Kampus Mengajar: Kolaborasi Mahasiswa dan Guru Memajukan Sekolah di Daerah 3T

Kampus Mengajar: Kolaborasi Mahasiswa dan Guru Memajukan Sekolah di Daerah 3T
Guru mengajar di luar sekolah di daerah Jambi [antara foto]

PADA awal 2021, Mas Menteri Nadiem Makarim menyosialisasikan salah satu Program Kampus Merdeka yang melibatkan peran sekolah-sekolah dasar, yaitu "Kampus Mengajar". Kampus Mengajar merupakan kegiatan mengajar di sekolah yang bisa diikuti oleh mahasiswa dari seluruh Indonesia. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Pendidikan Tinggi Nadiem Anwar Makarim menjelaskan tujuan diadakannya Kampus Mengajar adalah, pertama, untuk menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan pembelajaran literasi dan numerasi. Kedua, membantu pembelajaran di masa pandemi, terutama untuk SD di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal). Penyelenggaraan program ini sendiri adalah atas dukungan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Banyak guru di daerah terpencil mengaku tak mendapat informasi yang utuh soal kebijakan Menteri Nadiem. Salah satunya, mereka kehilangan kesempatan mendapat pelatihan dari pemerintah soal kemampuan mengajar di tengah pandemi virus corona. Padahal, mereka menilai pembelajaran tahun ajaran baru di tengah corona lebih banyak kendala di daerah terpencil. Kurang akses internet dan fasilitas penunjang menjadi kendala terberat.

Tahun ajaran baru ini banyak sekolah di daerah 3T yang memutuskan untuk mengajar dengan cara guru berkunjung ke rumah siswa. Ini karena ketika pembelajaran dilakukan daring selama tahun ajaran kemarin dinilai banyak kendala. Terutama terkait jaringan yang sering putus ketika sedang belajar. Alat komunikasi pun jarang dimiliki siswa. Tak semua siswa punya telepon genggam.

Ini semua membuat banyak guru bingung. Bagaimana cara mengajar dengan keterbatasan yang mereka alami? 

Kampus Mengajar 2021 merupakan program lanjutan dari Program Kampus Mengajar Perintis yang telah dilaksanakan pada tahun 2020 se­bagai bukti dedikasi kampus melalui mahasiswa untuk bergerak menyuk­seskan pendidikan nasional dalam kondisi pandemi. Mengingat kualitas pendidikan dasar dan menengah di Indonesia juga masih sangat rendah (PISA 2018 peringkat Indonesia no 7 dari bawah). 

Kontribusi utama yang dapat dilakukan oleh mahasiswa kepada sekolah ada tiga hal. Harapannya, tiga hal ini dapat dilakukan secara kolaborasi antara guru dengan mahasiswa peserta Kampus Mengajar. Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, mengajar. Mahasiswa bersama guru dapat bersama-sama mengidentifikasi terlebih dahulu masalah yang ada dalam kegiatan pembelajaran selama pandemi. Setelah itu mahasiswa dapat membantu mencarikan solusi dan memberi saran kepada guru agar pembelajaran dapat berjalan lebih baik. Mahasiswa juga mendampingi guru dalam proses pembelajaran dan siap membantu jika menemui kendala.

Kedua, memberi bantuan adaptasi teknologi. Mahasiswa dipandang sebagai generasi Z yang selalu mengikuti perkembangan teknologi. Dari pertimbangan inilah, mahasiswa tentunya bisa mengajari guru-guru di sekolah pelosok untuk lebih melek terhadap teknologi, khususnya dalam pemanfaatan media pembelajaran digital. Para guru dan siswa paling tidak perlu menguasai penggunaan Google Classroom, Google Form, dan Google Meet. Jika memungkinkan sinyal dan kondisi, mereka juga dapat dikenalkan media pembelajaran lain seperti Kahoot, Quizzez, dan media menarik lainnya.

Ketiga, memberi bantuan administrasi. Selain pengajaran di kelas, mahasiswa juga diharapkan dapat membantu menyusun administrasi sekolah sehingga lebih terstruktur. Kesempatan ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi mahasiswa mengenai sistem manajemen sekolah.  

Salah satu program kegiatan Kampus Mengajar di SD Negeri Wonolagi

Selain tiga hal tersebut, para mahasiswa Kampus Mengajar diberi kesempatan untuk mengadakan program kegiatan lainnya yang dirasa bermanfaat untuk warga sekolah. Asalkan mendapat persetujuan dari warga sekolah dan wali murid, para mahasiswa Kampus Mengajar dapat melaksanakan kegiatan di luar pembelajaran yang menarik dan kreatif. Sebagai contoh, mahasiswa dapat melaksanakan program kegiatan galang dana atau galang buku untuk sekolah. Sekolah Dasar yang berada di daerah 3T sebagian besar belum memiliki sarana dan prasarana yang mumpuni. Mahasiswa bisa menjadi perantara bagi donatur yang ingin menyisihkan hartanya untuk kemajuan sekolah yang ada di daerah 3T tersebut. Selain itu, apabila sekolah memiliki website/media sosial, mahasiswa bisa membantu untuk mengaktifkan kembali website/media sosial tersebut. Sebagai generasi yang lebih melek teknologi, mahasiswa dapat membantu meningkatkan publikasi sekolah agar segala kegiatan yang menginspirasi dapat terekspos dengan luas. Jika publikasi maksimal, bukan tidak mungkin akan ada pihak-pihak yang memberikan bantuan dana untuk pengembangan sekolah.

Hingga pada akhirnya, sinergi yang dilakukan antara guru dengan mahasiswa menjadi angin segar untuk mendorong kemajuan pendidikan di negeri ini. Program Kampus Mengajar menjadi salah satu solusi untuk mengatasi ketimpangan layanan dan akses pendidikan yang dialami oleh siswa-siswa di pelosok negeri. Pandemi yang datang secara tiba-tiba ini bukan berarti melumpuhkan semua lini, tetapi justru menjadi kesempatan mengolah kreativitas demi mengubah tantangan menjadi harapan.

ANIS SAFITRI