Ini Mata Pelajaran yang Paling Sulit Dipahami Selama PJJ 

Mata pelajaran eksakta dan ilmu alam masih menjadi yang paling sulit selama PJJ. Rinciannya: matematika, kimia, fisika dan biologi. Tren ini teradi di seluruh dunia. Kesimpulannya sederhana: ketika dunia modern menghadapi situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya, para pengajar dan edukator harus menguasai keterampilan mengajar terbaru.

Ini Mata Pelajaran yang Paling Sulit Dipahami Selama PJJ 
Ilustrasi Pembelajaran Jarak Jauh [Net]

SURVEI Kaspersky baru-baru ini menunjukkan mata pelajaran yang paling sulit dipahami oleh anak-anak di kawasan Asia Pasifik selama pembelajaran jarak jauh adalah eksakta dan ilmu alam, matematika (48 persen), kimia (28 persen), fisika (25 persen) dan biologi (25 persen). Tren ini juga hampir sama ditunjukkan pada wilayah lain secara global.

Mayoritas anak-anak di Asia Pasifik tidak menyukai belajar online karena harus menghabiskan banyak waktu di depan layar 74 persen. Masalah teknis yang sering terjadi juga menjadi salah satu faktor kekecewaan 60 persen.

Survei juga menunjukan, 57 persen siswa juga lebih sulit untuk memahami materi pendidikan pada pembelajaran jarak jauh dibandingkan dengan kelas offline. Jika disuruh memilih, separuh anak-anak di kawasan Asia Pasifik (55 persen) lebih memilih pendidikan tatap muka. Mereka mengaku merindukan aktivitas bermain dan mengobrol dengan teman-teman di sela-sela kelas.

Survei dan dilakukan pada periode April-Mei 2021. Responden di Asia Pasifik meliputi 517 orang tua dan guru serta 64 anak yang sedang mengikuti pembelajaran online. Survei dilakukan oleh Toluna (Online Market Intelligence) ditunjuk oleh Kaspersky.

Head of Online Child Safety Department di Kaspersky, Andrey Sidenko, mengatakan transisi menuju pembelajaran jarak jauh selama pandemi telah menjadi tantangan nyata bagi anak-anak, orang tua dan guru.

“Meskipun cara offline masih merupakan bentuk pendidikan sekolah yang paling efektif, menurut kami, penting untuk memperkenalkan berbagai elemen digital dan interaktif ke dalam proses pendidikan,” kata Sidenko melalui siaran persnya, Selasa (3/8).

Sebanyak 68 persen orang tua di kawasan Asia Pasifik menyatakan tidak ingin melanjutkan format pembelajaran ini setelah pandemi. Alasan utamanya adalah kekhawatiran tentang anak-anak yang menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar (68 persen) dan penurunan kualitas pendidikan secara umum (48 persen).

Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky Chris Connell menambahkan, pembelajaran jarak jauh selama pandemi nyatanya telah membuat semua orang yang terlibat mengalami stres dan kelelahan, baik itu terhadap anak-anak, orang tua dan guru. 

“Ini dapat dilihat dengan jelas di polling. Kesimpulannya sederhana: ketika dunia modern menghadapi situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya, para pengajar dan edukator harus menguasai keterampilan mengajar terbaru untuk pembelajaran jarak jauh menggunakan berbagai alat digital yang dikombinasikan dengan pembelajaran offline,” tutup Chris Connell. 

ROBI