Era Pendidikan Kreatif: Ide Menggantikan Fakta

Kita hidup dalam dunia yang semakin kompleks, dengan masalah yang semakin rumit. Satu dengan lainnya saling terkait. Kondisi ini membutuhkan solusi kreatif. Kemampuan individu harus ditingkatkan agar membuka peluang untuk mengeksplorasi kreativitas mereka sendiri.

Era Pendidikan Kreatif: Ide Menggantikan Fakta
Labirin [Peggy dan Marco Lachmann-Anke-Pixabay]

DUNIA sedang bergerak dari Era Informasi ke Era Konseptual. Banjir informasi yang kita alami sekarang tidak banyak gunanya manakala kita tidak dapat menyaring dan menjadikan informasi sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan nyata kita. Banyaknya informasi itu harus diolah dan dirangkai menjadi konsep yang bermanfaat. Berkat internet dan kemajuan teknologi, proses kreatif itu sekarang bisa hanya berlangsung di ujung jari.

Sekarang ide-ide menggantikan fakta. Standar pendidikan lama harus beradaptasi untuk menjadi lanskap yang menganut budaya kreativitas. Tantangannya adalah bagaimana membekali peserta didik dengan daya kritis dan kemampuan kreatif untuk memanfaatkan informasi yang tersedia berlimpah ruah. 

Kreativitas adalah masalah besar di kelas abad ke-21. Banyak negara memasukkan pengajaran kreatif dalam kurikulum nasionalnya. Bahkan negara-negara seperti Singapura dan Finlandia yang ranking pendidikannya selalu teratas mengakui perlunya lebih banyak memasukkan kreativitas di sekolah mereka.

Kita hidup dalam dunia yang semakin kompleks, dengan masalah yang semakin rumit. Satu dengan lainnya saling terkait. Kondisi ini membutuhkan solusi kreatif. Kemampuan individu harus ditingkatkan agar membuka peluang untuk mengeksplorasi kreativitas mereka sendiri. Caranya dengan mulai menggerakkan pendidikan kreatif. 

Apa itu Pendidikan Kreatif?

Pendidikan Kreatif didasarkan pada premis bahwa kreativitas harus menjadi unsur utama dalam sistem pendidikan. Pendidik perlu memupuk pengalaman yang berkelanjutan dari keterlibatan kreatif dengan beragam jenis pembelajaran pada siswa. 

Pengajaran kreatif bertumpu pada dua hal, yakni:  

1. Mengajar dengan cara yang baru dan bermanfaat untuk mendorong pertumbuhan siswa mengembangkan pemikiran dan tindakan orisinal. Pengajaran kreatif berfokus pada metode yang digunakan guru untuk menyampaikan pembelajaran dan efek keseluruhan metode tersebut terhadap siswa serta apa saja yang dihasilkan dari penerapan metode tersebut. 

2. Dalam proses pengajaran kreatif, guru menginspirasi minat peserta didik kemudian mengarahkan siswa untuk menemukan masalah sendiri secara kreatif. Atau guru menyajikan masalah spesifik dan meminta peserta didik menggunakan segala macam sumber daya yang tersedia untuk menemukan solusi yang memuaskan terbaik secara kreatif. 

Pengajaran Kreatif sangat bergantung pada hubungan guru-siswa yang kondusif dan dimotori oleh peran guru yang kreatif. 

Munculkan kreativitas di kelas

Tumbuhnya minat tentang pengajaran kreatif di kalangan guru, pemimpin sekolah, akademisi dan pemerintah sebagian didorong oleh keyakinan yang berkembang bahwa ekonomi global yang bergerak cepat sekarang ini menuntut pekerja yang lebih fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perubahan yang konstan, ketimbang pekerja jalur karir tradisional. Dunia sekarang penuh dengan temuan dan kejutan. Akan banyak profesi baru yang muncul dalam dua puluh tahun mendatang. 

Sayang sekali, hanya sedikit guru yang menyebut diri mereka kreatif. Ini mungkin karena mereka menganggap bahwa kreativitas selalu berbasis seni; yang berhubungan dengan seni dalam pikiran mereka, seperti memainkan alat musik, melukis, berperan dalam drama, menulis lagu, puisi, atau cerita yang unik. Ini berbeda dengan definisi kreativitas yang lebih luas. 

Kreativitas, seperti dimaksud Arthur Koestler (1905-1983), psikolog, pemikir dan penulis Hungaria-Inggris, adalah kemampuan untuk membuat hubungan antara dua ide atau konteks yang sebelumnya tidak terkait. Istilah Koestler: bisosiasi. Proses kreatif ini mengandung unsur perbandingan, abstraksi dan kategorisasi, analogi (persamaan) dan metafora (permisalan). Proses ini bisa dimulai di kelas.

Biarkan guru menjadi kreatif

Untuk meningkatkan kreativitas murid-murid, para guru perlu membuka prakonsepsi mereka tentang apa artinya menjadi kreatif sebagai bagian dari proses pembelajaran profesional.

Guru-guru perlu diberi kesempatan untuk berinovasi dan berimprovisasi oleh para pemimpin sekolah dan pengelola pendidikan. Memang ada risiko, yakni budaya dan kurikulum sekolah yang ada harus terbuka untuk terus diuji. Dievaluasi. Setelah diberi izin dan dukungan ini, guru dapat mengembangkan lingkungan belajar kreatif yang melibatkan siswa mereka. 

Inovasi akan muncul dari sistem yang menghargai kebebasan. Sebaliknya, sistem yang otoriter hanya menghasilkan manusia-manusia korup dan penjilat. 

JOTZ