Pahami 5 Hal Ini Agar Blended Learning Berjalan Maksimal!

Masa pandemi ini membuat proses belajar mengajar pada awalnya dilaksanakan secara virtual sepenuhnya. Diakibatkan oleh dibatasinya bertemu banyak orang, pembelajaran secara virtual menjadi pilihan satu-satunya. Namun, seiring berjalannya waktu pemerintah menerapkan sistem new normal, yang membolehkan pembelajaran diadakan secara tatap muka dengan syarat yang ditentukan.

Pahami 5 Hal Ini Agar Blended Learning Berjalan Maksimal!
Ilustrasai Blended Learning (sumber: Republika)

Blended learning menjadi sistem pembelajaran yang digunakan oleh sebagian besar sekolah baik sekolah dasar hingga beberapa universitas. Blended learning pada dasarnya merupakan penggabungan antara proses pembelajaran virtual dan tatap muka. Penerapan blended learning perlu persiapan dan penerapan yang terkonsep dengan baik karena blended learning dalam penerapannya lebih kompleks dibandingkan dengan pembelajaran yang secara keseluruhan tatap muka ataupun virtual. 

Blended learning akan menjadi efektif ketika peserta didik terlibat aktif untuk mampu memulai, menemukan dan menyelsaikan proses kontruksi pengetahuan sebagai anteseden dari efektivitas blended learning. Dalam pelaksanaan blended learning perlu strategi dan persiapan yang maksimal agar dapat berjalan dengan baik dan menimalisir kendala.

Berikut merupakan cara jitu agar blended learning berjalan dengan baik versi Jared M. Carman : 

1. Live Event
Guru membuat pembelajaran langsung secara tatap muka dalam waktu dan tempat yang sama, atau waktu yang sama tetapi berbeda tempat (virtual classroom). Pola pembelajaran ini perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru dapat mengombinasikan teori behaviorisme, kognitivisme, dan kontruktivisme sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.

2. Self-Paced-Learning
Guru dapat mengombinasikan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran mandiri kapan saja dan di mana saja baik dalam bentuk text-based atau multimedia-based berupa video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi dari semuanya yang dapat diakses secara online.

3. Collaboration
Guru mencipatakan kolaborasi secara baik antara guru dan siswa serta antara siswa dan siswa melalui media komunikasi yang telah ada. Kolaborasi diarahkan agar terjadinya kontruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain.

4. Assessment
Guru dapat mengukur pencapaian kompetensi siswa dengan mengombinasikan antara tes yang bersifat tes atau non-tes. Selain itu juga guru perlu mempertimbangkan rumusan antara bentuk asesmen online dan asesmen offline, sehingga dapat memberikan kemudahan dan fleksibilitas siswa dalam mengikuti pembelajaran atau tes.

5. Performance Support Materials
Guru harus memastikan agar materi pembelajaran dapat disiapkan dalam bentuk digital dan semua siswa dapat mengaksesnya secara online ataupun offline. 

Kelima hal tersebut diharapkan dapat membantu guru untuk mempersiapkan blended learning dengan baik. Dalam menerapkan blended learning ini selain strategi pelaksaannya yang harus disusun dengan matang, perlu juga kordinasi yang baik dengan siswa, tentunya guru tidak bisa mengawasi secara penuh dalam pembelajaran virtual, oleh karena itu perlu inisiatif siswa agar tidak hanya mengandalkan materi yang diberikan oleh guru saja, tetapi mencari materi pembelajaran dari berbagai sumber untuk menunjang proses pembelajaran.

Dewi Rosa