalui. Ketika ia sedih, kita kemudian turut ikut sedih juga.

Hal ini merupakan kesimpulan dari bagaimana tahapan konkret, gambar dan abstrak terjadi.

Konkret adalah kejadian yang kita alami di masa lalu. Gambar merupakan kejadian yang kita lihat dalam bentuk video atau ilustrasi. Sedangkan abstrak adalah kejadian yang diceritakan oleh teman kita. Kita menjadi berempati kepada teman kita karena kita dapat membayangkan masalah yang ia alami juga merasakan apa yang ia rasakan.

Sejatinya, berempati merupakan salah satu kunci utama bagaiamana kita dapat menjadi manusia yang baik untuk sekitar. Jika hal ini kita kaitkan dengan ilmu parenting, sepatutnya kita mengenalkan berbagai macam emosi kepada anak sedini mungkin.

Misal, ketika anak kita bermain balon, lalu balon tersebut pecah dan anak menangis, alih-alih berkata, “Cup, cup.. Jangan nangis lagi ya.. Nanti dibelikan balon yang baru.” Sebaiknya kita mengucapkan, “Adik sedih ya balonnya pecah?”

Dengan begini anak dapat mengetahui seperti apa rasa sedih itu. Ia dapat membayanginya yang nantinya akan memahami perasaan sedih. Sehingga ia pada akhirnya dapat berempati baik kepada orang lain maupun diri sendiri.

Kembali ke “Matematika adalah bahasa alam semesta”. Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang dengan latar belakang, suku, budaya, bahasa yang berbeda-beda. Ketika kita melihat penderitaan seseorang, meskipun yang mengalaminya adalah orang Korea, orang Sumatera, orang Skotlandia, kita tidak perlu memahami bahasa yang mereka gunakan untuk turut merasa sedih.

Sejatinya, berempati tidak selalu membutuhkan kata-kata. Melainkan membutuhkan pengertian.