Pendidikan Inklusi: Mendidik Sepenuh Hati dan Melayani Tanpa Henti

Guru yang mengajar di sekolah inklusi patut diacungi jempol karena usaha untuk mendidik secara telaten dua jenis siswa yang berbeda. Terlepas dari itu, siswa maupun guru sama-sama belajar banyak hal dalam sistem pendidikan ini.

Pendidikan Inklusi: Mendidik Sepenuh Hati dan Melayani Tanpa Henti
Pendidikan inklusi sebagai upaya guru untuk belajar mendidik sepenuh hati. (istimewa)

Model penyelenggaraan program pendidikan terpadu atau terintegrasi ini menjadi layanan untuk siswa penyandang disabilitas memenuhi hak agar bisa meningkatkan kualitas hidupnya dari segi pendidikan.  Maka dari itu, pendidik atau guru harus berusaha untuk mencapai tujuan tersebut diiringi dengan motivasi kuat dari siswanya. Apalagi jika guru mengajar pada sekolah inklusi yang membutuhkan effort lebih tinggi karena mendidik serta mengajarkan pada dua jenis siswa yang berbeda; siswa normal dan siswa penyandang disabilitas.

Pendidikan inklusi, mengharuskan anak berkebutuhan khusus berada dalam satu kelas untuk belajar dan mengenyam studi. Sistem ini dilaksanakan karena adanya pemikiran bahwa anak berkebutuhan khusus ada di setiap daerah sementara sekolah khusus belum menyebar dengan rata. Hal ini ditambah sarana dan prasarana seperti layanan serta fasilitas yang belum memungkinkan untuk daerah membuat sekolah khusus untuk penyandang disabilitas. Ditambah lagi, adanya pendapat bahwa melalui pendidikan inklusi ini diharapkan anak berkebutuhan khusus bisa lebih optimis, percaya diri, dan mandiri untuk bisa berteman atau bersaing dengan siswa normal lainnya.

Terlepas dari itu, pendidik sangat beruntung bisa ditempatkan dalam pendidikan inklusi ini. Karena tidak hanya peserta didik saja namun juga guru bisa banyak belajar, mulai dari bekerja sama, saling memahami dan menghargai, bisa secara tidak langsung merasakan apa yang siswa penyandang disabilitas rasakan, bisa lebih menganalisis kebutuhan, meningkatkan motivasi untuk mengajar, lebih cepat beradaptasi, dan peka terhadap situasi.

Banyak hal baru dan menantang yang bisa pendidik ambil di kala terjun ke pendidikan inklusi. Sikap empati yang tinggi, peka terhadap kondisi, juga sebagai ladang amal di akhirat nanti. Model pembelajaran tentu akan sedikit berbeda dari sekolah pada umumnya, namun pendidik harus bisa untuk menyesuaikan dan tidak terlihat membedakan secara langsung agar siswa penyandang disabilitas tidak merasa tersinggung dan tetap memegang teguh hasil pembelajaran yaitu bisa bekerja sama dengan baik, memiliki pengalaman yang sama, menghasilkan ide-ide kreatif serta inovatif, bahkan bisa selras dengan kemampuan anak normal.

Pada dasarnya pendidik atau guru tanpa memandang sekolah tertentu harus mendidik sepenuh hati. Namun, dalam pendidikan inklusi guru harus bisa lebih dari segala aspek karena perbedaan tersebut menjadi sebuah tantangan tersendiri, dari mulai media pembelajaran, strategi pembelajaran, hingga pendekatan personal pada siswa khususnya penyandang disabilitas. Pendidik juga perlu terus melayani tanpa henti, maksudnya tidak hanya menjadi seorang guru namun juga sebagai teman atau sahabat, dan orang tua yang harus lebih bisa mengawasi daripada anak normal lainnya, memperhatikan keefektifan belajarnya, bersikap lapang dada dan sabar, juga bisa memberikan dorongan semangat yang lebih banyak.

Hal tersebut tak lantas untuk memandang sebelah mata pendidik pada sekolah umumnya. Namun, guru di pendidikan inklusi memiliki keistimewaan hati untuk terus mendampingi secara khusus seluruh siswanya.

 REGINA

Referensi:

Murni Winangsih. (2017). Pendidikan Integrasi dan Pendidikan Inklusi. Jurnal HIKMAH. Xiii(2). 113-136.