Authentic Challenging Task: Solusi Pembentuk Karakter Siswa

Authentic Challenging Task: Solusi Pembentuk Karakter Siswa
Uwes Anis Chaerumam pada Webinar Pendidikan Aceh Timur (sahabatguru)

SahabatGuru mengadakan Webinar Pendidikan Kabupaten Aceh Timur pada Rabu (6/10) melalui Zoom dan YouTube. Webinar inspiratif ini membahas tentang peran guru dalam pendidikan di era digital. Dengan disaksikan oleh ribuan guru dari Kabupaten Aceh Timur, webinar ini menghadirkan pembicara kompeten di bidang pendidikan, yaitu Dr. Uwes Anis Chaeruman, M.Pd. sebagai Dosen Universitas Negeri Jakarta serta Budiarda W. Laksana, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai Dosen Bimbingan Konseling IAIN Ngawi Jawa Timur.

Dr. Uwes Anis Chaeruman, M.Pd. memaparkan materi tentang guru dan pengembangan karakter dalam pembelajaran di era digital. Menurutnya, karakter adalah akumulasi dari tindakan-tindakan yang terjadi sepanjang masa kita hidup untuk membuktikan bahwa diri memiliki integritas sebagai seorang manusia. Ini tidak bisa dilakukan dengan cepat. Karakter siswa di abad 21 antara lain: berkemampuan untuk membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi atau big data dalam dunia digital; berkemampuan untuk memahami sistem kerja mekanik/menggunakan aplikasi teknologi; berkomunikasi dan kreatif; mampu beradaptasi dan inisiatif; menguasai literasi informasi, literasi media, dan teknologi komunikasi; berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, dan berkolaborasi.

Menurut Uwes, ada tiga obat mujarab yang bisa membangun sebuah karakter. Obat mujarab ini bisa terbentuk seiring terjadinya interaksi antarsesama.

“Obat mujarab untuk membangun karakter ada tiga, yaitu modeling, modeling, dan modeling. Kapan modeling (tuntunan) terjadi? Yaitu saat seringnya terjadi interaksi antarsesama. Jadi, karakter itu dibangun melalui proses internalisasi. Proses ini terjadi seiring terjadinya interaksi. Interaksi pertama kali pun terjadi di rumah. Lalu, kedua terjadi di sekolah. Ketiga, terjadi di masyarakat. Sehingga, benar yang dikatakan Ki Hajar Dewantara mengenai Tri Pusat Pendidikan. Jika pembentukan karakter itu terjadi di rumah, sekolah, dan masyarakat,” ucap Uwes.

Dosen UNJ ini pun tak setuju jika ada pernyataan terjadinya degradasi moral itu sebabnya di sekolah. Menurutnya, penyebabnya adalah lingkungan masyarakat dan rumah yang tidak memberikan tuntunan.

Karakter, watak, akhlak, budi pekerti dibangun melalui internalisasi (modeling/tuntunan) dan aktivitas internalisasi ini dilakukan melalui interaksi. Saat ini pun semuanya telah berubah karena cara manusia berinteraksi telah berubah dari satu era ke era lainnya.

Ringkasnya, Uwes menyatakan bebebrapa aktivitas pembelajaran sinkronous yang terbagi ke dalam beberapa ruang. Ruang belajar pertama ialah TATAP MUKA. Untuk sementara ini tidak dibuka karena pandemi Covid-19 yang menuntut physical and social distancing. Ruang belajar kedua ialah TATAP MAYA (virtual synchronous learning). Pembelajaran antara pembelajar dan pembelajar terjadi pada waktu yang bersamaan, tapi ruang yang berbeda satu sama lain. Ruang belajar ketiga ialah MANDIRI (self-directed asynchronous learning). Belajar mandiri kapan saja dan di mana saja sesuai dengan kondisi dan kecepatan belajar masing-masing. Ruang belajar keempat ialah KOLABORATIF (collaborative asynchronous learning). Belajar bisa kapan saja dan di mana saja bersama narasumber lain (siswa, dosen, praktisi, dan lain-lain). Pembagian ruang belajar ini pun tidak mutlak. Di dunia pendidikan, beberapa ruang belajar bisa dikolaborasikan demi menyesuaikan perkembangan zaman.

Sementara itu, Dosen UNJ ini pun menjelaskan beberapa model pembelajaran kontemporer yang bisa diterapkan oleh para pendidik.

“Model pembelajaran kontemporer ada tiga, yaitu crossover learning, own it learn it share it, self-organized learning environment. Contoh kasus pada model crossover learning adalah pembelajaran modern dengan teknologi. Saya sarankan, Bapak/Ibu melakukan pembelajaran dengan kasus model crossover learning dan self-organized learning environment. Jangan tiru model own it learn it share it karena itu diterapkan pada pembelajaran kuno dengan teknologi modern. Model ini hanya sebagai penyampai informasi saja,” jelas Dosen UNJ.

Uwes menyarankan pada pendidik agar menggunakan teknologi secara tepat guna supaya membuat siswa bisa mengkonstruksi tugas belajar yang multifaceted dan merepresentasikan adanya tantangan, permasalahan, dan kemampuan berpikir di dalam lingkungan. Inti yang ingin disampaikan bukan tentang teknologinya, tetapi tentang authentic challenging task.   

Sehingga, semakin banyak siswa mendapatkan authentic challenging task di rumah, sekolah, dan masyarakat, maka semakin banyak pula memperoleh peran dan tanggung jawab. Sebesar itulah karakter terbangun dalam diri siswa.

ANIS SAFITRI