Perhatikan Dinamika Psikologis Siswa, Guru, dan Orang Tua di Masa Pandemi!

Perhatikan Dinamika Psikologis Siswa, Guru, dan Orang Tua di Masa Pandemi!
Budiarda W. Laksana pada Webinar Aceh Timur (sahabatguru)

SahabatGuru - Webinar Pendidikan Kabupaten Aceh Timur yang diselenggarakan pada Rabu (6/10) membahas tentang peran guru dalam pendidikan di era digital. Salah satu pembicara yang diundang yakni Budiarda W. Laksana, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Dosen Bimbingan Konseling IAIN Ngawi Jawa Timur. Beliau memaparkan secara gamblang tentang dinamika psikologis pembelajaran daring.

Pandemi Covid-19 memberi dampak di berbagai sektor, tak terkecuali pendidikan. Pandemi seakan memberi pesan tersirat bahwa unsur utama pendidikan adalah keluarga/orang tua. Karena berjalan secara daring, semua kegiatan belajar pada akhirnya dikembalikan ke rumah. Pendidikan di era 4.0 menuntut sistem e-learning yang serba berbasis internet.

Materi yang disampaikan oleh Budiarda W. Laksana

Di era 4.0, pendidikan memiliki empat konsekuensi. Pertama, volatility, yaitu tuntutan pendidikan membuat semuanya dinamis. Kedua, uncertainly, yaitu kondisi penuh ketidakpastian yang mendorong kemampuan adaptif. Ketiga, complexity. Keempat, ambiguity.

Menurut Dosen Bimbingan Konseling IAIN Ngawi, belajar dari rumah bukanlah fase yang seharusnya dilakukan. Kondisi ini terjadi karena sebuah paksaan dari keadaan. Karenanya, ia mengimbau jika kondisi psikologis siswa perlu mendapatkan perhatian penuh.

“Sejatinya, belajar dari rumah (learn from home) bukanlah fase belajar normal. Ini terjadi karena adanya wabah, periode darurat. Fokus yang harus diperhatikan ialah siswa yang diupayakan selalu sehat, berbahagia, dan tidak stres. Buat mereka senang dan bahagia. Siswa juga perlu dilatih jadi pembelajar yang mandiri dan tekun,” jelas Budiarda.

Budiarda juga menyajikan data statistik lapangan yang membuktikan persentase beberapa permasalahan yang dialami siswa selama ini. Berdasarkan data statistik lapangan, perbandingan permasalahan yang sering dialami siswa dalam pembelajaran daring adalah 78% problem sosial, 18% problem akademik, dan sisanya karena problem lainnya. Dalam hal ini, problem sosial memegang besaran yang paling tinggi.  

Ada berbagai kendala yang selalu dihadapi oleh guru, orang tua, dan siswa saat melakukan aktivitas pembelajaran daring. Kendala ini tentu tak lepas dari pengaruh IT.

“Kendala-kendala pembelajaran daring selalu dihadapi oleh guru, orang tua, dan siswa. Kendala yang dihadapi guru: rasa pesimis akan tercapainya target pembelajaran, waktu pembelajaran jadi lebih panjang, dan keterbatasan penguasaan IT. Kendala yang dihadapi orang tua: konflik peran (antara pekerjaan, anak, tuntutan tugas), meningkatnya angka konflik, kesulitan orang tua dalam memahami pelajaran dan penguasaan IT. Kendala yang dihadapi siswa: adictif gadget dan timbulnya rasa stres,” papar Dosen Bimbingan Konseling IAIN Ngawi.  

Dalam hal ini, komunikasi memegang peran penting untuk menyelesaikan kendala-kendala tersebut. Guru, orang tua, dan siswa perlu duduk dan diskusi bersama untuk mengatasi tantangan itu dan mencari titik terang agar rutinitas pembelajaran daring dapat berjalan sesuai tujuannya.

Untuk memberikan variasi penugasan, Budiarda juga memberikan rekomendasi strategi pembelajaran dalam bentuk penugasan agar para siswa tidak mengalami kebosanan di tengah pembelajaran daring. Bentuk penugasan tersebut seperti literature review, article summary, book review, compared and contrast essay, laboratory report, reflective writing, poster development, project design, dll.

Lalu, pada sesi tanya jawab, ada seorang pendidik dari instansi pengawas TK Aceh Timur bertanya mengenai tips mengatasi anak-anak yang melakukan pembelajaran daring sementara orang tua tidak bisa menemai setiap saat karena harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Budiarda menjawab jika lagi-lagi yang memegang peran utama adalah komunikasi. Komunikasi antara orang tua dengan anak dan orang tua dengan guru di sekolah.

“Menurut saya, orang tua perlu melakukan komunikasi dengan anak mengenai tugas-tugas sekolah yang disampaikan melalui gadget. Yang kedua, berkomunikasi dengan guru mengenai kelonggaran waktu saat pengumpulan tugas. Jika diperkenankan, orang tua melakukan negosiasi dengan guru agar diberi perpanjangan waktu dalam pengumpulan tugas karena orang tua mesti membagi waktu juga antara bekerja dengan mendampingi anak mengerjakan tugas,” jelas Budiarda.

Sehingga, dapat diambil kesimpulan jika dinamika psikologis pada siswa sangat lumrah terjadi karena pandemi Covid-19 memang memberikan berbagai tantangan tersendiri. Yang menjadi PR bersama adalah menjaga kondisi psikologis guru, orang tua, dan siswa agar tetap baik dengan komunikasi sebagai kuncinya.

ANIS SAFITRI