Meningkatkan Numerasi dan Literasi di Era Digital

Meningkatkan Numerasi dan Literasi di Era Digital
Dr. Ariyadi Wijaya, M.Sc dan Fourgelina dalam Webinar Pendidikan Kabupaten Bengkayang.

SahabatGuru - Webinar Pendidikan Kabupaten Bengkayang (5/10) kali ini menghadirkan Dr. Ariyadi Wijaya, M.Sc, Pakar Strategi Pembelajaran Matematika UNY, Reviewer Framework AKM dan Fourgelina, Program Manager Yayasan Literasi Anak Indonesia sebagai narasumber yang akan membahas mengenai pengembangan numerasi di Era Digital dan strategi program literasi dasar bagi anak di Era Digital.

Terdapat 2 hal yang penting dalam sember daya manusia yaitu literasi dan numerasi. Pada numerasi seharusnya lebih menekankan pada proses berpikir tingkat tinggi. Namun sayangnya, di dunia nyata kemampuan berhitung manual untuk masalah sederhana lebih diutamakan.

Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan memanfaatkan teknologi digital yang dimana perlu untuk cakap bermedia, menggunakan seara teknis dan secara bijak dalam penggunaannya. Selain itu, jika di kedepannya manusia akan bersaing dengan komputer, jangan berfokus pada kemampuan kalkulasi melainkan berfokus untuk mengembangkan reasoning atau penalaran.

Dr. Ariyadi Wijaya, M.Sc mengungkapkan bahwa manusia seharusnya bukan bersaing dengan komputer melainkan dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung atau alat bantu manusia dalam bernalar. Pada pembelajaran abad 21 hal yang diutamakan adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis, meningkatkakn kreativitas, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan kemampuan berkolaborasi. 

Sehingga pembelajaran yang sesuai adalah dengan memanfaatkan teknologi yang dimana dapat meningkatkan literasi digital siswa, meningkatkan kemampuan pengetahuan dasar (matematika, literasi, sosial, dll), meningkatkan lintas keilmuan dengan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti kreativitas, inovasi, pemecahan masalah, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi.

Berdasarkan data dari Measuring Innovation in Education yang dilakukan oleh OECD 2013 dan 2014, Indonesia menduduki posisi ketiga di Internasional dalam hal inovasi. Indonesia dinilai memiliki progress yang sangat pesat selama 10 tahun terakhir dalam perkembangan pengajaran di kelas, yang dapat dilihat dari pemanfaatan buku dan teknologi.

Pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran meliputi berbagai bentuk seperti paket pembelajaran, radio dan televisi pendidikan, serta sumber belajar daring. Platform daring memuat konten pembelajaran untuk belajar mandiri, pembelajaran tatap muka virtual, dukungan diskusi daring untuk orang tua dan siswa, dan paket belajar yang sesuai kebutuhan siswa masing-masing.

Terdapat beberapa fungsi teknologi dalam pembelajaran yaitu meningkatkan motivasi belajar karena dengan menggunakan teknologi menjadi lebih menarik perhatian, yang kedua adalah teknologi merupakan alat bantu yang efisien dan dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran, dan yang terakhir adalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir karena adanya eksplorasi pada anak.

Selain numerasi, literasi juga merupakan hal yang fundamental bagi anak sehingga perlu untuk membangun pondasi yang kuat. Kemampuan membaca sangat berguna di kehidupan sehari-hari dan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Sehingga, perlu untuk memulai dan membiasakan sejak dini agar memiliki pondasi yang kuat.

Pembelajaran literasi dasar yang bermakna perlu dilakukan dengan mengadakan kegiatan yang dirancang untuk berpusat pada siswa yang dimana siswa dapat berinteraksi, berkomunikasi, menikmati proses membaca/menulis, dan mendapat umpan balik dari guru. Materi pembelajaran yang diberikan harus sesuai dengan level keterampilan siswa, namun tetap ada diferensisasi serta tidak satu materi untuk semua. Selain itu, materi yang diberikan juga dapat bermanfaat dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Proses belajar membaca membutuhkan pengembangan dan pembiasaan motivasi membaca, adanya pemahaman tentang bunyi huruf serta mengidentifikasi huruf yang berhubungan dengan membaca suku kata dan kata. Selain itu, kemampuan untuk menguraikan kata-kata yang tidak diketahui juga dibutuhkan. Kelancaran dalam membaca dan pengembangan strategi pemahaman untuk mendapatkan makna dari membaca serta pengetahuan dasar dan kosakata yang cukup untuk mendukung pemahaman.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan program membaca berimbang yang terdiri dari 6 komponen yaitu yang pertama adalah fonik dan kesadaran fonemik yang meliputi poster cerita dan buku huruf. Yang kedua adalah mebaca dan menulis bersama yang menggunakan buku besar. Yang ketiga adalah membaca terbimbing yang menggunakan buku bacaan berjenjang. Dari ketiga komponen ini diharapkan dapat mengembangkan keterampilan membaca dengan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.

Komponen yang keempat adalah membaca interaktif dengan buku cerita bergambar. Lalu yang kelima adalah lingkungan kelas literat dengan poster dan hasil karya. Komponen yang terakhir adalah membaca mandiri dengan menyediakn sudut baca dan buku cerita. Dari ketiga komponen ini, diharapkan dapat mengembangkan kegemaran, kebiasaan, dan budaya membaca.

Program membaca berimbang di komponen membaca interaktif diharapkan dapat menumbuhkan minat siswa dalam menyimak, berpartisipasi secara lisan dalam tanya jawab dan diskusi serta bermain peran. Selain itu, juga dapat mengembangakn kebiasaan membaca, kemampuan berpikir kritis, dan interaksi antara guru dan siswa.

Fourgelina mengungkapkan bahwa dari pandemi dapat beberapa pelajaran yang diambil seperti guru dan orang tua perlu berkolaborasi, ruang belajar tidak hanya di sekolah, kegiatan pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat kesiapan anak, dan penilaian formatif untuk melihat progress pembelajaran siswa.

Tujuan akhir dari menggunakan strategi membaca adalah meningkatkan kemampuan berbahasa reseptif (menyimak, membaca, dan memirsa) siswa dan meningkatkan kemampuan berbahasa produktif (berbicara, berdiskusi, mempresentasikan, dan menulis) siswa.

Untuk menjaga kebiasaan dan keterampilan membaca siswa dapa dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan literasi dasar bagi siswa, adanya akses ke berbagai jenis genre buku bacaan yang berkualitas dan sesuai dengan usia serta kemampuan siswa, adanya konsistensi dalam pelaksanaan literasi, melakukan kegiatan literasi dasar yang didasari oleh kemampuan dan kebutuhan siswa, membangun kolaborasi dengan orang tua, dan melakukan pemetaan siswa secara berkala. 

“Pembelajaran digital tidak harus menggunakan TIK tetapi menyiapkan keterampilan berpikir kritis dan adaptif.” tegas Dr. Ariyadi Wijaya, M.Sc sebagai closing statement.