Kunci Jitu Pembelajaran di Masa Pandemi

UNESCO mengungkapkan bahwa pandemi COVID-19 mempercepat penutupan sekolah di seluruh dunia yang dapat dikatakan setara dengan rata-rata 15 minggu (4 bulan) pada tahun 2020. Jika pembuat kebijakan dan keputusan bereaksi dengan cepat dan emmadai untuk mengurangi pembelajaran yang dihasilkan kerugian, lebih dari 100 juta pelajar mungkin jatuh di bawah tingkat kemahiran minimum dalam membaca, memperburuk kesenjangan belajar.
Selain itu, masa COVID-19 juga mempercepat revolusi industri, sehingga dapat berpengaruh pada pendidikan juga. Namun, pendidikan tetap harus menyesuaikan dengan watak dan karakter anak, selain itu juga harus selaras dengan siswa. Saat ini para guru menghadapi anak-anak yang berasal dari Generasi Z yang merupakan digital natives. Anak-anak digital natives memiliki ciri lahir di tahun ketika sudah terdapat digital/internet/teknologi, lalu handphone anak selalu on dan sangat bergantung dengan teknologinya, mengedepankan intuitive learners, multitask, sangat sosial, dan multimedia oriented.
Di tahun ini, terdapat 10 kemampuan yang diperlukan yaitu kemampuan memecahkan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, people management, berkoordinasi dengan orang lain, emotional intelligence, menilai dan membuat keputusan, service orientation, negosiasi, dan fleksibilitas kognitif. Hal ini diperlukan agar tidak tersesat dalam dunia digital dan mentranslasi memaknai dunia digital, serta dapat meningkatkan kemampuan adaptasi sehingga dapat menghadapi kondisi yang selalu berubah.
Dr. Suyoto, M.Si menambahkan selain dari 10 kemampuan tersebut, terdapat 3 kemampuan yang harus dimiliki oleh manusia di tahun ini, yaitu niat baik, berkontribusi untuk melakukan hal-hal baik dan bisa melakukan perubahan kebaikan (amal sholeh wa muslih), dan mengajarkan anak-anak untuk mampu hidup bahagia. Hal ini jika di top 10 skills of 2025 disebutkan sebagai resiliensi, yaitu toleransi stres dan fleksibilitas. Kebahagiaan juga diperlukan oleh anak karena dengan kebahagiaan, maka dapat mencegah anak untuk tersesat di dunia digital.
Charles Darwin mengungkapkan bahwa orang yang mampu bertahan bukan merupakan orang terkuat namun orang yang mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan berkembang untuk menjadi lebih efektif. Saat ini, Kemendiknas Indonesia telah mengenalkan 4C yaitu creative innovation, critical thinking, creative communication, dan collaboration. 4C ini juga diangkat sebagai keterampilan dasar yang harus dimiliki pelajar saat ini agar mampu responsif, kolaboratif, mampu mengembangkan berbagai hal agar menjadi lebih efektif yang dibantu oleh teknologi yang juga memiliki kemampuan memudahkan dan menjadi lebih efektif dalam melakukan sesuatu.
Guru memiliki tugas dan peran pendidikan yang sangat penting untuk membuat anak-anak siap agar bisa hidup lebih baik dan beradaptasi serta tidak tersesat di dunia digital. Maka dari itu, pendidikan juga tetap memiliki peran yang sama dengan dulu yaitu mengantarkan anak-anak agar siap hidup, sukses mendidik jika dilakukan dengan sepenuh hati, selalu terdapat perbedaan sehingga perlu memiliki upaya sepenuh daya diantara yang biasa saja, serta semangat kebangsaan dimana tidak pernah berhenti meningkatkan proses asih, asah, dan asuh.
Terdapat beberapa perbedaan yang terdapat di pendidikan yaitu sumber informasi dan radius pergaulan yang tidak terbatas. Data (internet dan data informasi) emnjadi kebutuhan hidup, memiliki bnayangan masa depan yang terbuka, dan realitas yang terdiri dari fisik dan virtual. Maka dari itu, diperlukan kegiatan pembelajaran hybrid untuk anak-anak.
Untuk memulai kegiatan pembelajaran hybrid maka diperlukan untuk membawa masalah nyata dalam proses belajar mengajar, menghadirkan berpikir kritis sebagai inovasi, mengajak kolaborasi menjadi lebih luas, mengantarkan anak-anak agar dapat berkomunikasi dengan baik dengan berbagai pihak, dan memperkuat awareness atau kesadaran. Kesadaran yang perlu diperkuat agar tidak tersesat di dunia digital adalah kesadaran spatial, kesadaran sosial, kesadaran kesejarahan, kesadaran computational (virtual, tempat berpikir dan kemampuan), dan kesadaran spiritual.
Einstein mengungkapkan cara berpikir creative inivative dapat dilakukan dengan menemukan masalah yang tepat, lalu memecahkan polanya, melanggar aturannya (tantang keyakinan umum dan diri), kemudian di akhir tumbuhkan solusinya. Revolusi industri 4.0 memiliki dampak pada umat manusia yaitu mengubah cara hidup, cara bekerja, cara berhubungan satu sama lain, dan cara belajar.
Maka terdapat fakta dari ekosistem digital yaitu hadirnya model baru dalam kehidupan (peran, pekerjaan, dan kemampuan), lalu PBM tidak hanya sekedar menindah ruang luring ke daring, serta perlu untuk cara berpikir baru yaitu computational awareness, kemampuan dan berpikir. Selain itu terdapat jejak digital dan perubahan dari mono channel ke multi-channel. Kebutuhan mengkombinasikan luring dan daring (hybrid competency), serta adanaya perubahan budaya hubungan guru dan murid.
Terdapat konsekuensi yang perlu dihadapi yaitu lebih terbuka pada cita-cita, manfaatkan bahan yang tidak terbatas, inklusif (kolaborasi lebih luas), dan ciptakan ruang pembeajaran bersama. Maka dari itu, diperlukan untuk merancang dan cari bahan yang relevan, serta memanfaatkan berbagai aplikasi. Peran guru saat ini perlu lebih berkembang yaitu tidak hanya menjadi pengajar namun juga menjadi katalisator (mengidentifikasi, menggali, dan mengoptimalkan potensi anak), penjaga gawang (membantu anak untuk mampu menyaring pengaruh negatif), fasilitator (membantu anak dalam proses pembelajaran, menjadi teman diskusi, serta bertukar pikiran), dan penghubung (menghubungkan anak dengan sumber belajar yang beragam).
Terdapat 4 kunci pembelajaran di rumah bermakna dan menyenangkan dari Sekolah Kharisma Bangsa yaitu kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi, pembelajaran terencana dan efektif, mampu menyatukan persepsi dan konsentrasi siswa (guru bisa menjadi motivator, fasilitator, mediator, dan komunikator), dan menguatkan karakter siswa. Selain itu, dapat dilakukan dengan memaksimalkan peran agar dapat menyiapkan anak mampu hidup, menangkap undangan kehidupan (kesadaran, kemampuan, dan prinsip yang. baru), dan menghadirkan PBM yang membahagiakan seperti berani hadapi tantangan.
Lost learning merupakan istilah yang mengacu pada pembelajaran yang diperoleh sebelumnya hilang, dengan konsekuensi yang tidak terhindarkan bahwa siswa kembali ke sekolah dengan pengetahuan yang lebih sedikit daripada yang mereka lakukan ketika mereka ke sekolah. Lost learning juga dapat didefinisikan sebagai kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar pada siswa.
Prof. Dr. M. Suyanto, M.M menyatakan bahwa kesempatan terbesar yang diberikan pembelajaran tatap muka adalah kemampuan untuk berdiskusi, berkolaborasi, berlatih, dan bermain peran yang dimana dilakukan secara 'langsung' dengan bimbingan dari guru yang ada. Selain itu, alat pembelajaran yang kuat juga meliputi menjadi bagian dari kelompok dan bertanggung jawab.
Menurut Inayat Khan cara belajar saat ini lebih menekankan dimensi intelektual, dengan mengesampingkan dimensi sentimental, yang dimana merupakan sisi terpenting. Hal ini seperti mendidik seseorang dengan mengeluarkan kehidupan darinya dan mengubah terlebih dahulu dari orang hidup menjadi orang mati. Kematian ini meliputi kematian jiwa, heroisme, dan kematian idealism yang telah memberikan pengaruh atas umat manusia selama ribuan tahun.
Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksud pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Prof. Dr. M. Suyanto, M.M mengungkapkan untuk mengurangi lost learning terdapat beberapa faktor kunci yaitu lingkungan sekolah yang positif, diferensiasi tingkat kemampuan, penilaian tingkat kemampuan, tingkat kompetensi sosial, rasa otonomi atau efikasi diri, dan penetapan visi. Lingkungan sekolah yang positif sangat penting karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya dengan orang-orang yang berpikiran sama dan memiliki prinsip bahwa belajar adalah perjalanan bersama.
Sedangkan pada diferensiasi tingkat kemampuan meliputi tidak hanya kesopanan dan rasa hormat terhadap siswa lain namun juga keadaan fisik para peserta. Selain itu, dapat memulai sesi pembelajaran dengan berdoa/meditasi untuk mengalihkan pikiran dari obrolan apa pun selama istirahat. Pada penilaian tingkat kemampuan berfokus pada kemampuan yang dapat muncul dengan adanya latihan. Siswa terbaik sering kali membentuk kelompok setelah sekolah dan bertemu setiap bulan untuk menjalankan kembali proses atau menyegarkan pengetahuan mereka dengan 'mendapatkan sumber daya' pada sekolah.
Keterampilan digital didefinisikan sebagai berbagai kemampuan untuk menggunakan perangkat digital, aplikasi komunikasi, dan jaringan untuk mengkases dan mengelola informasi. Hal ini memungkinkan orang untuk membuat dan berbagi konten digital, berkomunikasi dan berkolaborasi, serta memecahkan masalah untuk pemenuhan diri yang efektif dan kreatif dalam kehidupan, pembelajaran, pekerjaan, dan kegiatan sosial pada umumnya.
Keterampilan digital dasar yang akan dijadikan kebiasaan bagi generasi millenial dan generasi Z, meskipun perlu untuk dipelajari oleh geenrasi yang lebih tua seperti guru. Ki Hajar Dewantara memiliki 3 butir penting dalam pengajarannya yaitu keluhuran budi manusia, kecerdasan budi pekerti, dan kekeluargaan. Keluhuran budi manusia meliputi mementingkan segala nilai kebatinan dan menghidupkan semangat idealisme. Kecerdasan budi pekerti adalah masaknya jiwa seutuhnya atau character building. Sedangkan pada kekeluargaan adalah merasa bersama-sama hidup, susah-senang, dan tanggung jawab mulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga.
Di akhir sesi Dr. Suyoto, M.Si menyampaikan semangat dan motivasi untuk guru di Kabupaten Trenggalek melalui kutipan menyentuh yaitu hidup adalah perjalanan yang harus dihadapi bukan masalah yang harus ditakuti. Semua guru memiliki tanggung jawab dan merupakan garda terdepan untuk membuat generasi dapat hidup lebih enak di masa depan.
What's Your Reaction?






