Menanamkan Karakter pada Anak di Masa Pandemi

Menanamkan Karakter pada Anak di Masa Pandemi
Dr. Suyoto, M.Si dan Ahmad Baidhowi AR dalam 'Webinar Pendidikan Kabupaten Jeneponto'.

SahabatGuru mengadakan Webinar Pendidikan Kabupaten Jeneponto (7/10) yang menghadirkan dua tokoh pendidikan hebat yaitu Dr. Suyoto, M.Si sebagai tokoh pendidikan yang juga merupakan bupati berprestasi  dan Ahmad Baidhowi AR yang juga merupakan tokoh pendidikan dan ketua Yayasan Sukma untuk mengisi webinar dengan tema mendidik dengan hati di masa PJJ dan Serba Digital.

Inti tujuan dari pendidikan Indonesia adalah membangun manusia dengan etos ke-Indonesiaan, kemandirian, dan keunggulan namun saat ini terdapat perubahan yang berkaitan dengan ekosistem digital. Charles Darwin mengungkapkan bahwa orang yang mampu bertahan bukanlah orang yang kuat melainkan orang yang dapat mengikuti perubahan.

Pandemi COVID-19 mempercepat dalam banyak sehingga dalam menghadapinya menjadi penuh tantangan dan menarik. Selain itu, COVID-19 juga mempercepat dalam ekonomi digital yang membuat semua orang mau tidak mau harus beradaptasi dengan situasi saat ini. Sekarang dalam komunikasi dan berkoneksi bisa menjadi lebih cepat, terjangkau, dan lebih luas. Sedangkan pada aktivitas ekonomi dan transkaksi finansial berubah menjadi cashless. Sedangkan pada proses produksi berubah dalam segi konsistensi, intensitas, dan keamanan. Pada kepemerintahan dan interaksi sosial juga mengalami perubahan yang perlu menyiapkan untuk  transparansi, partisipasi, dan kolaborasi.

Profesor Klau Schwab mengungkapkan bahwa revolusi industri 4.0 membawa berbagai dampak pada kemampuan manusia yang membuat manusia mengubah cara hidup, cara bekerja, cara berhubungan dengan satu sama lain, dan cara belajar. Masa pandemi ini membuat manusia harus berhadapan dengan ketidakstabilan, ketidakpastian, kerumita, kerancuan, dan konektivitas hiper, sehingga diperlukan visi, pemahaman, kejelasan, dan hadir utuh sadar penuh agar tetap bisa bahagia.

Selain itu, adanya ketidakselarasan antara kesadaran spatial dengan kesadaran sosial. Pendidikan harus bisa memaknai situasi ini sehingga dapat membuat anak menjadi mandiri, beradaptasi, dan tetap berkontribusi. Peran pada pendidikan untuk membantu, menyediakan proses, dan membawa kehidupan nyata. Selain itu, perlu untuk membangun kemandirian ke-Indonesiaan dan keunggulan, sehingga tidak kehilangan integritas dan jati diri bangsanya.

Pendidikan harus bisa melahirkan 4 kualitas kesadaran yaitu spiritual, spasial, sosial, dan kesejarahan. Sehingga dengan memiliki kesadaran ideal tersebut dapat menerapkan dan menjadi bukti nyata melalui kontribusi positif. Hal ini dapat terjadi dengan adanya integritas yang memiliki janji teguh pada janji kebangsaan. Dr. Suyoto, M.Si selalu membanyangkan anak-anak sebagai pembelajar sejati yang dimana selalu menerima keadaan dan memaknai keadaan dengan cerdas, selalu menemukan cara untuk tumbuh, serta selalu menemukan cara untuk hidup lebih baik secara mandiri dan bersama.

Cara untuk memiliki kemandirian, mampu bertahan, dan memiliki keunggulan harus diawali dengan memiliki growth mindset. Anak yang memiliki growth mindset tidak pernah menghindar ketika berhadapan dengan tantangan, tidak pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan, tidak pernah membuang segala usaha dan menjadikannya sebagai peluang, kritik yang didapat bukan dianggap sebagai serangan melainkan informasi, dan ketika melihat kesuksesan orang lain tidak merasa terancam namun merasa terinspirasi.

Saat ini perlu juga merujuk pada 4 pilar pendidikan berdasarkan UNESCO di situasi baru yang meliputi learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk terampil melakukan sesuatu), learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Peran guru dalam penerapan pilar ini sebagai fasilitator, intruktur, dan menjadi orang yang commander.

Guru perlu untuk mengajar muridnya menerima keadaan, hadir penuh, nyambung dengan realitas terdekat tapi juga tepat dengan realitas terjauhnya, nyambung dengan sumber yang relevan, serta terus mandiri dan berinovasi. Hal ini dapat dilakukan dengan dimulai dari memulai bersama, memperluas kehadiran masa depan, menyelami sistem bersama, memiliki tekad bersama,dan menghadirkan masa depan bersama.

Tiga pilar utama dalam membangun organisasi pembelajar adalah memiliki kapabiltas inti untuk belajar yang meliputi aspirasi (visi bersama dan keunggulan pribadi), percakapan generatif (pembelajaran tim dan model mental), serta memahami kompleksitas (berpikir sistem). Dari kemampuan memimpin, anak mampu memahami perspektif orang lain, mampu menciptakan sesuatu, mengimplementasikan, menjaga konektivitas, dan meyakinkan berbagai pihak untuk melakukan perubahan positif secara bersama-sama.

Dr. Suyoto, M.Si mengungkapkan bahwa menanamkan literasi digital, numerasi, dan karakter di Indonesia sangat penting sehingga anak akan memiliki kemampuan komunikasi, kreatif dan inovatif, berpikir kritis, berkolaborasi, hidup dengan bahagia dan sehat, serta selalu siap untuk menghadapi bencana.

Ahmad Baidhowi AR mengungkapkan bahwa untuk menanamkan karakter pada anak perlu dimulai dari smart teacher, yang dimana mampu memberikan layanan optimal kepada seluruh anak dengan berbagai perbedaan bakat, minat, dan kebutuhan belajar. Selain itu, guru juga mampu meningkatkan secara signifikan kapabilitas yang dimiliki anak sehingga dapat beraktualisasi diri sepenuhnya, serta mampu untuk membangun karakter/kepribadian yang kuat, kokoh, dan mantap pada diri siswa.

Ketua Yayasan Sukma mendefinisikan karakter sebagai kekuatan moral dan berkonotasi ‘positif’. Orang berkarakter adalah seseorang yang memiliki kualitas moral positif. Karakter juga bisa disebut sebagai akhlah yang memiliki arti sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat atau berperilaku.

Akhlak erat dengan kebiasaan yang sering dilakukan dalam sehari-hari. Kebiasaan pasti terdiri dari 3 komponen yang menyertai yaitu pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Sebagai muslim, terdapat beberapa sifat yang dapat dijadikan pedoman yaitu tabligh (menyampaikan), siddiq (jujur), fathonah (cerdas), dan amanah (bisa dipercaya).

Tuntutan di dunia kerja meliputi pada kompetensi dan karakter. Kompetensi dapat dipelajari, namun karakter akan sulit dibangun jika tidak terdapat pondasi yang kuat. Selain itu, komunikasi juga penting karena data berdampak pada aspek kognitif, afektif, dan behavioral. Komunikator yang menarik adalah orang yang berbicara tentang kesamaan dengan siswa, membicarakan hal-hal yang merupakan kesukaan siswa, membuat siswa merasa penting, menginat semua nama siswa, dan menggunakan komunikasi verbal yang menyenangkan. Menjadi komunikator menarik dapat membuat penampilan menjadi lebih simpatik dan Nampak memiliki abilitas.  

Pembelajaran interaktif adalah guru memberi ruang kepada siswa untuk mengalami, mencona, merasakan, dan menemukan sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan humor, permainan, role play, kuis, dan webquest.

Di akhir sesi penyampaian materi, Ahmad Baidhowi AR memberikan closing statement yaitu “The change starts from within inside-out!” yang memiliki arti bahwa apapun yang bapak/ibu guru ajarkan kepada anak, penumbuhan karater dapat ditumbuhkan dari hal kecil dan sepele bisa dimulai dari sekarang meskipun dilakukan secara daring.