Satuan Pendidikan Diminta Perbaiki Prokes Cegah Hepatitis Akut 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meminta satuan pendidikan untuk memperbaiki protokol kesehatan demi mencegah hepatitis akut yang sedang marak beredar.

 Satuan Pendidikan Diminta Perbaiki Prokes Cegah Hepatitis Akut 
Ilustrasi hepatitis ( Foto dok .Flicr.com)

sahabatguru.com. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meminta satuan pendidikan untuk memperbaiki protokol kesehatan demi mencegah hepatitis akut yang sedang marak beredar. Saat ini pihak Kemendikbudristek sedang berdiskusi dengan Kementerian Kesehatan terkait hal tersebut.


"Kami sudah berdiskusi (dengan Kemenkes mengenai penyakit hepatitis akut)," ungkap Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kemendikbudristek, Jumeri, seperti dilansir dari lanan republika.co.id 

Jumeri menambahkan bahwa sekolah perlu memperbaiki prokes sebagaimana yang sudah ada pada SKB Empat Menteri tentang Pembelajaran Selama Pandemi COVID 19. "Sekolah perlu memperbaiki prokes sebagaimana sudah ada pada SKB Empat Menteri tentang Pembelajaran Selama Pandemi Covid-19," kata Jumeri.

Sementara itu Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan melakukan tindakan pencegahan terkait dengan hepatitis akut ini.  Salah satu caranya adalah dengan menjaga kebersihan diri.

“Virus ini menularnya lewat asupan makanan yang lewat mulut, jadi kalau bisa rajin cuci tangan saja supaya kita pastikan yang masuk ke anak-anak kita, kan ini menyerang banyak di bawah 16 tahun lebih banyak lagi di bawah 5 tahun, itu bersih,” ujar Menkes.  

Gejala awal penyakit hepatitis akut adalah mual, muntah, sakit perut, diare, kadang disertai demam ringan. Selanjutnya, gejala akan semakin berat seperti air kencing berwarna pekat seperti teh dan buang air besar berwarna putih pucat. Menkes meminta agar para orang tua untuk segera memeriksakan anak dengan gejala tersebut ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis awal.

“Kalau dia buang air besar dan kemudian mulai ada demam nah itu dicek SGPT- SGOT-nya. Kalau sudah di atas 100, lebih baik di-refer ke fasilitas kesehatan terdekat. SGPT-SGOT normalnya di level 30-an, kalau sudah naik agak tinggi sebaiknya di-refer ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujarnya.

Menkes mengungkapkan, saat ini tercatat 15 kasus dugaan atau suspek hepatitis akut. Tiga kasus pertama di Indonesia dilaporkan pada 27 April. “Tanggal 27 April itu kita sudah langsung mengeluarkan surat edaran agar semua rumah sakit dan dinas kesehatan melakukan surveillance monitoring terhadap kasus ini,” katanya.***