Antisipasi Kekerasan Di Dunia Pendidikan

Marakanya kekerasan seksual di dunia pendidikan membuat para pelajar di seluruh  Indonesia semakin merasa takut dan khawatir. Banyak berita yang bermunculan seperti pemerkosaan, pelecehan fisik maupun verbal, bahkan pencabulan

Antisipasi Kekerasan Di Dunia Pendidikan

Menurut data yang dilansir dari Komnas Perempuan (Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan), pada tahun 2019 hingga tahun 2020 pada bulan Agustus terjadi peningkatan 10 sampai 15 kasus. Dan kebanyak pula, kasus kekerasan di lingkungan pendidikan ini sering kali tidak diadukan karena merasa malu dan tidak tersedianya mekanisme pengaduan serta penanganan pemulihan korban.

Kekerasan seksual tidak hanya terjadi secara fisik, banyak pula yang terjadi secara verbal. Misalnya seorang pelaku meminta foto kemaluan korban. Banyak pula yang terjadi kekerasan secara fisik, tetapi saat dibuatkan laporan itu hanya berupa argumentasi saja karena korban tidak mempunyai bukti. Padahal, dengan adanya laporan dari korban itu adalah sebuah bukti. Karena, korban merasa sangat tidak aman dan butuh perlindungan.

Pelaku kekerasan pun terbanyak di lingkungan pendidikan adalah dari tenaga pendidik itu sendiri. "Para korban yang umumnya peserta didik berada dalam kondisi tidak berdaya (powerless) karena relasi kuasa korban dengan guru/ustadz, dosen, atau kepala sekolah yang dipandang memiliki kuasa otoritas keilmuan dan juga termasuk tokoh masyarakat," sebut Komnas Perempuan.   

Dunia pendidikan menjadi sektor utama untuk membangun generasi masa depan. Untuk itu, dunia pendidikan pun harus menjadi tempat yang aman unutk para penerus bangsa. Jangan sampai ada kelalaian di dunia pendidikan.

Indonesia masih minim wadah untuk mengadukan kekerasan seksual. Serta, minimnya seks education di Indonesia juga merupakan faktor yang menjadi banyaknya kasus kekerasan seksual. Adanya edukasi seks bisa meminimalir korban kekerasan dan pelaku. Banyaknya pelaku kekerasan tidak bisa mengontrol pola pikir dan sudut pandang mereka terhadap korban.

Menurut Al-Quran “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30)

Dalam dunia psikologi ada yang namanya Perceived Support. Perceived Support merupakan pandangan subjektif seseorang terhadap support yang dia terima dari orang-orang sekitar dia. Kalau seseorang mempunyai Perceived Support korban kekerasan seksual bisa pulih lebih cepat. Penting untuk keluarga, orang terdekat memberikan support secara mental dan fisik kepada korban.

Jika ada korban kekerasan seksual, usahakan jangan menghakimi. Cobalah didengarkan dan ditolong jika melihatnya secara langsung. Karena dampak dari kekerasan seksual bisa sangat menganggu kehidupan normal korban dan bahkan dapat trauma bertahun-tahun. Untuk itu diperlukan dukungan semua pihak dalam memberikan dukungan.