Bisakah Kita Mengajar Seperti Dulu?

17 bulan mengajar online membuat guru-guru Indonesia lelah, bosan dan ingin kembali seperti sebelum pandemi. Tapi dunia tidak bisa diputar balik. Sekolah harus mulai mengadopsi sistem blended learning.

Bisakah Kita Mengajar Seperti Dulu?
Ir. Drs. Djohan Yoga, M.Sc, MoT, PhD [wikimedia]

PANDEMI mengubah banyak hal. Salah satunya sekolah. Dulu bisa tatap muka, sekarang tidak bisa lagi, harus lewat daring (online). 

Pembelajaran jarak jauh yang telah berlangsung 17 bulan ini melelahkan, bikin bosan. Guru-guru banyak  yang mengeluh dengan kondisi seperti ini. Mereka membayangkan, berandai-andai dan mempertanyakan “Kapan sistem pembelajaran seperti ini akan berakhir dan kembali ke awal sebelum adanya wabah Covid-19?”.

Semua guru pasti menginginkan hal tersebut terjadi; belajar di sekolah, tidak ada pembelajaran online, bertemu dengan murid-murid di sekolah, tidak perlu menggunakan video conference, menggunakan metode pembelajaran yang ‘nyata’, tidak perlu menyusahkan orang tua siswa, meminimalisir keluhan akibat pembelajaran jarak jauh, dan hambatan lainnya yang menjadi momok yang menakutkan bagi para guru.

Dalam satu perubahan hal seperti ini wajar-wajar saja. "Semua hal memang sulit pada awalnya," ungkap pakar pendidikan Ir. Drs. Djohan Yoga, M.Sc., MoT, Ph.D. dalam webinar pendidikan untuk guru-guru Kabupaten Sleman, Kamis (12/8).

Konsultan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan di Asia-Pasifik ini mengemukakan bahwa bentuk pembelajaran yang hari ini dilaksanakan tidak akan kembali seperti sebelum adanya wabah. Pendidikan di seluruh dunia juga menghadapi masalah sama. Dalam arus maju tidak ada titik mundur lagi. Realitas ini hanya dapat disikapi dengan perubahan pola pikir (mindset) para guru. Ada guru yang menganggap ini sebagai hambatan, kendala, namun guru yang berpikiran terbuka dan optimis menganggap situasi ini sebagai tantangan dan peluang. Yang pasti tidak ada yang bisa membalik waktu.

"Guru tidak bisa kembali ke pembelajaran era tahun 2019. Hal itu hanya akan menjadi kenangan saja," kata Djohan Yoga mengingatkan. 

Selama pandemi dan menuju era new normal, sekolah mengalami revolusi. Model pembelajaran yang dilakukan hybrid learning atau blended learning, di mana guru dan sisiwa bisa belajar secara dua opsi yaitu pembelajaran tatap muka (PTM) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Beberapa sekolah atau universitas sudah menerapkan model tersebut. Namun karena angka korban Covid-19 semakin bertambah, maka guru mau tidak mau harus stay di model pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Jika nanti kondisi sudah bisa dilaksanakan pembelajaran tatap muka, maka model blended learning bisa diterapkan. Misalnya tiga hari siswa dan guru bisa belajar di sekolah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, sementara dua hari bisa dilakukan dengan metode jarak jauh. Hal ini sangat menguntungkan bagi sekolah dan guru yang ingin melaksanakan praktik seperti sekolah menengah kejuruan, atau ujian akhir yang mengharuskan untuk adanya penerapan teori di permasalahan yang nyata.

Semua metode pembelajaran pasti ada kelebihan dan kekurangan. Seorang guru mungkin harus putar otak untuk bisa menyusun kembali model blended learning tersebut karena keduanya akan sangat berbeda penerapannya. Kondisi seperti ini sangat bisa membuat guru menjadi semakin kreatif dan berkembang dari segi mindset walaupun tanpa kembali ke pembalajaran sebelum terjadinya wabah Covid-19. Lupakan masa lalu. Guru dan murid sama-sama belajar untuk melangkah ke masa depan. 

Demikian catatan Ir. Drs. Djohan Yoga, M.Sc., MoT, Ph.D.

REGINA MAHESWARI SANIPUTRI