Jangan Jadi Guru Yang Membosankan

Jangan Jadi Guru Yang Membosankan

Sering kita dengar anak-anak murid kita berkerumun sambil membicarakan guru-guru mereka. Ada guru yang enak, ada yang model killer yang menakutkan, ada guru yang biasa-biasa saja. Yang dibicarakan dengan nada tidak enak adalah guru yang bicaranya keras di depan kelas, sambil hanya membaca buku teks. Dan suasana seperti itu terjadi sepanjang jam pelajaran. Monoton. Membosankan. 
Yang terhormat para sejawat guru seluruh dunia, kita semua memiliki kesempatan untuk tidak menjadi guru seperti itu. Kita harus bisa memunculkan kilatan minat di mata siswa-siswa saat di kelas, yang bersemangat terlibat dalam mata pelajaran kita, yang energinya muncul dalam kelas. Bagaimana kita menciptakan lingkungan yang membuat siswa lebih terstimulasi dan lebih bersemangat? Bagaimana kelas bisa bersenang-senang lagi?
Satu studi tentang kebosanan siswa menyatakan bahwa hampir 60 persen siswa merasa paling tidak setengah dari jam belajar mereka membosankan. Dan sekitar 30 persennya mengklaim bahwa sebagian besar atau semua jam kelas mereka membosankan.
Dr Sandi Mann, seorang dosen senior dalam psikologi kerja di University of Central, Lancashire, Inggris, dan rekan-rekannya menemukan bahwa siswa mengadopsi berbagai strategi untuk mengatasi jam pelajaran yang membosankan. Yang paling populer adalah melamun (75 persen), mencoret-coret (66 persen), mengobrol dengan teman (50 persen), mengirim teks (45 persen), dan memberikan catatan kepada teman (38 persen). Lebih dari seperempat siswa meninggalkan kelas pada istirahat pertengahan sesi. Dan enggan kembali ke kelas. Absensi ini berpotensi serius, karena penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan antara kehadiran dan nilai.

Salah satu cara paling sederhana dan paling efektif untuk mencegah kebosanan adalah bersenang-senang sendiri. Jika Anda bersenang-senang, kemungkinan besar siswa Anda juga akan senang belajar.

Dalam sebuah makalah tahun 2002 berjudul The Ripple Effect: Penularan Emosional dan Pengaruhnya terhadap Perilaku Kelompok, peneliti Universitas Yale Sigal G. Barsade memisahkan 94 mahasiswa bisnis menjadi kelompok-kelompok kecil. Masing-masing dengan tugas hipotetis yang sama soal alokasi bonus karyawan. Barsade diam-diam menanam satu siswa di setiap kelompok untuk memerankan emosi yang berbeda: antusiasme, permusuhan, ketenangan, atau depresi. Ketika penyusup antusias, dia sering tersenyum, menatap tajam ke mata orang-orang, dan berbicara dengan cepat. Ketika dia pura-pura depresi, dia berbicara perlahan, menghindari kontak mata, dan membungkuk di kursinya.
Barsade mengukur suasana hati peserta sebelum dan sesudah latihan dan menemukan bahwa siswa yang menangkap emosi positif aktor dirasakan oleh orang lain dan oleh mereka sendiri sebagai lebih kompeten dan kooperatif. Kelompok-kelompok positif juga percaya bahwa mereka lebih kolegial daripada kelompok-kelompok dalam suasana hati yang buruk. Tetapi ketika Barsade bertanya kepada siswa apa yang mempengaruhi kinerja mereka, mereka menghubungkannya dengan keterampilan mereka. "Orang-orang tidak menyadari bahwa mereka dipengaruhi oleh emosi orang lain," katanya.
Mimikri (mimicry) dalam biologi evolusioner merupakan kemampuan satu spesies untuk menjadi sama dengan spesies lain. Mimikri adalah mekanisme biologis dasar yang dapat memberi keuntungan evolusioner, kata Peter Totterdell, PhD, peneliti senior di Universitas Sheffield di Inggris. "Ini membantu Anda memahami apa yang orang lain rasakan dan pikirkan - bahkan ketika dia berusaha menyembunyikannya."
Dan penelitian menunjukkan bahwa jika Anda dapat membuat siswa Anda dalam suasana hati yang baik, mereka akan belajar lebih banyak juga.
"Penelitian otak menunjukkan bahwa kesenangan bukan hanya bermanfaat untuk belajar tetapi juga sangat diperlukan untuk pembelajaran otentik dan memori jangka panjang," tulis Sean Slade untuk The Answer Sheet
Neurologis dan pendidik Judy Willis adalah salah satu dari banyak pakar yang meneliti manfaat belajar yang menyenangkan: 
“Ketika kegembiraan dan kenyamanan dihapus dari ruang kelas dan diganti dengan homogenitas, dan ketika spontanitas diganti dengan konformitas, otak siswa akan menjauh dari pemrosesan informasi yang efektif dan penyimpanan memori jangka panjang.”
Suasana yang menyenangkan sebenarnya meningkatkan dopamin, endorfin, dan oksigen di otak. Dengan demikian proses pembelajaran menjadi lebih mudah dan efektif. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita dapat membuat mengajar lebih menyenangkan bagi diri kita sendiri dan bagi siswa?

Cara Membuat Pengajaran Lebih Menyenangkan:

1. Temukan hal-hal baru bersama.
Akan lebih menyenangkan ketika siswa dan guru bersama-sama belajar tentang hal-hal baru. Pekerjaan Anda, tentu saja, untuk mendidik, tetapi mengapa proses itu tidak termasuk kesenangan dari penemuan bersama? Tetapkan poin secara berama-sama setiap hari dan biarkan semua terlibat dalam kegiatan menemukan sesuatu itu. 
2. Masukkan misteri ke dalam pelajaran Anda.
Yang paling menyenangkan adalah ketika sesuatu itu mengejutkan. Begitu juga dengan belajar. Jangan hanya menyebarkan informas di dalam kelas. Sesekali cobalah memasukkan misteri dalam materi ajaran Anda. Misteri yang akan mengundang sorot mata siswa yang aneh, yang tidak biasa, yang unik. Kemudian ajukanlah pertanyaan. Mulailah dengan detail yang aneh yang hanya bisa diatasi dengan menyelam ke latar belakang subyek dan menjelajahinya secara menyeluruh. 
Lemparkan sebuah masalah yang misterius di awal jam pelajaran dan biarkan siswa Anda berusaha memecahkannya sepanjang semester.
3. Sesekali coba bersikap konyol, perlihatkan bahwa Anda peduli.
Jangan khawatir soal jaga wibawa, jaim (jaga image) dan sikap-sikap yang menunjukkan otoritas Anda. Faktanya: penelitian terbaru mengatakan otoritas sebenarnya muncul dari kepedulian yang Anda tunjukkan pada siswa Anda. Membuat mereka tertawa dan merasa baik adalah salah satu cara untuk melakukan itu. Biarkan saja Anda dan kelas tertawa, mengolok-olok diri sendiri. Tertawalah pada lelucon siswa Anda.
Perlihatkan kepada siswa bagaimana Anda bersenang-senang. Seperti penyakit, gairah menular. Jika Anda bersenang-senang, kemungkinan besar siswa Anda juga akan melakukannya.
4. Berpartisipasi dalam tugas siswa.
Ada seorang profesor kreatif di universitas yang membawa materi dengan mengajak para siswa ke bengkel. Itu sangat menyenangkan bagi semua siswa, dan menyenangkan baginya juga. Seorang guru yang benar-benar berpartisipasi dalam suatu kegiatan membuat semua siswa lebih terlibat dalam tugas itu. 
5. Tinjau, tapi jangan ulangi materi dengan cara yang sama. 
Meninjau kembali (review) pelajaran Anda akan membantu Anda menghindari kegiatan yang membosankan di kelas. Jika siswa hanya menonton pelajaran Anda atau hanya membuat pekerjaan rumah mereka sendiri malam sebelumnya, Anda dapat menghabiskan waktu untuk fokus mempelajari lebih dalam. 
Penting bagi memori untuk meninjau materi baru secara teratur dan mengintegrasikannya ke dalam gambar yang lebih besar yang dibentuk oleh materi lama. Luangkan satu atau dua jam setiap minggu untuk mengulas materi dari beberapa minggu terakhir, tetapi selalu posisikan dalam materi lama sehingga siswa melihat bagaimana semuanya cocok bersama. Mengulang informasi baru merupakan kesempatan belajar yang terlewatkan.
Setiap orang akan menghargai kesempatan untuk merenungkan, alih-alih mengulangi, materi.
6. Ganti gaya berceramah dengan dialog.
Mengapa mengajar harus begitu pasif? Hanya ceramah satu arah dari waktu ke waktu. Lupakan menjadi orang bijak di atas panggung dan mulai libatkan siswa Anda dalam percakapan santai seperti Anda akan menjadi teman baik mereka. Ini membutuhkan perubahan gaya di mana Anda dan siswa Anda secara aktif bertukar gagasan, bukan hanya menanggapi mereka.
7. Nikmati dirimu.
Orang-orang dengan kepercayaan diri tinggi –orang yang kita hormati dan dengarkan— cenderung memiliki satu kesamaan sifat: mereka menikmati pekerjaan yang mereka lakukan. Sikap itu tampak jelas dalam keseharian mereka. Anda akan memiliki waktu yang jauh lebih baik untuk mengajar jika Anda berupaya memelihara hubungan pribadi Anda dengan diri sendiri. Murid-murid Anda akan memiliki waktu yang lebih baik juga. Semua nyaman menjadi diri sendiri. Itu akan menumbuhkan rasa kepercayaan diri siswa.
8. Anda harus selalu hadir buat siswa. Di manapun dan kapanpun. 
Jangan terus berada di ruang guru saat makan siang. Tinggallah di ruangan Anda dan undang siswa untuk makan siang bersama Anda. Buka pintu Anda setelah bel pulang sekolah. Kemudian jadikan diri Anda bisa berkomunikasi secara online. Sekarang hampir tiap semua orang punya telepon pintar yang memungkinkan semua bisa berkomunikasi. Nah di dunia itu (maya, virtual) Anda juga harus hadir. 
9. Cobalah menjadi siswa lagi.
Duduklah di kursi siswa dan biarkan siswa Anda mengajari Anda untuk hari itu. Habiskan satu minggu mengerjakan tugas Anda sendiri. Biarkan siswa menilai Anda dalam proyek atau presentasi. Ini akan menjadi suatu pengalaman yang tidak terlupakan. Sambil mengajarkan bahwa kita semua, guru dan siswa, sebenarnya adalah murid kehidupan. 
10. Jangan menganggap diri sendiri atau mata pelajaran Anda terlalu serius.
Keluhan siswa yang banyak terdengar adalah guru mewajibkan mata pelajarannya paling penting. Itu menimbulkan rasa tidak simpatik. Harus diingat bahwa mata pelajaran kita bukan satu-satunya yang harus diambil siswa. Masih ada mata pelajaran lain. Dan siswa harus menyeimbangkan tugas dan materi semua mata pelajaran kelas. 
Sikap itu bukan berarti Anda melonggarkan aturan atau bersikap lunak pada tugas-tugas yang terlambat. Sikap toleransi itu berarti mengakui bahwa siswa memiliki minat dan prioritas yang mungkin tidak sejalan dengan Anda. Cobalah untuk memahami, dan bahkan menyatakan minat pada mata pelajaran lain. Anggap saja hal itu sebagai kesempatan untuk memperkuat pemahaman siswa tentang mata pelajaran Anda dengan menghubungkannya dengan disiplin ilmu lain. Dengan pemahaman seperti itu akan membuat wawasan siswa makin luas tentang keterhubungan tiap-tiap ilmu (inter-disipliner). Bukankah semua hal di dunia ini saling berhubungan. Saling menimbulkan sebab akibat.

Mengajar adalah "profesi berprestasi." Anda tidak harus bersikap teatrikal (meskipun itu bisa membantu), tetapi Anda harus sadar diri.

Disadur dari artikel Saga Briggs
Managing Editor InformED.