Kekuatan Apresiasi Guru pada Karya Siswa

Kekuatan Apresiasi Guru pada Karya Siswa
Ilustrasi: lpmpjatim.kemdikbud.go.id

Semua orang bisa bercerita panjang lebar. Namun kesulitan dalam menuangkan dalam bentuk tulisan. Hal ini dialami oleh segala usia. Boleh percaya atau tidak.

Mengapa Bisa Kesulitan dalam Menulis?

Ketika pembelajaran tatap muka normal, sebelum pandemi, guru-guru pasti sering menghadapi siswa yang sibuk ngobrol dengan temannya. Padahal waktu itu guru sedang menjelaskan atau siswa lain mempresentasikan hasil atau pekerjaan di depan kelas.

Bercerita dengan teman lain memang asyik bagi siswa. Tak sadar bahwa itu sangat mengganggu teman yang mau fokus belajar. Tak jarang siswa tersebut mendapat teguran sampai hukuman karenanya. Tentu hukuman harus bersifat mendidik, bukan hukuman yang menyebabkan trauma bagi siswa. Cerewet dan berisiknya siswa di kelas saat pelajaran itu sebenarnya bisa diarahkan untuk menuliskannya dalam bentuk tulisan. Ini akan menanamkan budaya literasi menulis yang baik bagi siswa.

Apa yang diobrolkan bisa diminta untuk dituliskan dalam selembar kertas. Biasanya bahan obrolan berkaitan dengan hobi mereka. Entah bermain layang-layang, artis favorit, makanan kesukaan, hewan peliharaan di rumah dan sebagainya. Nah, guru kreatif akan mengajak siswa untuk membuat coret-coretan di atas kertas. Langkah ini perlu dikoreksi satu persatu agar siswa bisa membuat karangan ala anak sekolah usia SD, SMP atau bahkan SMA.

Imajinasi tak terbatas dari siswa diarahkan pelan-pelan oleh guru. Saya sendiri, beberapa tahun mengajar di kelas III SD. Dahulu masih kurikulum 2006 (KTSP). Sepanjang ingatan saya, siswa kelas III waktu itu sudah belajar menulis karangan berdasar gambar seri dan menulis puisi.

Sebelum mereka terbiasa dan mahir dalam menulis, saya ajak siswa untuk menuliskan hal yang menjadi hobi, cita-cita dan lain-lain. Siswa putri biasanya menulis tentang bunga, binatang kesukaan, boneka, adik dan ibu. Siswa laki-laki akan senang menuliskan cerita kartun Naruto atau kisah hero lainnya. Itu tidak saya permasalahkan, yang penting para siswa bisa mengungkapkan dan menuangkan imajinasi dan bahan obrolan ke dalam bentuk tulisan.

Apakah Tulisan Mereka Langsung Sempurna? 

Saya sebagai guru masih terbatas dalam hal tulis menulis. Apalagi siswa yang masih belajar di bangku sekolah. Tentu masih perlu dikoreksi satu persatu.

Biasanya saya membaca pelan tulisan mereka. Lalu saya beri coret-coretan atau catatan agar siswa menyempurnakan tulisannya. Agar mereka paham, saya panggil satu persatu siswa yang telah mengumpulkan tugas tadi. Koreksian saya jelaskan, lalu saya meminta siswa untuk menulis ulang bagian tulisan yang perlu dibenahi.

Alhamdulillah, mereka pelan-pelan semakin bagus tulisannya. Baik itu karangan ataupun puisi.

Kekuatan Apresiasi dari Guru atas Tulisan Siswa

Sebagai apresiasi atas tulisan siswa, semua tulisan dipajang pada majalah dinding kelas. Apapun dan bagaimanapun hasilnya. Majalah dinding ini dibuat secara berkelompok untuk memupuk saling kerjasama dan kekompakan. Apresiasi lainnya, saat ulangan harian atau UTS maka ada tulisan siswa saya gunakan untuk bahan pembuatan soal. Itu saya lakukan secara acak dan bergantian. Dengan demikian siswa akan merasa senang dan semakin termotivasi untuk belajar menulis.

Sayangnya selama pandemi saya agak kesulitan untuk melakukan hal serupa bagi siswa dua angkatan masa pandemi ini. Namun saya tetap memberikan tugas menulis bagi siswa. Hasil pekerjaan belum dipajang di kelas, namun akan saya bukukan dan saya bagikan kepada semua siswa agar menjadi kenang-kenangan indah mereka.

Harapan saya, mereka tetap termotivasi untuk menulis cerita pengalaman, puisi dan sebagainya. Biar imbang antara cerita saat bersama teman dengan tuangan cerita dalam bentuk tulisan. 

Semoga.

Zahrotul Mujahidah

---

Tulisan telah tayang di Kompasiana sebagai Artikel Utama dan yang saya tayangkan di SG ini ada sedikit perubahan naskah dan tampilan.