Sinergi Wujudkan Pentingnya Keterampilan Komunikasi dalam Paradigma Pendidikan di Era Digital

Kementerian Kominfo bersama APKASI dan SahabatGuru bersinergi dalam webinar pendidikan dengan tema Pentingnya Keterampilan Komunikasi dalam Paradigma Pendidikan di Era Digital (1/12).

Sinergi Wujudkan Pentingnya Keterampilan Komunikasi dalam Paradigma Pendidikan di Era Digital
Webinar Pendidikan Kabupaten Rembang

SahabatGuru - Webinar pendidikan diawali dengan pidato Presiden RI, Ir. Joko Widodo itu turut hadir Bupati Rembang Abdul Hafidz dan anggota komisi 7 DPR RI, Sugeng Suparwoto. Webinar diselenggarakan di Kabupaten Rembang dan diikuti oleh ratusan guru yang ada di Kabupaten Rembang. Webinar yang di moderatori Nabila Najib tersebut menghadirkan pembicara yang expert pada bidangnya di antaranya, Mohwid., Edi Saputra, S. T., M. Sc., Andi Suryawan, S. Si., Dr. Atang Irawan, S. H, M. Hum., dan Dr. Rismi Juliadi, S. T. M. Si.

Abdul Hafidz, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas dedikasi mitra Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) yaitu Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara dan SahabatGuru dalam mengadakan webinar pendidikan bagi para guru untuk memajukan pendidikan.

"Dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan informasi dan peran masyarakat dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berkualitas sebagai solusi berlangsungnya pembelajaran di era pandemi," tuturnya.

Menurutnya, guru sebagai komponen utama pendidikan harus mampu beradaptasi dengan teknologi digital. "Tantangan utama guru di era sekarang adalah mencetak generasi yang mampu menemukan solusi, kritis, analitis dan berkarakter. Pendidikan karakter menjadi pondasi untuk membentuk karakter Pancasila, jujur, berintegritas, empati, mandiri, gotong-royong, dan lain sebagainya," imbuhnya. 

Sugeng Suparwoto, Ketua Komisi 7 DPR RI, turut memberi sambutan. Pada sambutannya ia menyampaikan respeknya terhadap para guru. Ia menyanyikan lagu himne guru sebagai bentuk respek terhadap guru sebelum mengawali sambutannya. Ia menyampaikan pentingnya guru memahami keterampilan digital.

"Peran guru tidak tergantikan, karena pendidikan tidak semata-mata pengajaran keterampilan, tetapi pendidikan menyangkut tentang afeksi, tata nilai, perilaku dan sebangainya. Sekarang referensi anak tidak semata-mata hanya guru, dengan teknologi anak bisa mengakses berbagai sumber informasi yang luar biasa. Tetapi secara sistematis mentraformir ilmu pengetahuan tetap saja dilakukan di dunia sekolah dan yang berperan adalah guru dan tenaga kependidikan," tutur dia. 

Berdasarkan itu ia berpendapat guru mesti mengerti dunia digital, mengerti alat-alat komunikasi sehingga dapat memprogram pengajaran lalu disampaikan dengan media digital untuk mempermudah komunikasi sehingga bisa efektif.

"Guru dituntut menguasai konten belajar, kedua mampu merancang program dalam bentuk audio visual atau templete yang akan disampaikan, ketiga harus mampu merancang, merumuskan dan mengevaluasi serta mampu menyambungkan antara kurikulum dengan konten belajar," imbuhnya. 

Edi Saputra, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Jambi, narasumber pertama yang memberikan materi tentang keamanan digital. Ia mengatakan banyaknya aktivitas digital harus di imbangi pemahaman layanan digital yang baik. Kalau aktivitas digital tidak diimbangi dengan literasi digital yang baik maka berpotensi memunculkan kejahatan di dunia maya.

"Walaupun platform media digital telah mempersiapkan fitur keamanan, tetapi tetap kendali akhir itu berada di tangan pengguna," imbuhnya. Selain itu ia juga menyampaikan tentang rekam jejak digital yang terus ada dan sulit ditarik dan tentang banyaknya identitas palsu yang bisa dibuat di dunia maya. 

Andi Suryawan, Trainer Matematika Nasional, terkait kecakapan digital, Ia membuka sesi dengan mengatakan math is everywhere atau  matematika itu ada di mana saja dan di sekeliling kita hidup pasti ada matematika. Pada kesempatan ini ia mengatakan, “Nothing endures but change, segala sesuatu pasti berubah. Artinya sebagai seorang guru, mau tidak mau harus mengikuti perubahan. Perubahan itu terus terjadi dan kita harus mengikutinya," tegas dia. Ia menerangkan jika numerasi itu bukan tanggung jawab guru matematika saja, tetapi tanggung jawab semua guru dan guru harus menerapkan atau membiasakan siswa dengan kompetensi-kompetensi numerasi. Disampaikan pula beberapa materi tentang metode pembelajaran literasi numerasi. 

Dr. Atang Irawan, Staf Khusus Pimpinan MPR RI juga menjadi narasumber pada webinar ini. Pada kesempatan ini ia berbicara tentang etika digital. "UUD 45 alenia ke 4 menyebutkan salah satu tujuannya adalah mencerdaskan bangsa. Mencerdaskan bangsa ini ditafsirkan dalam UUD pasal 31 pemerintah mengusahakan pendidikan, itu tidak hanya dalam konteks mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi ada dalam ruang keimanan dan ketakwaan serta akhlaq yang mulia yang irisannya juga masalah kode etik. Bagaimana etika dalam proses  belajar dan menjaga moralitas kebangsaan bagai anak" tutur dia.

Ia berpendapat bahwa sebagai bangsa yang terlahir dari bangsa yang pluralisme seharusnya tidak begitu sulit untuk kita berada di dunia digital yang notabenya terdapat banyak orang yang berbeda-beda dan kita bisa saling menghargai. Ia juga bagaimana cara kita berlaku di media sosial supaya tidak terkena UU ITE. 

Dr. Rismi Juliadi, Dosen Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara menjadi narasumber terakhir yang memberikan materi tentang budaya digital. Dengan adanya internet, sebagai bentuk komunikasi massa, serta munculnya komputer dan gadget ada perubahan transformasi secara budaya. Menurutnya ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam keterampilan berkomunikasi di era digital yaitu guru harus respect, berempati, audibel atau dapat dimengerti, clarity yaitu menyampaikan dengan jelas atau tidak ambigu dan guru sesekali harus melontarkan humor. Ia juga menyampaikan bagaimana menggunakan media digital untuk pembelajaran.

Mohwid, dari akademisi S3 & interpreneur sebagai key opinion leader memberikan pandangannya mengenai tema webinar. Ia berpendapat sangat perlunya untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi yang baik dan benar bagi para pendidik, "Berkomunikasi itu tidak hanya berbicara tetapi memahami apa tujuan dari komunikasi," terangnya. Ia berharap dengan adanya webinar ini bisa menambah semangat peserta dalam meningkatkan komunikasi di dunia digital. 

Webinar kali ini hampir seluruh narasumber berpendapat bahwa guru tidak akan tergantikan oleh teknologi, tetapi guru yang tidak bisa beradaptasi terhadap teknologi, akan digantikan oleh guru-guru lain yang lebih cakap teknologi. Karena perubahan dunia mengarahkan demikian.

Webinar ini ditutup dengan sesi tanya jawab dengan para narasumber. Peserta sangat antusias dalam memberikan pertanyaan kepada para narasumber, karena ada hadiah menarik dari panitia bagi peserta terpilih yang memberikan pertanyaan menarik.

GALIH N