Inspiratif! Tanamkan Karakter Melalui Joyful Learning di Era Digital

Inspiratif! Tanamkan Karakter Melalui Joyful Learning di Era Digital
Dr. Das Salirawati, M.Si. pada Webinar Pendidikan Grobogan (sahabatguru)

SahabatGuru - Pembicara inspiratif yang hadir saat Webinar Pendidikan Kabupaten Grobogan, ialah Dosen Praktisi Joyful Learning dan Pakar Asesmen Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr. Das Salirawati, M.Si. Beliau menyampaikan materi terkait “Penanaman Karakter Melalui Joyful Learning di Era Digital”. Webinar yang diikuti lebih dari 4.000 guru-guru di Kabupaten Grobogan ini dilaksanakan secara virtual melalui Zoom dan YouTube SahabatGuru.  

Untuk membuka paparannya, Dosen Praktisi Joyful Learning ini menyampaikan jika anak laksana buku yang tak pernah habis dibaca. Setiap saat halamannya dapat bertambah dan berubah. Oleh karena itu, segala hal yang menyangkut pendidikan anak hendaknya dilakukan bertahap, terus-menerus, berkesinambungan, tak terkecuali dalam pengembangan karakter (character building). Kata-kata “pendidikan sepanjang hayat” dan pendidikan anak usia dini” sesungguhnya tak lain untuk menegaskan urgensi perhatian terhadap pendidikan anak itu sendiri.

Anak-anak usia dini seperti anak PAUD, TK, dan SD pada dasarnya bukanlah orang dewasa mini. Mereka memiliki keterbatasan dan dunia sendiri yang khas, sehingga untuk menghadapinya membutuhkan kesabaran, pengertian, serta toleransi mendalam. Selain itu, dunia mereka adalah dunia bermain, dunia yang penuh kegembiraan, spontanitas, dan menyenangkan. Padahal, mereka sedang dalam tahap tumbuh secara fisik dan berkembang secara psikologis. Salah satu proses pembentukan tingkah lakunya yaitu dengan meniru.

Anak-anak memiliki keterbatasan berpikir. Mereka belum mampu mencerna secara mendalam konsep tentang karakter. Jadi, kita harus hati-hati dalam menanamkan karakter pada anak agar mereka tidak tertekan. Salah satu yang bisa dilakukan yaitu mencipta suasana kondusif dan menyenangkan, tetapi bermuatan pendidikan karakter.

Fakta yang dapat ditemukan saat ini yaitu banyaknya anak-anak yang mengatakan belajar online itu tidak menyenangkan. Mereka tak bisa bertemu teman-temannya dan bermain. Bahkan, ada yang menangis karena merindukan guru dan temannya. Hal ini wajar karena biasanya anak PAUD, TK, dan SD sangat dekat dengan guru-gurunya. Penyebab belajar online makin tidak menyenangkan yaitu dengan langkah guru yang selalu memberikan tugas dan model pembelajaran yang kurang variatif. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dan terobosan cara mengajar daring yang menyenangkan untuk mengatasi kejenuhan siswa. Selain pembelajaran menyenangkan, tak lupa guru harus menyisipkan pendidikan karakter.

Joyful learning bisa jadi salah satu solusi untuk para guru. Joyful learning melakukan kegiatan belajar dengan suka cita. Anak akan melalui waktu tanpa terasa. Akan ada semacam energi tambahan setiap saat karena mereka tak menganggap ini sebagai beban.

Contoh yang bisa dilakukan yaitu mengemas pembelajaran dengan menggunakan aktivitas menyenangkan yang mampu membangkitkan otak untuk merespons dengan baik. Menciptakan dan memberikan permainan dengan variasi warna dan bentuk, mempelajari sesuatu melalui puisi, lagu, teka-teki, atau sosio drama. Tentunya, tak lupa disisipkan dengan nilai-nilai karakter karena setiap pembelajaran harus mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Nah, untuk anak PAUD, TK, dan SD, penerapan metode mendongeng masih cukup relevan meski saat ini kita berada pada era digital.

Kenyataannya, jika ada seorang anak nakal, orang tua mudah menyalahkan gurunya. Padahal, 70% waktu anak adalah di rumah dan lingkungan masyarakat. Di sisi lain, banyak permasalahan yang sering ditimbulkan oleh peserta didik, seperti kecanduan dan kecanggihan saat menyontek, tawuran antarpelajar, dan perilaku tak santun. Sehingga, tak hanya keterampilan 4C yang wajib dikuasai di abad 21 ini, tetapi juga karakter terpuji harus ditanamkan sebagai bekal di masa depan. Sehingga, peserta didik tak hanya menjadi school of knowledge (kumpulan pengetahuan dari sekolah), tetapi juga memahami dan meresapi makna konsep keilmuan sampai ke hati agar menjadi milik diri (inner of knowledge). Guru juga harus menyadari bahwa tidak cukup untuk transfer of knowledge saja, namun juga transfer of value dan transfer of skill.

Oleh karena itu, guru lebih tepat disebut sebagai pendidik, bukan pengajar. Jika pengajar hanya berfokus untuk mengubah dari tahu menjadi tahu, pendidik melakukan tugas lebih banyak daripada itu. Pendidik juga mengubah perilaku yang kurang baik menjadi baik. Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional yaitu mengubah 3H (Head/olah pikir, Heart/olah hati, Hand/olahraga).

ANIS SAFITRI