Bupati Berprestasi: Optimalkan Sinergi Antara Digital Natives dan Digital Immigrants

Bupati Berprestasi: Optimalkan Sinergi Antara Digital Natives dan Digital Immigrants
Kang Yoto (sumber: news.detik.com)

Tokoh Pendidikan dan Bupati Berprestasi Dr. Suyoto, MSi. hadir sebagai narasumber pada Webinar Pendidikan Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Kamis (28/10). Webinar ini diadakan secara daring melalui Zoom dan YouTube SahabatGuru dan diikuti lebih dari 3.500 guru-guru Simalungun.

Dr. Suyoto, M.Si. menyampaikan refleksi hakikat pendidikan tahun 2045. Ada tiga hal yang menurut saya penting untuk disadari bersama terkait digital learning culture untuk kepentingan pendidikan jangka panjang. Pertama, pendidik diminta untuk memiliki multi-vision. Kedua, pendidikan selalu berhubungan dengan peran lama dan baru dalam kehidupan. Ketiga, pendidikan diminta untuk lebih siap dalam mengantisipasi perubahan di kehidupan ini.

Sebuah pepatah mengatakan “Jika ingin panen 4 bulan lagi, tanamlah jagung. Jika ingin panen 3-4 tahun lagi, tanamlah kelapa. Jika ingin panen 20 tahun lagi, tanamlah jati. Jika ingin panen 25 tahun lagi, tanamlah manusia. Untuk mempersiapkan manusia yang berkualitas, sistem pendidikan harus diperhatikan betul-betul,” ucap Bupati Berprestasi ini.  

Jika menjadi pialang/trader, yang kita dilihat adalah menit ke menit (trends). Jika menjadi penjual pakaian, yang kita dilihat yaitu tren beberapa bulan ke depannya. Jika ingin memproduksi obat, yang kita dilihat dan diprediksi adalah 8-15 tahun ke depan. Jika ingin bisnis energi, kita harus melihat 25-50 tahun ke depan. Lalu, bagaimana dengan pendidik? Menurut saya, pendidik harus menguasai ilmu sebagai penjual pakaian, pebisnis obat, dan pebisnis energi, yaitu mampu melihat kemungkinan yang ada pada jangka pendek dan jangka panjang. Keduanya perlu dipertimbangkan.

“Guru harus tahu betul pergeseran dalam struktur ekonomi (bentuk kemasyarakatan). Yang awalnya sistem berfokus pada jumlah tenaga kerja, lalu beralih fokus pada produksi massal, kemudian fokus pada efisiensi. Tak berhenti di situ, fokus selanjutnya beralih pada pengurangan cost. Saat ini, fokusnya sudah beralih lagi pada personalisasi (big data dan technology literacy). Tak mengherankan jika makin hari makin berkembang sistem robotik, AI, IoT, dan 3D.

Masa pandemi mempercepat proses digitalisasi dan lahirnya digital economy secara cepat, seperti di bidang tourism, industry, e-commerce, education learning, agriculture, e-banking, dll. Tak mengherankan, makin maju zaman, makin banyak jenis pekerjaan baru yang muncul, tetapi makin banyak pula jenis pekerjaan yang hilang. Jenis-jenis kemampuan yang dibutuhkan juga berubah dan jadi lebih beragam.

 “Skills yang paling dibutuhkan di dunia kerja dalam kurun waktu lima tahun mendatang, yaitu kritis dan mampu memecahkan masalah yang kompleks, global mindset, punya jiwa kepemimpinan, kecerdasan emosional, serta mampu menguasai teknologi,” jelas Suyoto.

Orang desa biasanya mendefinisikan anaknya sukses ketika bisa dapat kerja lalu menikah. Orang kota biasanya memandang anaknya sukses ketika sudah lulus kuliah dan mendapatkan karier cemerlang. Jika dahulu orang tua bisa mendefinisikan makna sukses yang pasti untuk anak-anaknya, maka sekarang sudah tidak bisa lagi. Akan banyak generasi yang merintis usaha, awalnya jadi bos, lalu tidak jadi bos, kemudian jadi bos lagi. Banyak muncul ide-ide kreatif oleh kaum muda. Alur perjalanan kariernya pun bisa jadi fluktuatif. Harapannya, guru bisa merefleksikan diri agar jangan sampai jadi guru dari murid yang gagal.

“Ketika dulu saya masih jadi bupati, saya keliling dan tanya ke anak-anak. Ada banyak murid di suatu tempat yang mengungkapkan cita-citanya ingin jadi seorang guru, dokter, dan polisi. Saya anggap, mereka hanya berpatokan pada cita-cita formal, yang pada hakikatnya kesempatan kerjanya saat ini tak lebih dari 2,5%. Saya merasa mereka bisa jadi orang yang gagal. Saat ini, sudah tak relevan menanyakan ‘apa cita-cita kalian?’. Seharusnya, tanyakan ‘bagaimana cara kalian hidup bahagia dan membahagiakan orang lain?’. Menurut saya, pertanyaan inilah yang relevan untuk ditanyakan pada murid-murid,” tutur Suyoto.

Sebagai orang tua, kita harus sadar jika anak-anak didik kita adalah digital natives, dan kita adalah digital immigrants. Antar-keduanya pasti ada gap. Tugas kita adalah memperkecil gap itu dan mencipta anak-anak didik yang berkarakter dan berkemampuan mumpuni. Ingatlah kata mutiara dari Matthias Alexander yang berbunyi “people do not decide their futures, they decide their habits and their habits decide their futures”.

ANIS SAFITRI