Dari Dusun Kecil Brau, Guru Bukan Sekadar Profesi

Dari Dusun Kecil Brau, Guru Bukan Sekadar Profesi
Desa Mitra Dusun Brau

Dalam sebuah perjalanan dari dusun kecil Brau, Batu Jawa Timur. Terdapat kondisi yang jarang sekali ditemui di kota. Terdapat sebuah sekolah yang bernama SD/SMP Satu Atap dimana penduduk dusun Brau menempuh pendidikan. Sesuai penyebutannya siswa jenjang SD dan SMP dijadikan satu dalam satu gerbang sekolah. Berdiri di area rawan bencana tanah bergerak membuat kondisi sekolah sering mengalami masalah infrastruktur. Seperti lantai yang retak mengakibatkan adanya air yang muncul dari lantai saat hujan, beberapa bagian plafon banyak yang rusak sehingga air sering masuk ketika hujan dan mengganggu proses pembelajaran.  

Berkesempatan berkunjung menjadi pengajar selama beberapa hari di sekolah SD/SMP Satu Atap dalam program Desa Mitra mejadikan saya mengerti arti pengabdian yang sebenarnya. Keinginan yang tulus dalam berbagi ilmu dengan siswa membuat saya mengerti bahwa sejatinya menjadi guru adalah membimbing, membentuk, dan menyempurnakan. Terdapat rasa kepuasan tersendiri ketika siswa yang tidak tahu menjadi tahu.

Namun tanpa kita sadari profesi guru kini menjadi profesi yang kurang diminati oleh masyarakat. Masyarakat menilai bahwa profesi guru kurang menjanjikan jika dilihat dari strata sosial dan sisi finansialnya. Padahal sejatinya guru bukan hanya sekadar profesi. Guru bukanlah seorang tukang atau pekerja biasa, tetapi seorang intelektual yang mampu mendidik dan harus menyesuaikan diri dengan situasi maupun persoalan yang dihadapi.  

Guru bukan hanya sekadar profesi, lebih dari itu terdapat unsur pengabdian di dalamnya. Guru memang bukan satu satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan. Tetapi guru tetap menjadi titik sentral dalam proses pendidikan. Tanpa guru, proses pendidikan akan timpang dan tidak dapat berlangsung dengan baik. Jika saja menjadi guru dimaknai masyarakat sebagai konsep pengabdian maka pemahaman masyarakat tentang guru sebagai profesi biasa akan berbeda. Guru merupakan aktor intelektual, ia sebagai provokator yang bergerak dibalik layar. Sang guru belajar dari dirinya sendiri, ketika pemimpin belajar pada semua orang dan terinspirasi oleh matahari, air, api, atau alam semesta, sedangkan pembelajar akan belajar pada idolanya tokoh-tokoh yang dikaguminya (Salim I & Krisno B A, 2012).

Bagi seorang guru dalam melakukan pengabdian hendaknya didasarkan atas dorongan dan panggilan dari hati nurani. Selain memiliki rasa pengabdian, menjadi guru tidak hanya sekadar memiliki kemampuan membimbing dan menyampikan materi namun juga mendidik. Esensi dari mendidik adalah menyampaikan apa yang tidak ada dalam buku.

“Mendidik bukan hanya berjuang mencapai keunggulan, tetapi menyempurnakan apa yang kurang sempurna, membentuk pola pikir yang membangun, sehingga pembelajar dapat terus berkembang”

Memilih menjadi seorang guru berarti memilih memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang besar dibandingkan sekadar keterpaksaan diri. Memilih menjadi seorang guru bukan perkara mudah yang membutuhkan pemikiran yang panjang dan pertimbangan yang matang, karena guru bukan sekedar profesi.

Referensi 

HJ Sriyanto. 2006. Siapa Bilang Jadi Guru Itu Gampang. Kompas.Yogyakarta

Salim, I & Krisno, B,A. 2012. Menjernihkan Makna Pengabdian Dan Profesionalitas Dalam Meningkatkan Peran Guru https://aguskrisnoblog.wordpress.com (Diakses: 26-10-2021)

Suwardi, B. J. 2020. Membangun Impian Literasi di SMPN 8 SATAP Sintang, Sebuah Sekolah Terpencil di Kalbar. https://birokratmenulis.org/ (Diakses: 26-10-2021)