Guru Pekalongan Ikuti Webinar Peningkatan Digital Skill untuk Pembelajaran Modern Abad 21

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (RI) bersama Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Pemerintah Kabupaten Pekalongan dan SahabatGuru mengadakan webinar pendidikan dengan tema Tantangan Guru dalam Peningkatan Digital Skill untuk Pembelajaran Modern Abad 21 (30/11).

Guru Pekalongan Ikuti Webinar Peningkatan Digital Skill untuk Pembelajaran Modern Abad 21
Webinar pendidikan Kab. Pekalongan.

SahabatGuru - Webinar Pendidikan ini diselenggarakan atas sinergi dan dedikasi Kemenkominfo, APKASI,  Pemkab Pekalongan dan SahabatGuru dengan diikuti oleh ratusan guru Pekalongan.

Farida Arafiq, Bupati Pekalongan menyampaikan pada sambutannya mendukung dan mengapresiasi terhadap program literasi digital menuju Indonesia cakap digital ini. Menurutnya program webinar pendidikan ini sangat selaras dengan program digital pemerintah dan pelayanan publik.

“Guru di era digital dituntut untuk meningkatkan kompetensi dan profesional di bidang teknologi informasi komunikasi. Dengan kegiatan ini diharapkan bisa mendorong kemampuan guru dalam upaya penggunaan media online, mengubah pola pikir guru menjadi guru profesional di era digital dan guru diharapkan bisa melakukan inovasi pembelajaran di sekolah serata mendorong menciptakan teknologi sederhana berbasis digital di sekolah,” tambahnya.

Dr. Himatul Hasanah, staf ahli bidang pendidikan dan kebudayaan APKASI dan juga merupakan inisiator SahabatGuru pada sambutanya menyampaikan kiprah APKASI di bidang pendidikan. Adanya problematika yang dirasakan sekitar 10 tahun terakhir yaitu adanya kekurangan guru sehingga melatarbelakangi adanya APKASI ministrial forum yang mengambil tema problematika pendidikan dan tenaga pendidik. Himma menyampaikan 2 hal dari 17 rekomendasi hasil APKASI Ministrial Forum.

“Pertama APKASI menyampaikan kepada pemerintah bahwa formasi PNS untuk guru supaya terus diberikan. Kedua terkait dengan persoalan PPPK, bahwa 2017 lalu APKASI mendesak untuk menyegerakan rilisnya juknis PPPK, hingga pada 2020 juknis tersebut rilis,” tutur Staf Ahli APKASI.

Zahir, Bupati Batubara yang juga merupakan Ketua Bidang dan Pendidikan APKASI juga menyampaikan dalam sambutannya mengenai komitmen APKASI dalam mendukung guru cakap bermedia digital. Ia mengatakan, bahwa sebagai bupati ia merasakan rekrutmen PPPK yang masih bermasalah terhadap pengalokasian anggaran mengenai sumber pembiayaan gaji pokok dan tunjangan guru penerima PPPK. Ia juga mengatakan APKASI berkomitmen ingin memperjuangkan agar guru-guru di Indonesia memiliki masa depan yang jelas dan cerah.

Charles Meikyansah, Anggota DPT RI Komisi 11 merespon, bahwa ia mendukung program yang mengangkat guru honorer yang mengabdi lebih dari 15-20 tahun diberikan jalur khusus untuk jadi PNS, karena pengabdian lebih dari 10 tahun dan digaji di bawah rata-rata tidak bisa diukur dengan passing grade dan ia menegaskan bahwa sebagai DPR ia bersama rekan-rekannya akan memperjuangkan itu. 

Ia juga merespon terkait dana anggaran bagi guru PPPK yang disampaikan staf ahli bidang pendidikan dan kebudayaan APKASI, bahwa anggaran PPPK memang harus ada dana alokasi umum yang sangat jelas bagi guru PPPK, artinya tidak membebani anggara daerah. Ia juga menyorot mengenai jaringan internet yang menjadi kebutuhan penting atas hak dasar untuk seluruh masyarakat Indonesia. Melalui Kementerian Kominfo, ia berkeyakinan dapat diberikan kepada semua lapisan masyarakat terutama di daerah terluar, terdepan dan terpencil (3T).

Septiana Tangkari, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim, Kemenkominfo RI, mewakili Usman Kansong, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kemenkominfo RI, menyampaikan mengenai komitmen Kominfo dalam mendukung literasi digital guru di Indonesia. Ia menerangkan bahwa jumlah penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 73,7% yang artinya sudah sesuai dengan komitmen Indonesia. Ia juga menyampaikan beberapa hal yang menjadi program prioritas Kementerian Kominfo dalam transformasi digital di antaranya infrastruktur internet, percepatan ligalisasi primer dan hubungan internasional, serta kebijakan perkembangan teknologi. Tidak hanya itu Kominfo juga memiliki program pelatihan pengembangan kompetensi kepada talenta digital. Kominfo juga menyediakan berbagai platfom bagi media pembelajaran untuk para guru dan siswa.

Webinar yang dimoderatori oleh Arsi Dwiyani itu menghadirkan narasumber di antaranya adalah Dr. Rosarita Niken Widiastuti, Staf Khusus Menteri Kominfo RI yang sharing tentang mewujudkan sukses literasi digital bagi guru. Ia mengatakan dalam pembelajaran online guru mesti memiliki kreativitas dan inovasi dari guru-guru dalam mengajar supaya anak tidak bosan. Selain itu guru juga harus berpikir kritis, memecahkan masalah, melakukan komunikasi dan kolaborasi, serta harus melek literasi teknologi dan informasi yang memperbanyak keterampilan. Hal itu harus menjadi habit (kebiasaan) serta terus dilakukan oleh guru dan menjadi kebutuhan para guru. Hal lain yang perlu dipahami, guru perlu memiliki strategi dalam meningkatkan profesionalisme guru, serta perlu cakap digital, memperhatikan keterampilan, etika, budaya dan keamanan digital.

Jakfar Siddik, tokoh pemuda sekaligus Peneliti Populis Institut, yang juga merupakan narasumber, sharing tentang meningkatkan kompetensi abad 21 generasi milenial. Ia mengatakan generasi sekarang merupakan anak kandung dari internet, karena anak-anak generasi sekarang sangat intens berinteraksi dengan internet bahkan internet menjadi alat untuk mengasuh anak di masa kini. Saat ini ada beberapa tantangan di antaranya perlu mawas diri dalam membagikan data privasi. Dengan generasi milenial yang adaptif di era digital, seorang guru perlu ada langkah antisipatif dalam hal tersebut. 

Selanjutnya, Dr. Ariyadi Wijaya, Dosen Pendidikan Matematika UNY, sharing tentang meningkatkan komputasional literasi digital peserta didik melalui platform pembelajaran digital. Ia mengatakan guru harus menyiapkan anak yang pandai dalam bernalar dan beretika serta menjadi sosok yang kreatif hinga anak siap untuk berkompetisi dengan teknologi tidak cukup hanya berkolaborasi. Berpikir komputasional pada peserta didik bisa dimulai dari semua hal yang berkaitan dalam permasalahan yang kontekstual dan guru memberikan penekanan dan bisa membiasakan siswa untuk berkreasi untuk memecahkan berbagai masalah.

GALIH N.