Pakar Asesmen Pendidikan: Penilaian di Abad 21 Harus Diselaraskan dan bertaraf HOTS  

Guru memiliki tanggung jawab besar untuk menyelaraskan penilaian pembelajaran di abad 21 dan masa pandemi ini. Tataran kognitif LOTS dan MOTS sudah harus ditinggalkan.

Pakar Asesmen Pendidikan: Penilaian di Abad 21 Harus Diselaraskan dan bertaraf HOTS   
Dr. Das Salirawati, M.Si (uny.ac.id)

SahabatGuru - Salah satu pembicara inspiratif yang hadir pada Webinar Pendidikan Kabupaten Kuburaya pada Senin (4/10) ialah Dr. Das Salirawati, M.Si. Dosen Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini Pakar Asesmen Pendidikan UNY. Karyanya yang tak terhingga dan sangat berkualitas membuat Dosen UNY ini selalu diundang menjadi pembicara di berbagai tempat.

Melalui webinar yang diadakan oleh SahabatGuru, Das Salirawati membuka paparannya dengan statement jika guru tidak hanya bertanggung jawab untuk transfer of knowledge, tetapi juga harus transfer of value dan transfer of skills. Belajar daring membuat guru dapat tugas lebih berat. Guru tak bisa berhenti bicara, harus pandai membuat variasi bentuk interaksi dengan anak didiknya agar mereka mau mendengarkan pelajaran dengan baik.

“Saat ini guru dipaksa untuk mengetahui teknologi dengan belajar online. Sesungguhnya, sebelum pandemi, guru pun harus mampu menguasai praktik mengajarnya. Tak menutup kemungkinan, penerapan teknologi pun akan sampai pada titik kejenuhan jika yang ditampilkan itu-itu saja. Itu adalah sifat manusiawi,” papar Dosen Kimia UNY.

Selain mengajar online, guru memang berkewajiban untuk melakukan penilaian terhadap kompetensi anak didiknya secara jarak jauh. Guru harus berpikir keras mengatur strategi untuk menemukan cara melakukan penilaian yang akurat, tetapi praktis dan mudah dilaksanakan pada saat kita menilai dari rumah. Dosen yang ahli membuat telur asin ini juga menjelaskan jika tingkat kognitif tinggi (HOTS) memegang posisi urgensi untuk terus digalakkan.

“Sementara, tuntutan di dunia pendidikan juga menginginkan anak didik dapat dibidik kompetensi kognitifnya. Bukan hanya bisa menghafal teori, tetapi juga mampu menjadi problem solver, kritis, inovatif, kolaboratif, dan analitis. Anak didik tidak hanya berada pada tataran kognitif tingkat rendah (LOTS)/tingkat menengah (MOTS), tetapi sudah taraf tingkat tinggi (HOTS). Saat ini diperlukan penyelarasan penilaian hasil belajar anak didik di abad 21. Saya setuju dengan penjalasan Bapak Menteri bahwa guru di era digital harus menguasai kompetensi lain di luar kompetensi yang sudah ada di PP No 19 Tahun 2005. Bukan hanya Profesional, Pedagogi, Kepribadian, Sosial saja, tetapi ditambah juga dengan Adaptif dan Antisipatif,” jelas Das.

Adaptif berarti harus pandai mengantisipasi keadaan yang ada. Sedangkan antisipatif berarti harus siap dengan keadaan yang akan dihadapi. Jadi, kompetensi yang diperlukan saat ini menurut Das yaitu enam kompetensi. Salah satu yang perlu dapat sorotan penuh adalah Adaptif.

“Guru sangat dituntut adaptif, yaitu mampu menyelaraskan segala hal yang berkaitan dengan tugasnya sebagai pendidik. Jangan sampai anak didik kita kelak hanya pandai hafal teori dan konsep, tanpa tahu aplikasinya seperti apa. Salah satu yang harus diselaraskan adalah sistem penilaian yang dilakukan dalam rangka mengungkap kompetensi yang dimiliki anak didiknya secara objektif dan akurat. Penilaian hasil belajar juga perlu diselaraskan dengan abad 21, yaitu 4C (Collaborative, Critical Thinking, Communicative, Creative). Informasi yang diperoleh dari kegiatan penilaian benar-benar dapat digunakan untuk memperbaiki kompetensi anak didik pada ketiga aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik,” terang Pakar Asesmen Pendidikan UNY.

Realitasnya, saat ini sebagian besar peserta didik hanya tahu muatan pengetahuan hafalan tanpa terlatih untuk mengkritisi setiap konsep yang dihafal atau menggunakan konsep tersebut sebagai dasar untuk berkreasi dan berinovasi. Menurut Pakar Asesmen Pendidikan UNY ini, hal tersebut berakibat anak didik yang hanya kaya pengetahuan teoretis dan miskin aplikatif. Oleh karena itu, kompetensi yang harus dinilai tidak hanya sekadar hafalan dan pahamnya materi yang dipelajari, tetapi anak didik harus diungkap kompetensinya dalam menerapkan tiap materi dalam kehidupan sehari-hari.

“Keterampilan berpikir tingkat tinggi tidak hanya perlu diujikan secara tertulis, tapi dengan dibelajarkan dan dilatihkan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menajdikan HOTS sebagai grand desain untuk mencetak generasi Z dan generasi Alpha menjadi cerdas dan siap menghadapi persaingan di abad 21, terutama dalam menyongsong era revolusi industry 4.0 yang dicirikan dengan perubahan sangat cepat di berbagai bidang,” tambah Dosen Kimia dalam webinar.

Hingga pada akhirnya, guru memiliki tanggung jawab besar untuk menyelaraskan penilaian pembelajaran di abad 21 dan masa pandemi ini. Tataran kognitif LOTS dan MOTS sudah harus ditinggalkan. Higher Order Thinking Skills (HOTS) mesti terus digiatkan untuk membangun anak didik yang berdaya saing dan mampu adaptif pada era yang dipenuhi perubahan sangat cepat ini.

 ANIS SAFITRI