Growth Mindset untuk Guru di Era Digital

Growth Mindset untuk Guru di Era Digital
Dr. Suyoto, M.Si dalam webinar pendidikan Kabupaten Pakpak Bharat [indah-st]

SahabatGuru - Dalam “Webinar Pendidikan Kabupaten Pakpak Bharat” (2/9), tokoh pendidikan Dr Suyoto, M. Si., menekankan pentingnya perubahan pola pikir (mindset) guru-guru Indonesia. Bupati berprestasi yang membawa Bojonegoro menjadi percontohan pada ajang Open Government Partnership (OGP) Subnational Government Program setara Madrid dan Texas ini membahas mengenai fixed mindset sebagai hambatan utama menuju digital culture.

Ketika sedang menghadapi masalah, banyak orang hanya berfokus pada masalah dan berbagai keyakinan, atau yang biasa disebut sebagai mindset. "Padahal, hal utama yang paling penting dalam pemecahan masalah adalah dari dasar pemikiran atau mindset yang merupakan cara pandang, asumsi, dan kebiasaan yang menjadi dasar seseorang berpikir, bersikap, dan bertindak," jelas Suyoto.

Proses dalam diri tersebut mempengaruhi kesimpulan dan perbuatan individu. Hal ini dikarenakan banyak orang yang tidak menyadari dan mengetahui mengenai mindset seperti apa yang dimilikinya.

Fixed mindset berfokus pada kemampuan yang menjadi dasar pemikiran. Hal ini dapat dilihat dari seringnya pikiran seperti tidak suka menghadapi tantangan, mudah menyerah dalam situasi tertekan, hanya ingin dipuji tidak mau belajar hal baru, sulit untuk menerima kritik, di saat menghadapi kegagalan hanya berpikir bahwa tidak mampu dan tidak ada keinginan untuk bangkit atau belajar dari kegagalan tersebut, serta ketika ada seseorang yang sukses maka akan merasa terancam.

Sedangkan pada growth mindset memiliki dasar pemikiran pada usaha dan perilaku. Seseorang yang memiliki growth mindset memiliki tekad, hati, dan pikiran yang terbuka dimana dapat memunculkan keyakinan dan keinginan untuk terus belajar hingga mampu menguasai, menyukai mencoba hal baru, ketika menghadapi kegagalan maka belajar untuk bangkit dan menjadi pembelajaran untuk ke depannya, serta ketika ada orang yang sukses maka akan merasa terinspirasi.

Keyakinan seseorang dapat sangat mempengaruhi cara seseorang untuk memahami permasalahan dan tindakan apa yang dapat diambil. Untuk mengenali proses berfikir dan dari mana asal dari tindakan seseorang akan sangat membantu untuk memahami kompleksitas. "Perubahan sistemik hanya dapat dilahirkan dari pemahaman yang mendalam dan komprehensif," papar Suyoto.

Terdapat tiga pilar utama dalam membangun organisasi pembelajar yaitu aspirasi, percakapan generatif, dan memahami kompleksitas.

Aspirasi terdiri dari adanya berbagai visi bersama dan memiliki keunggulan pribadi di mana mampu membedakan kehidupan personal dan organisasi. Pada percakapan generatif terdiri dari pemahaman pada model mental atau mindset dirinya sendiri dan pembelajaran tim. Dan yang terakhir dalam memahami kompleksitas diperlukan berpikir sistemik yang mampu bekerja sama dan memiliki prinsip menjadi satu kesatuan.

Dr. Suyoto, M.Si mengutip teori Charles Darwin:  seseorang yang mampu bertahan bukanlah orang paling kuat atau paling cerdas melainkan orang yang paling responsif pada perubahan.

Resposif dapat berbentuk kemampuan seseorang dalam beradaptasi dan menyesuaikan dengan perubahan. "Hal tersebut dapat terjadi ketika seseorang memiliki growth mindset," ungkap Suyoto.

Masa pandemi ini telah mempercepat manusia untuk memasuki revolusi industri 4.0 dan membuat seluruh manusia menghadapi berbagai perubahan. Semua orang saat ini menghadapi dampak yang sama seperti mengubah cara hidup, cara bekerja, cara berhubungan dengan orang lain, dan yang paling utama adalah cara belajar.

Weseorang memiliki growth mindset akan dapat memunculkan kualitas kesadaran pada diri, spasial, sosial, dan kesejahteraan. Selain itu, pribadi tersebut akan dapat berkontribusi positif, dan memiliki integritas teguh pada janji kebangsaan. Seseorang yang memiliki growth mindset dalam digital culture dapat belajar memanfaatkan dan menggunakan internet dengan baik dan tidak membuat adiktif.

Seseorang yang memiliki keinginan untuk belajar selalu menerima keadaan dan memaknai keadaan dengan cerdas, selalu menemukan cara untuk tumbuh, serta selalu menemukan cara untuk hidup lebih baik secara mandiri dan bersama.

Jadi, para guru Indonesia, mari kita mulai mengubah mindset agar dapat terus belajar dan mengembangkan kompetensi di era digital ini.