Perpustakaan Bisa Dijadikan sebagai Pusat Komunitas

Perpustakaan harus mampu mengoptimalkan fungsinya sebagai pusat komunitas tidak sekedar sebagai tempat menyimpan buku.

Perpustakaan Bisa Dijadikan sebagai Pusat Komunitas
Suasana perpustakaan (Foto dok.katalog.kemdikbud.go.id)

sahabatguru.com. Perpustakaan harus mampu mengoptimalkan fungsinya sebagai pusat komunitas tidak sekedar sebagai tempat menyimpan buku. Perpustakaan bisa dijadikan sebagai tempat saling berbagi ilmu pengetahuan.

Hal ini dikatakan Ketua Umum Perkumpulan Literasi Indonesia (PLI) Wien Muldian ketika berbicara tentang pengelolaan perpustakaan. Menurutnya perpustakaan di daerah di tingkat kecamatan misalnya harus membuka diri sebagai pusat kegiatan komunitas.  

"Saya berharap semua bisa memahami kebutuhan publik dan masyarakat hari ini. Jadi bukan cuma berpikir menyiapkan sebuah tempat untuk menaruh buku di rak, sesudah itu selesai dan tidak beda dengan sebuah kantor, bukan seperti itu," kata Wien seperti dilansir dari laman antaranews.com.

Ia berharap pengelolaan perpustakaan daerah di tingkat kecamatan dapat beradaptasi dalam fungsinya sebagai ruang temu yang mengoptimalkan fungsinya untuk mengadakan berbagai kegiatan seperti diskusi hingga workshop. 

"Kami bangun tempat ini bukan hanya untuk merawat buku, tapi bagaimana kami merawat pengetahuan bersama-sama dan saling berbagi pengetahuan, itu yang kami niatkan," ujar Wien yang juga menjadi Ketua Dewan Perpustakaan Jakarta.

Menurut Wien keberadaan perpustakaan sekolah misalnya dapat dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar sehingga akses ke jantung pengetahuan tidak hanya eksklusif milik sekolah tertentu saja. "Misalnya, sekolah selesai jam 2 siang. Jam 2 siang sampai 6 sore itu bisa diakses oleh publik di sekitar sekolah. Sayang kan punya perpustakaan sekolah bagus-bagus tapi di jam sekolah saja, siswa yang ke perpustakaan pun cuma bisa sebentar karena sebagian besar harus mengikuti pembelajaran," katanya.

Karena itu konsep perpustakaan sebagai pusat komunitas dapat berkembang hingga dimodifikasi oleh perpustakaan lain di Indonesia khususnya di daerah. Menurutnya, salah satu permasalahan bidang literasi yang dihadapi saat ini adalah masih terbatasnya akses buku bacaan bagi warga di daerah.***