Praktik Pembelajaran Karaeng Pattingalloang

Pembelajaran Teks Prosedur Menggunakan Permainan Papan “Karaeng Pattingalloang”. Apa yang pertama kali muncul dalam benak anda ketika mendengar kata bermain? Bersenang-senang, bergembira, tentu. Lalu bagaimana jika dengan bermain, murid jadi mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri? Memang bisa? Tentu saja bisa. Hal itu terjadi pada murid saya kelas IX SMP Negeri 1 Tarowang.

Praktik Pembelajaran Karaeng Pattingalloang
Pembelajaran Menggunakan Karaeng Pattingalloang.

Murid-murid di sekolah pada umumnya memiliki karakteristik yang heterogen, satu di antaranya ialah gaya belajar, begitupun yang terjadi di sekolah saya. Murid memiliki kecenderungan gaya belajar visual, audio, dan kinestetik. Ditambah kondisi sosial mereka dengan latar belakang pekerjaan orang tua yang dominan seperti petani, nelayan, pedagang, dan driver. Tentunya hal ini mempengaruhi mereka dalam menghadapi pembelajaran di sekolah. Murid saya selama ini jarang tahu tujuan belajar Bahasa Inggris, belum lagi pembelajaran tatap muka new normal akibat pandemi menjadi sesuatu yang tidak lazim bagi mereka.

Lalu pembelajaran semakin menantang bagi saya dikarenakan Bahasa Inggris dianggap sulit, yang notabenenya merupakan bahasa asing. Ditambah durasi tatap muka yang sangat terbatas, hanya 1 x 35 menit dalam sepekan. Kemudian saya jadi terpikir bagaimana cara mengajarkan materi genre text khususnya procedure text kepada murid. Akhirnya saya teringat oleh salah satu media boardgame yang saya peroleh saat mengikuti kegiatan Temu Pendidik Nusantara 2019 pada kelas kompetensi, yaitu boardgame “Karaeng Pattingalloang”. Saya terpikir bagaimana mengaitkan karakter profesi/pekerjaan yang ada pada boardgame tersebut bisa berhubungan dengan materi teks prosedur.

Pada awal pembelajaran saya menyampaikan kepada murid bahwa hari itu anak-anak akan belajar Bahasa Inggris dengan permainan. “Hore….” Begitulah teriakan riuh murid-murid dalam kelas. Lalu pertama-tama saya memperlihatkan kartu permainan papan tersebut kepada murid dan menjelaskan aturan mainnya. Selanjutnya saya memberi kesempatan murid untuk memilih karakter sesuai yang diinginkan. Dalam permainan tersebut terdapat 4 karakter yaitu “Pedagang, Petani, Pelaut, dan Panglima”. Sekarang masing-masing murid sudah memiliki satu kartu karakter, dan saatnya mereka berlomba untuk mengumpulkan kartu pengetahuan yang dibutuhkan oleh karakter masing-masing.

Beberapa saat kemudian, murid-murid sudah mendapatkan kartu pengetahuan yang dibutuhkan. Lalu saya mendekati satu persatu dan memberikan beberapa pertanyaan reflektif. Kepada murid yang mendapatkan karakter pelaut, saya bertanya “Pelaut, butuh apa?”, murid menjawab “Pelaut butuh pengetahuan matematika, bola dunia, teleskop, pengawetan makanan”. Lalu saya kembali bertanya “Kenapa pelaut butuh teropong?”. “Untuk melihat situasi dan kondisi selama berlayar, ma’am”, jawabnya.

Oh seperti itu, jadi kamu tahu tidak cara menggunakan teropong, kamu tahu langkah-langkah memakai teropong yang baik?. Jawaban dari siswa akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang sifatnya reflektif. Kembali saya ke murid yang lain. “Lalu pedagang butuh apa?”. Murid yang mendapatkan karakter pedagang menjawab “Perlu pengetahuan matematika, menguasai beberapa bahasa, dan membutuhkan bahan-bahan pangan seperti cengkeh, pala, dll”. “Kenapa pedagang butuh pengetahuan matematika?” tanyaku kembali menggali informasi. Murid reflek berkata “Perlu lah Ma’am karena dalam berdagang ada proses jual beli, melakukan transaksi, butuh perhitungan”. “Oia betul banget yah nak, terus bagimana sih melakukan transaksi atau jual beli yang benar?”,nah pertanyaan ini sudah masuk di contextual learning murid. “Ya tahu dong ma’am, harus ada barang yang dijual, pembeli memilih barang”. Lalu apalagi nak? Yang lain menimpali “Penjual menghitung jumlah yang harus dibayar pembeli, nah makanya pedagang perlu pengetahuan berhitung atau matematika, ma’am”.

Medengar jawaban murid-murid saya menjadi senang. Lalu begitu juga dengan pekerjaan yang lain. Dengan tanya jawab yang interaktif tersebut, guru sudah tidak lelah menjelaskan materi karena yang terjadi adalah pendekatan student-centered learning bukan lagi teacher-centered learning. Selain itu dengan permainan tersebut, telah menghasilkan 2 model pembelajaran, yaitu discovery learning, siswa menemukan dan membangun sendiri pengetahuannya serta contextual learning karena berhubungan langsung dengan kehidupan murid sehari-hari.

Dari permainan tersebut secara tidak langsung murid sudah mengonstruksi pengetahuan tentang apa saja yang dibutuhkan oleh karakter tertentu, dan bagaimana langkah atau cara dalam melakukan atau menggunakan sesuatu. Dengan demikian murid sudah melewati tujuan pembelajaran yaitu materi terkait teks prosedur. Setelahnya saya memberikan penguatan dengan penjelasan singkat tentang teks prosedur, mulai dari defenisi, fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaannya. Di akhir pembelajaran saya meminta murid untuk membuat teks prosedur berdasarkan kartu karakter yang diperoleh. Seperti pedagang,”Cara melakukan transaksi jual beli”. Untuk karakter pelaut, “Cara mengawetkan makanan”, dan untuk karakter petani “Cara menanam jagung”, sedangkan untuk karakter panglima “Cara menggunakan teropong”. Merekapun akhirnya bisa membuat teks prosedur tersebut, dan mereka dapat belajar sambal bermain, tentunya mereka juga bersenang-senang. Belajar dengan menggunakan boardgame “Karaeng Pattingalloang” membuat pembelajaran semakin jadi bermakna dan tujuan belajarpun dapat tercapai.

A. Ninik Angraeni M.

Guru kelas IX SMP Negeri 1 Tarowang