Pendidikan Jiwa Harus Diterapkan Agar Guru Bisa Bahagia

Sebelum turun langsung ke peserta didik, pendidikan jiwa juga sangat berpengaruh pada kebahagiaan para guru untuk bisa diteruskan kembali ke peserta didik.

Pendidikan Jiwa Harus Diterapkan Agar Guru Bisa Bahagia
Pendidikan Jiwa yang disampaikan oleh Prof. Dr. M. Suyanto, MM

SahabatGuru - Pendidikan yang sampai saat ini menjadi aspek penting yang harus didapatkan oleh seluruh manusia, tak terkecuali kita sebagai warga negara Indonesia baik guru maupun peserta didik. Tak jarang, banyak materi-materi pembelajaran yang sangat related dengan keadaan sekitar. Namun, pendidikan tentu bukan hanya sekadar transfer pengetahuan dari mulut ke mulut, dari otak ke otak, dan satu waktu ke waktu, tetapi butuh proses panjang yang tidak sekedar konsep tetapi juga hasil lainnya yang tidak dapat diukur ataupun dilihat secara kasat mata, contohnya seperti pendidikan jiwa.

Menurut Prof. Dr. M. Suyanto, MM, Rektor Universitas Amikom dan pakar pendidikan, sebenarnya tujuan pendidikan di Indonesia bisa mengikuti tujuan pendidikan di Finlandia yang sangat mirip dengan konsep pendidikan dari K. H. Dewantara yaitu mengedepankan siswa selamat dan bahagia setinggi-tingginya.

Mengapa pendidikan jiwa tersebut menjadi sangat penting bagi guru dan murid? Jawaban sederhananya karena dalam pembelajaran tidak sekedar teori yang diajarkan tetapi lebih luas dari itu; attitudenya, sikap, karakter, hati yang baik, dan juga untuk mencapai sebuah kebahagiaan. 
Pendidikan jiwa sendiri dibagi menjadi 4, yaitu:

1. Pendidikan mengarah pada manfaat bagi tubuh
Seperti contohnya bahagia ketika bisa tersenyum, bahagia bisa mendapatkan makanan, minuman, dan melahapnya dengan baik dan dengan cara yang sudah dididik. Pendidikan ini juga merupakan pendidikan jiwa yang memperoleh kebahagiaan yang hanya sekejap serta sementara.

2. Emosi/nafsu amarah
Pendidikan jiwa yang berasal dari kesenangan diri, mengejar sesuatu secara habis-habisan, dan menjadi pendidikan jiwa yang mengarah kepada kebahagian jangka pendek. Dalam ranah pendidikan, emosi bisa dikatakan sebagai Nglakoni atau piskomotorik.

3. Kehendak/hawa nafsu

Pendidikan jiwa ini lebih menekankan kepada kkebahagiaan jangka menengah, di mana hasil pendidikan yang di dapatkan tidak sekedar dari belajar konsep tetapi juga mengimplementasikannya kepada hobi lain yang bermanfaat dan menghasilkan prestasi yang baik. Pendidikan jiwa ini lebih mengarah kepada kebahagiaan jangka menengah.

4. Pikiran
Guru bisa belajar pendidikan jiwa ini dengan cara berkontribusi untuk kemajuan para siswa dengan prestasi yang sudah dimiliki. Misalnya dengan menjadi guru kursus, atau menjadi guru seni musik, dan sebagainya. Hal ini menjadikan pendidikan jiwa ini lebih ke arahmembagikan kebahagiaan jangka panjang.

5. Hati
Nah, ini adalah pendidikan jiwa yang tertinggi, di mana pendidik bisa mengimplementasikan hal ini dengan cara berbuat kebajikan yang ikhlas, tanpa pamrih, dengan hati nurani yang melakukannya dengan sepenuh hati. Hal ini bisa menjadi kebahagiaan yang tertinggi yaitu kebahagiaan yang abadi. Berbagi banyak ilmu dengan ikhlas juga sangatlah penting karena Giving is the best Communication