Seberapa Penting Literasi Emosi Bagi Guru?

Bukan hanya sekali dua kali, peristiwa pemukulan yang dilakukan guru kepada siswa masih sering terjadi. Beberapa peneliti mengungkapkan peristiwa ini terjadi karena kurangnya literasi emosi.

Seberapa Penting Literasi Emosi Bagi Guru?
Ilustrasi emosi.

Berbagai peristiwa tidak terkendali seringkali menjadi permasalahan penting bagi profesi guru. Tak jarang peristiwa-peristiwa under control tersebut memberi dampak hingga penonaktifan profesi guru. Seperti yang terjadi di salah satu SMA Negeri di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Peristiwa diawali adanya puluhan siswa yang terlambat masuk sekolah. Kemudian salah seorang guru mengarahkan siswa untuk berkumpul di lapangan upacara. Ketika ditanyai alasan keterlambatan beberapa siswa tampak menjawab seenaknya dan tidak memperlihatkan perasaan bersalah. Hingga seorang guru lepas kendali dan malakukan pemukulan pada dua orang siswa. 

Peristiwa pemukulan itu berakhir dengan penonaktifan profesi guru. Tentunya dalam peristiwa pemukulan tersebut terdapat dua kajian peristiwa, yakni kajian kekerasan dan kajian literasi emosional. Namun kita akan berfokus pada kajian literasi emosional yang dimiliki oleh guru. 

Kita tahu bahwa dalam pembelajaran, terdapat dua pendekatan. Yang terdiri dari kognitif dan afektif atau emosi. Namun dalam praktiknya, pendekatan afektif atau emosi seringkali diabaikan oleh pelaku pendidikan itu sendiri. Hingga kerap kali muncul berbagai peristiwa tak terkendali yang dilakukan oleh oknum guru. Peristiwa tersebut, memperlihatkan bahwa masih banyak guru dengan kemampuan literasi emosi yang masih tergolong rendah.

Defisit kemampuan literasi emosi justru dapat memberi kontribusi terhadap tindakan yang merusak diri sendiri ataupun orang lain. 

Apa Itu Literasi Emosi?

Pada dasarnya literasi emosi menjadi bagian utama dalam diri manusia untuk berkembang setiap harinya. Hal ini berhubungan dengan bagaimana cara kita mengelola diri dari hari ke hari. Literasi emosi dapat membuat kita memiliki kemampuan membaca, mengenali, merespon dengan tepat atas pikiran dan perasaan dari dalam diri kita. Dengan menggunakan keterampilan literasi emosi, kita dapat menggambarkan keinginan dan kebutuhan kita kepada orang lain, begitupula kebutuhan orang-orang di sekitar kepada kita.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Matthews Brian pada artikel yang berjudul Engaging Education: Developing Emotional Literacy, Equity and Coeducation.  Literasi emosi merupakan kemampuan memahami diri dan orang lain, menyadari dan memahami serta menggunakan keadaan emosi diri maupun emosi orang lain secara baik. Termasuk kemampuan memahami, mengungkap, mengelola emosi sendiri, dan merespons emosi orang lain dengan cara yang dapat membantu dirinya dan orang lain. Seseorang disebut melek emosi apabila ia mampu menangani emosi dengan suatu cara yang dapat memperbaiki kekuatan diri (personal power) dan memperbaiki kualitas kehidupan di sekitarnya. 

Literasi emosi dapat memperbaiki relasi dan menciptakan kasih sayang antar sesama, bekerja sama dan memfasilitasi penumbuhan perasaan sebagai suatu komunitas (feeling of community). Karena itu, kemampuan melakukan literasi emosi, memungkinkan guru dan siswa dapat melakukan aktivitas dengan prasangka dan perasaan yang lebih positif. Sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya stres dan hilang kendali. 

social & emotional learning (Christian Amundson)

Baik anak-anak, orang dewasa, maupun orang tua, kita semua mengalami emosi setiap hari. Oleh karena itu penting bagi kita semua untuk mengembangkan keterampilan dalam literasi emosi. Karena dengan membiasakan diri melakukan pengendalian emosi, siklus literasi emosional tersebut akan terus mengikuti kita hingga beranjak dewasa. 

Begitu juga profesi guru, dalam pelaksanaan pendidikan sangat penting memahami kajian literasi emosi. Karena kita hidup di zaman yang luar biasa, selalu ingatlah bahwa perasaan emosional hanya bersifat sementara. Jika kita tidak berhati-hati dalam bertindak akan ada penyesalan pada akhirnya. 

Sesekali jika perasaan kita menjadi berlebihan, tidak apa-apa untuk meluangkan waktu sejenak. Ambil napas dalam-dalam dan dengarkan kekhawatiran dari sudut pandang yang lain. Lihatlah dari sudut pandang siswa, orang tua, atau bahkan sesama guru. Berempati dan terhubung dengan orang lain akan menumbuhkan rasa kesadaran emosional yang lebih kuat dan membuat kita lebih berhati-hati. Ada banyak strategi sehat untuk menghargai emosi dan perasaan kita. Kita dapat menemukan strategi yang cocok untuk meningkatkan kemampuan literasi emosi yang sesuai pada diri kita, agar terhindar dari rasa hilang kendali. 

Aulia A.

REFERENSI:
B. Matthews. 2005. Engaging Education: Developing Emotional Literacy, Equity and Coeducation.