Sastra Tumbuhkan Sikap Religius dan Sosial

Sastra Tumbuhkan Sikap Religius dan Sosial

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten *)

SahabatGuru - Tidak setiap orang diberikan karunia untuk menjadi seorang sastrawan. Sastrawan mampu mengkreatifkan bahasa ditambah dengan kemampuan mengimajinasikan sebuah problematika kehidupan. Sastrawan menyuarakan masyarakat berdasarkan pandangannya karena ia tidak bisa melepaskan dirinya dari masyarakatnya.

Seorang sastrawan memiliki tingkat literasi yang cukup tinggi. Kebiasaan membaca bukanlah sesuatu yang baru bagi seorang sastrawan. Maka, tidak jarang buku lebih utama daripada kebutuhan lainnya. Membaca bagian dari kehidupannya.

Dunia pendidikan khususnya sekolah perlu menangkap peluang ini. Sisi-sisi menarik yang dimiliki oleh seorang sastrawan perlu digali dan diberdayakan dalam dunia pendidikan. Taufiq Ismail bersama timnya pernah mengadakan program sastrawan masuk sekolah. Program ini bagus karena peserta didik dapat bertemu dan bertanya langsung mengenai proses kreatif seorang sastrawan dalam menciptakan karya sastra.

Apresiasi Sastra

Apresiasi sastra bisa dimaknai sebagai menghargai, menghayati, menilai sebuah karya sastra. Dalam proses pembelajaran sastra, ruh apresiasi ini belum optimal dijalankan hingga peserta didik belum memperoleh makna dari sebuah karya sastra. Karya sastra itu memuat beragam nilai-nilai kehidupan bagi kemaslahatan umat manusia. Peserta didik bisa belajar beragam kehidupan dari karya sastra.

Soni Farid Maulana (2012) menyatakan bahwa tidak sedikit guru sastra yang menempatkan puisi sebagai makhluk misterius yang menakutkan. Jika guru mampu menginovasi pembelajarannya, niscaya pernyataan di atas akan bisa diubah. Peserta didik bisa menikmati karya sastra secara utuh di tangan guru-guru yang kreatif. Memang harus diakui bahwa pemanfaatan bahasa dalam puisi memang berbeda dalam pemakaian bahasa pada umumnya. Hal ini secara instingtif disadari oleh kebanyakan pembaca (guru maupun peserta didik).

Puisi memang menggunakan kata-kata yang berbeda dengan kata sehari-hari, terutama dalam hal strukturnya. Penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan untuk pencapaian estetis. Puisi lebih mengutamakan hal-hal yang intuitif, imajinatif dan sintetis (Suminto A Sayuti, 2002).

Guru sastra hendaknya menyadari hal ini. Untuk itu, guru perlu terus menggali dan membelajarkan peserta didik hingga bisa menemukan hakikat sejati dari sebuah karya kreatif, lebih-lebih puisi. Artinya, peserta didik bisa merasakan langsung apresiasi yang dikembangkan dalam proses pembelajaran. Nilai-nilai yang termuat dalam sebuah karya sastra diresapi oleh peserta didik. Nilai-nilai itu misalnya sikap religius dan sosial dalam sebuah puisi.

Sikap Religius

Sikap religius dan sosial perlu ditumbuhkembangkan mengingat tantangan dalam dunia pendidikan semakin kompleks. Penelaahan maupun penikmatan karya sastra bisa membangkitkan semangat religius dan semangat bersosial. Mental, emosi, sikap peserta didik perlu disiapkan sedari awal. Guru kreatif akan dengan mudah memberikan contoh karya sastra yang di dalamnya termuat semangat ini. Misalnya, puisi Doa karya Chairil Anwar,.../ Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling//

Chairil Anwar sebagai representasi penyair revolusioner dan paham individualisme (AG Hadzarmawit Netti, 2011) ternyata tidak bisa menolak kekuatan Tuhan. Kebesaran Tuhan merasuki hatinya. Chairil berserah diri ke hadapan Tuhan. Ini menandakan betapa rendah hatinya seorang penyair besar seperti Chairil Anwar.

Guru juga bisa mencontohkan puisi Tetet Cahyati, Cahaya Ramadhan: serpihan cahaya yang damai/ membuat terjaga/ Engkau tersenyum dalam doa/ Perlahan kubuka tirai kasih/ penuh syukur// Bulan perak/ Bersembunyi di balik awan hitam/ Dalam sunyi dalam gelap aku menggapai cahayaMu/ Sentuhan halus nan lembut/ Dalam sanubari penuh tobat/Aku rasakan, aku sujud kembali/ Berserah diri ke haribaanMu//

Puisi religius di atas bisa menggugah peserta didik akan kebesaran Tuhan. Bulan Ramadhan penuh rakhmat, penuh cinta kasih Tuhan, penuh ampunan. Bulan yang senantiasa dirindukan datangnya. Bulan suci penuh kemuliaan (Soni Farid Maulana, 2012).

Kesadaran religius yang dirasakan oleh penyair bisa menyentuh hati peserta didik. Mutiara-mutiara yang terpendam dalam puisi perlu ditemukan oleh seorang guru. Di sinilah peran guru dalam menumbuhkan sikap-sikap mulia sedari awal. Dunia pendidikan memberikan tempat yang terhormat bagi seorang guru untuk menumbuhkan nilai-nilai mulia ini.

Sikap Sosial

Kehidupan sosial bisa digali dalam sebuah karya sastra. Sikap sosial ini menyangkut pandangan penyair terhadap kehidupan masyarakatnya, apakah sayang, welas asih, marah, ataupun mengkritisi kehidupan. Aminuddin (2011) memberikan rambu-rambu agar bisa menemukan unsur kehidupan sosial, (1) membaca puisi yang diapresiasi secara berulang-ulang untuk menemukan totalitas maknanya; (2) menafsirkan dan menyimpulkan judul puisi, kata-kata, baris atau kalimat di dalamnya; (3) menafsirkan hubungan makna antara baris yang lain untuk memahami satuan makna yang terdapat dalam sekelompok baris atau bait dalam puisi; (4) mengidentifikasi unsur sosial kehidupan yang dikemukakan penyair; dan (5) mengidentifikasi sikap penyair terhadapnya.

Misalnya puisi Toto Sudarto Bachtiar, Gadis Peminta-minta: Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil/ Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka/ Tengadah padaku, pada bulan merah jambu/ tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa// Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil/ Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok/Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan/ Gembira dari kenyamanan riang// Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral/ Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal// Jiwamu begitu murni, terlalu murni/ Untuk bisa membagi dukaku//

Puisi ini mengekspresikan keharuan terhadap seorang peminta-minta, ada rasa kesetiakawanan muncul dalam diri peserta didik jika membaca dan menikmati puisi ini bahwa masih banyak saudara-saudaranya yang kurang beruntung dibanding dirinya yang sudah bisa bersekolah.

Guru bisa menumbuhkan sikap sosial peserta didik agar bisa hidup berbagi dengan sesama. Semangat mencintai hidup, menghormati sesama bisa dimunculkan melalui puisi ataupun karya sastra lainnya. Karya sastra memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bisa merasakan getar-getar problematika sosial yang dekat dengan dirinya.

Hal ini akan mengurangi rasa egoisme peserta didik. Guru yang memberikan pembelajaran sastra yang mampu menumbuhkan kesadaran sosial akan selalu dikenang oleh peserta didik. Jiwa-jiwa sosial yang sudah ada dalam diri peserta didik bisa dibangkitkan kembali melalui pembelajaran.

Karya sastra menyimpan beragam nilai luhur, sikap religius maupun sosial. Karya sastra tercipta dari sebuah pertemuan, pergumulan sastrawan dengan problematika hidup dan kehidupan hingga tidak bisa dilepaskan dari sosial masyarakatnya. Guru dalam pembelajaran dapat menggali nilai-nilai itu melalui pembelajaran yang apresiatif dan kreatif.

Peserta didik bisa merasakan keindahan, derita sesama, kekaguman pada kebesaran Tuhan, sikap rendah hati melalui pembelajaran sastra. Kreativitas guru dalam pembelajaran amat diperlukan hingga nilai-nilai yang tersimpan dalam karya sastra bisa diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.* 

*) Penulis adalah Pengawas di Dinas Pendidikan Provinsi Bali, Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013, menulis beberapa buku kumpulan cerpen dalam bahasa Indonesia dan Bali serta kajian sastra