Kupas Tuntas Kunci Pembentukan Karakter Unggul

Kupas Tuntas Kunci Pembentukan Karakter Unggul
Djohan Yoga dan Suyanto pada Webinar Pendidikan Kabupaten Kediri (sahabatguru)

SahabatGuru mengadakan Webinar Pendidikan Kabupaten Kediri pada Jumat (15/10) melalui Zoom dan YouTube. Webinar inspiratif ini membahas “Growth Mindset sebagai Kunci Pembentukan Karakter Unggul”. Dengan disaksikan lebih dari delapan ribu guru dari Kabupaten Kediri, webinar ini menghadirkan pembicara kompeten di bidang pendidikan, yaitu Ir. Drs. Djohan Yoga, M.Sc., MoT., Ph.D. sebagai Pengembang Inovasi Pendidikan dan International Certified Trainer in Education for Asia serta Prof. Suyanto, Ph.D. sebagai Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta.  

Ir. Drs. Djohan Yoga, M.Sc., MoT., Ph.D. sebagai narasumber pertama menyampaikan pentingnya guru-guru memiliki growth mindset. Mindset itu dibentuk oleh attitudebehaviorcharacter, dan habit. Seorang ahli mindset yaitu Carol S. Dweck pernah mempertanyakan kenapa manusia berbeda dan punya reaksi berbeda. Oleh karena itu, mindset dibagi jadi dua, fixed mindset dan growth mindset. Pemilik fixed mindset berkeyakinan jika seseorang lahir dengan kecerdasan dan kemampuan tetap dan tidak bisa diubah. Pemilik growth mindset berkeyakinan jika kecerdasan dan kemampuan seseorang bisa dikembangkan secara tak terbatas melalui proses belajar dan usaha.

Faktanya, Indonesia memiliki peringkat enam terbawah dalam bidang mindset. Lalu, ada 66% siswa Indonesia yang memiliki fixed mindset. Mereka tidak yakin bisa lebih pintar dari saat ini. Inilah hambatan yang harus dilalui oleh para guru. Dalam peringkat akademis, Indonesia juga mencapai peringkat bawah. Sehingga, PISA menyimpulkan jika negara-negara yang akademisnya rendah maka growth mindset-nya juga rendah. Hal ini ternyata memiliki korelasi yang berbanding lurus.

“Saat ini, growth mindset telah menjadi fokus baru di 79 negara dalam upaya memperbaiki mutu pendidikannya. Mari, kita jadikan Indonesia memiliki guru dan siswa yang punya growth mindset,” ajak Djohan Yoga.  

Narasumber kedua yaitu Prof. Suyanto, Ph.D. Beliau menyampaikan pentingnya penguasaan skills di abad 21 agar dapat menghadapi transformasi digital. Menurutnya, revolusi 4.0 menyebabkan banyaknya perubahan di berbagai aspek. Sebanyak 70% pekerjaan akan tergantikan dengan sistem otomatisasi.

Gejala-gejala transformasional di Indonesia yaitu sebagai berikut. Pertama, toko konvensional yang mulai digantikan dengan marketplace. Kedua, taksi dan ojek tradisional tergantikan dengan moda-moda transportasi online. Ada sepuluh skill penting di dunia kerja, seperti kemampuan memecahkan masalah, berkoordinasi, manajemen, berpikir kritis, negosiasi, quality control, orientasi pelayanan, pengambilan keputusan, aktif mendengarkan, dan kreatif. Pada tahun 2022, kemampuan analisis dan inovatif akan lebih dibutuhkan daripada kemampuan memecahkan masalah.

Modal awal guru di era digital yaitu keyakinan yang positif, perilaku yang baik, mempengaruhi keyakinan orang lain, memengaruhi perilaku orang lain. Karakter guru dibagi dua, yaitu performance (komitmen, target, etika kerja, determinasi, percaya diri, inisiatif, kreatif) dan moral (respect, tanggung jawab, cinta, kemanusiaan, integritas, adil, dan keberanian moral). Yang paling baik untuk mencerminkan karakter adalah melakukan yang terbaik dari kita.

Karakter moral terdiri dari kebajikan yang dibutuhkan untuk berperilaku etis, menjalin hubungan positif, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Karakter moral menghormati kepentingan orang lain, sehingga kita tidak melanggar nilai-nilai moral ketika mengejar tujuan kinerja kita.

Performance character terdiri dari mendukung semua warga sekolah mencapai prestasi akademik tinggi; mengembangkan etika, bukan hanya skor ujian; mengembangkan talenta ilmuan dan pengusaha; menghasilkan sumber daya kompetitif dan kreatif.

Prof. Suyanto, Ph.D. menyampaikan jika dibutuhkan beberapa karakter berikut ini untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila di Indonesia.

  • Bernalar kritis agar bisa memecahkan masalah. Hal ini berhubungan dengan kemampuan kognitif.
  • Siswa secara independen termotivasi meningkatkan kemampuannya, bisa mencari pengetahuan serta termotivasi.
  • Kreatif, siswa dapat menciptakan hal baru, berinovasi secara mandiri, dan mempunyai rasa cinta terhadap budaya.
  • Gotong-royong, di mana siswa mempunyai kemampuan berkolaborasi yang merupakan softskill utama yang terpenting di masa depan agar bisa bekerja secara tim.
  • Kebhinekaan global yang merupakan upaya agar siswa mencintai keberagaman budaya, agama, dan ras negaranya, serta menegaskan jika mereka warga global.
  • Beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Di sinilah moralitas, spiritualitas, dan etika berada. Sudah pasti pendidikan karakter akan menjadi salah satu pilar inti.

Mengutip dari Martin Luther King, “Jangan pernah lelah dan menyerah untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik dari diri kita”. Materi yang disampaikan oleh kedua narasumber hebat ini sangat berdampak untuk guru-guru Kediri agar bersemangat menjadi pendidik yang memiliki growth mindset serta cerdas dalam menghadapi era transformasi digital.

ANIS SAFITRI