Mau Berhasil? Ubah Pola Pikir Anda

Opportunity Based Thinking merupakan sebuah upaya agar siswa tidak hanya baik soal akademik saja, melainkan juga meningkatkan karakter non-kognitif atau sikap. Fondasi ini terbukti memiliki hasil yang baik. Pendidikan nasional sebaiknya menerapkan OBT agar tidak terperosok di peringkat rendah PISA.

Mau Berhasil? Ubah Pola Pikir Anda
Motivasi siswa menurun saat PJJ [ist]

BOSAN dan lelah belajar online? Wajar-wajar saja. Apalagi sudah hampir 2 tahun kita menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) gara-gara pandemi. Rasa bosan dan kelelahan panjang ini akan menurunkan motivasi belajar.

Ambruknya motivasi siswa saat pembelajaran daring dikarenakan banyak faktor, mulai dari dukungan orang tua yang belum terpenuhi, rasa malas, banyak gangguan yang mengakibatkan siswa tidak fokus untuk belajar, materi atau media pembelajaran yang kurang menarik, minat baca yang rendah, atau faktor lain baik internal maupun eksternal. Hal tersebut membuat kualitas pendidikan Indonesia sangat rendah dibanding negara-negara berkembang lainnya. 

Walaupun secara personal banyak siswa Indonesia yang mendapat penghargaan di tingkat dunia, namun secara umum Organisation for Economic Co-operation and Development’s (OECD) dalam Program International Student Assesment (PISA) dari tahun 2000 hingga 2018 menilai kualitas pendidikan Indonesia masih sangat rendah. Bayangkan, dari tahun 2000 hingga 2018 kita menyandang peringkat rendah dalam hal membaca, matematika dan sains. Kita di urutan 3 terbawah dan 6 terbawah di seluruh dunia selama 18 tahun. Miris bukan...

Pakar pendidikan modern Ir. Drs. Djohan Yoga,M.Sc., MoT, Ph.D dalam webinar pendidikan untuk guru-guru di Kabupaten Sleman pada Kamis (12/8) lalu mengungkap bahwa OECD setiap 3 tahun menganalisis dan mensurvei pendidikan di dunia, sementara skor Indonesia dari skala 1000 yang dibagi dalam tiga aspek yaitu membaca pada tahun 2000 memiliki poin 371 kemudian 18 tahun setelahnya yaitu 2018 Indonesia masih memiliki skor 371, yang artinya tidak ada peningkatan sama sekali.

Lalu, untuk aspek matematika, pada tahun 2000 memiliki skor poin 360 sementara 2018 mencetak poin 379 yang mana hanya 19 poin dari jumlah 18 tahun. Terakhir, aspek sains dari tahun 2000 memiliki poin 393 hingga tahun 2018 hanya menambah 3 poin saja dengan total 396. Juga rata-rata hanya sekitar 500.

Tidak ada perubahan kualitas pendidikan Indonesia seharusnya menjadi perhatian khusus seluruh pemangku kepentingan. Ada apa? Apa penyebabnya?

Di balik skor yang tidak ada perkembangan yang signifikan, Djohan Yoga menilai ada motivasi dan prestasi (achievement) sangat rendah di peserta didik. Bahkan, lebih dari 60% siswa di Indonesia tidak percaya diri atau tidak meyakini bahwa mereka akan bisa lebih pintar. Alias putus asa atas 'takdir' yang dimilikinya tanpa berusaha.

Maka dari itu pendidikan nasional harus putar arah. Harus ada sebuah fondasi yang kuat untuk tetap menopang motivasi peserta didik. Dimulai dari perubahan pola pikir (mindset). Salah satunya dengan OBT atau Opportunity Based Thinking. Fondasi berpikir ini berkaitan erat dengan growth mindset atau keyakinan bahwa setiap orang mau dan bisa belajar, cara berpikir yang akan membuat siswa terus berkembang dan bertumbuh, bukan malah menjadikan semuanya tantangan menjadi hambatan, tetapi mengubahnya menjadi peluang.

OBT diterapkan agar bisa menarik perhatian siswa dan tujuan pembelajaran tercapai. Contohnya yaitu guru mengajarkan bagaimana siswa harus bekerja keras, gigih dalam belajar, tidak mudah menyerah, sabar, bisa menghadapi masalah dan membangkitan semangat pada saat menerima kegagalan atau terpuruk dalam kondisi seperti pandemik ini.

OBT juga merupakan sebuah upaya agar siswa tidak hanya baik soal akademik saja, melainkan karakter non-kognitif atau sikap. Penerapan fondasi ini sudah memiliki hasil yang baik. Menurut penjelasan Djohan, OBT berpengaruh positif terhadap motivasi dan achievement para siswa.

Mengapa OBT dan growth mindset perlu untuk diterapkan? Karena mindset is everything. OBT bisa membuat siswa berpikir; “Apa yang akan ia pelajari saat kondisi pandemi dan apa yang bisa ia kembangkan untuk masa depan.” 

Mulailah ubah pola pikir di kelas. 

REGINA MAHESWARI SANIPUTRI