Kenali 6 Literasi Dasar Ini. Guru Perlu Tahu!

Kenali 6 Literasi Dasar Ini. Guru Perlu Tahu!
6 literasi dasar (animation by teachthought.com)

Literasi secara tradisional dianggap sebagai kemampuan membaca dan menulis. Namun pada kenyataanya literasi tidak hanya perihal kemampuan membaca dan menulis. National Institute for Literacy memposisikan literasi mengarah pada konteks ke lingkungan. Yakni kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.

Dengan pemahaman tersebut, kurangnya keterampilan literasi dapat menahan seseorang di setiap tahap kehidupan mereka. Sebagai seorang siswa, mereka tidak dapat berhasil di sekolah. Sebagai orang dewasa, mereka akan kalah bersaing di dunia kerja, dan sebagai orang tua mereka tidak dapat mendukung proses pembelajaran anak mereka. 

Kemampuan literasi sangatlah penting dalam menunjang kehidupan. Seseorang dengan kemampuan literasi yang rendah, mungkin tidak dapat membaca buku, memahami rambu-rambu jalan, mengerti label harga, memahami jadwal keberangkatan kendaraan umum, membaca petunjuk tentang obat-obatan, atau bahkan tidak mampu menggunakan internet. Terdapat 6 literasi dasar yang wajib dikuasai oleh semua kalangan. 

1. Literasi Baca-Tulis
   Literasi baca-tulis menjadi kemampuan yang paling penting dikuasai. Karena sangat berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Membaca menjadi kunci ilmu pengetahuan, sedangkan menulis sebgai penyeimbang untuk menyampaikan apa yang ada dipikiran. Menurut Kemendikbud (2017) dalam gerakan literasi nasional. Literasi baca-tulis diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial. Seiring berjalannya waktu literasi baca-tulis dipahami sebagai kemampuan berkomunikasi sosial dalam masyarakat. Sehingga masyarakat sering menganggap literasi baca-tulis sebagai kemahiran berwacana.  
 
2. Literasi Numerasi 
    Literasi numerasi diartikan sebagai kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan, memahami angka, dan simbol-simbol matematika dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan ini juga sangat penting, bayangkan jika kita pergi belanja tidak membawa cukup uang karena tidak tahu cara berhitung atau ketika kita mempunyai sebidang tanah namun tidak tahu nilai tanahnya dan melepaskan begitu saja saat ada yang menawar. Kemampuan literasi numerasi sangat penting karena berhubungan dengan pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan sehari-hari. Kemendikbud (2017) menyebutkan ketika kita menguasai numerasi, kita akan memiliki kepekaan terhadap numerasi itu sendiri (sense of numbers) dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.  

3. Literasi Sains
    Literasi sains berhubungan dengan kemampuan manusia untuk memahami pengetahuan dan kecakapan ilmiah dengan menciptakan, membangun, atau mengorganisasikan pengetahuan dalam memahami alam semesta. Dalam hal ini, literasi sains penting untuk membentuk pola pikir, karakter, perilaku, rasa peduli dan tanggungjawab manusia atas dirinya, masyarakat dan alam semesta. 

4. Literasi Finansial 
    Literasi finansial berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumber daya keuangan secara efektif. Kemampuan literasi finansial ini penting sebagai dasar bagi setiap orang untuk meminimalisasi, mencari solusi, dan membuat keputusan yang tepat dalam masalah keuangan. Dengan kecakapan literasi finansial kita dapat mengelola dan mengatur finansial agar bijaksana dalam memprioritaskan antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.

5. Literasi Digital 
    Sebagai seorang literat yang cakap digital berarti kita dapat memproses berbagai informasi, dapat memahami pesan dan berkomunikasi efektif dengan orang lain dalam berbagai bentuk. Literasi digital ini penting dalam kehidupan sehari-hari karena dengan kecakapan literasi digital kita mampu menciptakan, mengkomunikasikan, mengolaborasi, dan bekerja dengan memadukan dunia digital termasuk juga memiliki kesadaran akan dampak positif dan negatif akibat penggunaan teknologi. Dengan kemampuan cakap literasi digital, kita dapat mencipatakan pola pikir yang praktis, kreatif dan inovatif. 

6. Literasi Budaya
   Literasi budaya berhubungan dengan kecakapan berbudaya atau dapat dipahami sebagai kemampuan kita dalam memahami keragaman budaya, menerima perbedaan, mampu beradaptasi, serta menyikapi keberagaman Indonesia. Kecakapan dalam literasi budaya juga penting agar kita tetap dapat menjaga stabilitas budaya dan identitas negara dari pengaruh global yang masuk. 

Pada dasarnya perjalanan literasi seseorang dimulai ketika ia lahir. Bayi tersenyum atau menangis untuk mengomunikasikan kebutuhan mereka kepada orang tua, balita membentuk kata-kata pertama mereka, atau bahkan anak kecil menafsirkan simbol-simbol di sekitar mereka. Oleh karena itu peran orang tua sangat penting dalam perkembangan literasi anak. Pengembangan literasi dasar pada anak dapat dimulai di lingkungan keluarga dengan memberikan contoh dan praktik yang baik sehingga dapat menjadi teladan bagi anak agar memiliki kecakapan literasi.

Orang tua harus menciptakan lingkungan sosial yang komunikatif dan interaktif dalam keluarga sehingga membantu pemahaman anak agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari. 

AULIA A.

Referensi :

Alberta edu. 2017. “What is Literacy” (Online), https://education.alberta.ca/literacy-and-numeracy/literacy/everyone/what-is-literacy/,  diakses pada 06 Desember 2021

Kemendikbud. 2017. "Gerakan Literasi Nasional" (Online), https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/, diakses pada 06 Desember 2021

National Literacy Trust. 2017. "What is Literacy" (Online), https://literacytrust.org.uk/information/what-is-literacy/, diakses pada 06 Desember 2021