Suasana Kelas Yang Hilang Karena Pembelajaran Daring, Apakah Akan Kembali Seperti Semula?

Adanya hybrid learing membuat banyak perubahan besar salah satunya suasana kelas normal yang hanya akan menjadi kenangan saja.

Suasana Kelas Yang Hilang Karena Pembelajaran Daring, Apakah Akan Kembali Seperti Semula?
Pemasaran materi oleh pakar pendidikan, Dr. Suyoto, M. Si

SahabatGuru - Kelas di sekolah saat ini fokus pada pembelajaran daring, yang mana proses belajar sangat ditekankan pada pembelajaran serba online dengan berbagai macam teknologi yang diterapkan. Demi perubahan drastis ini, para stakeholder pendidikan tentu saja tengah bekerja sama dan memberikan effort lebih terhadap pembelajaran saat ini.

Apalagi, suasana kelas yang biasanya di penuhi gelak tawa, siswa aktif, guru yang bertatapan secara langsung, peserta didik yang masih bisa bertemu dengan teman-temannya, kini sudah hilang karena situasi pandemi yang semua itu sangat diharapkan agar Bisa segera kembali seperti semula.

Namun, menurut Dr. Suyoto, M. Si tokoh pendidikan dan bupati berprestasi pada pernyataannya dan materi yang disampaikannya di webinar pendidikan SahabatGuru bersama Kementerian Kominfo RI, APKASI, dan Kabupaten Lahat pada 7 Oktober lalu, ia mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan mungkin bisa kembali total seperti dulu dan pembelajaran yang seperti itu akan mengendap dalam kenangan dan sejarah saja. 
Mengapa hal itu terjadi? Karena banyak halal yang menghilang dalam pembelajaran daring, seperti;

1. Guru kehilangan kewibawaan
Maksudnya, guru di masa pembelajaran daring serba salah ketika meminta peserta didik untuk membuka kamera saat tatap maya, namun di sisi lain hal tersebut tidak baik karena akan kehilangan banyak energi dan tentu nya tidak baik untuk mata dan fisik para siswa.

2. Hilangnya fokus pada siswa
Tentu saja ketika pertemuan secara daring, siswa yang di kelas saat pembelajaran offline saja bisa dan sering merasa tak fokus, apalagi dengan pembelajaran daring yang saat ini dilakukan dan pasti banyak hambatan yang datang dan memecahkan fokus para siswa.

3. Interaksi guru dan siswa yang tak lagi connect
Maksudnya, jika guru di pembelajaran normal akan selalu connect dan mengetahui lebih pasti bagaimana siswa tersebut, karakter, attitude, hingga kabar dari siswa itu, namun di pembelajaran daring, guru semakin sulit menentukannya dan kurang connect secara batin ataupun pikiran dalam waktu yang lama.

Selain itu, pembelajaran normal tidak akan bisa kembali karena sudah ada yang menggantikannua yaitu hybrid learing yang mengarah kepada pembelajaran daring dan luring bersyarat. Permasalahan tersebut sesuai dengan topik yang diangkat oleh Dr. Suyoto mengenai Tema nya mengangkat tentang Memanfaatkan Problem pendidikan untuk kemajuan bersama.

Agar bisa meminimalisir problem yang ada pada hybrid learning dan mengoptimalkan agar tidak kehilangan sesuatu yang berharga dari siswa maupun pendidik saat proses pembelajaran, maka diperlukan tekad yang kuat serta halal yang harus diperhatikan, seperti;

1. Kematangan hybrid learning
Antara virtual dan reality atau antara pembelajaran daring dan pembelajaran luring haruskah seimbang dan matang dalam perencanaannya.

2. Kontribusi positif dalam hybrid learning
Maksud dari kontribusi positif adalah adanya perubahan yang menjadi lebih baik dari siswa dan guru, seperti misalnya motivasi belajar, lebih bisa menginovasikan banyak model atau pendekatan atau media yang disajikan oleh guru, atau belajar lebih menyenangkan.

Walaupun pembelajaran tidak akan sama seperti semula, namun percaya dan tetap yakin bahwa para stakeholder pendidikan bisa mengatasi permasalahan yang mucul dan tetap memiliki growth mindset agar bisa terus berkembang dan beradaptasi sesuai dengan situasi.

"Mari kita hadapi kenyataan, tundukkan masalah dan hadirkan masa depan yang lebih baik. "-Dr. Suyoto, M.Si