Belajar dari Sampah, Inovasi Mengajar dengan Memanfaatkan Sampah

Belajar bisa dilakukan dengan banyak metode dan dari berbagai sumber. Mengelola alam juga bisa diterapkan sebagai metode belajar untuk membentuk karakter pada murid. Inovasi belajar dari alam dengan mengelola barang bekas yang sudah tidak terpakai, menjadi salah satu terobosan untuk mendidik anak supaya mencintai dan merawat alam.

Belajar dari Sampah, Inovasi Mengajar dengan Memanfaatkan Sampah
Ilustrasi pembelajaran memilah sampah

Sekolah merupakan tempat pendidikan yang sudah seharusnya turut andil dalam membentuk nilai-nilai karakter kehidupan anak. Sekolah dengan jumlah murid yang banyak, tentunya turut menyumbang produksi sampah setiap harinya. Sampah merupakan material sisa yang berasal dari kegiatan sehari-hari. Jika pengelolaan sampah tidak dilakukan dengan baik, maka sampah akan mencemari alam dan mengganggu kehidupan. Sayangnya tak banyak sekolah yang mengajarkan secara khusus bagaimana anak untuk memperlakukan sampah sebagaimana mestinya.

Guru bisa membuat ekosistem pengelolaan sampah di sekolah agar anak didik dapat memperlakukan sampah dengan benar. Lebih bagus lagi membuat jam khusus untuk mengerti karakteristik sampah, cara mengolah dan memanfaatkan sampah yang ada di sekitarnya, sehingga anak bisa meminimalisir sampah dan memanfaatkan barang-barang bekas yang sekiranya bisa digunakan kembali. Sahabat guru, berikut upaya untuk mengenalkan murid cara memanfaatkan sampah dengan baik dan benar.

1. Mengajarkan Anak untuk Meminimalisir Sampah

Meminimalisir produksi sampah (reduce) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah. Anak-anak bisa dihimbau untuk membawa bekal dari rumah (masakan ibu) dan membawa tumbler minuman untuk meminimalisir bungkus jajanan sekali pakai. Sekolah juga bisa mengupayakan kebijakan/aturan pengelolaan koperasi atau kantin sekolah tentang makanan/minuman atau produk yang dijual beserta kemasannya, wadah bekal makanan/minuman yang dikonsumsi semua warga sekolah terbuat dari bahan yang bisa dipakai ulang.


2. Membuat Tempat Sampah Terpisah Sesuai Spesifikasi Sampah

Membuang sampah pada tempatnya tentunya belum cukup. Guru, selain mengajarkan anak untuk buang sampah di tempatnya juga harus menerangkan jenis sampah sesuai spesifikasinya. Hal tersebut memberi pemahaman bagi anak untuk bisa memperlakukan sampah dengan baik dan benar, juga tahu mana sampah yang bisa dimanfaatkan atau tidak. Sekolah menyediakan beberapa perangkat tempat sampah yang memisahkan sampah sesuai spesifikasinya (sampah kertas, plastik, aluminium foil, organik sebagai tempat awal memilah sampah) dan ditempatkan di beberapa titik yang mudah dijangkau warga sekolah.


3. Membuat Bank Sampah

Sekolah perlu mendirikan bank sampah beserta pengelolaannya yang memadai untuk menampung barang-barang bekas/sampah anorganik yang bisa digunakan/diolah kembali sehingga menjadi barang yang bernilai guna atau dijual kepada pengepul untuk memperoleh nilai ekonomi. Guru juga bisa memanfaatkan barang yang kiranya bisa di buat kerajinan tangan untuk melatih keterampilan anak.


4. Mendaur Ulang

Menggunakan kembali (reuse). Menggunakan kembali barang bekas untuk keperluan lain atau sama. Mendaur ulang (recycle). Mengolah barang bekas menjadi barang baru yang bermanfaat, misalnya barang bekas/sampah anorganik dirangkai menjadi tas, dompet, ecobrick dan sebagainya. Sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos. Hal ini bisa dilaksanakan melalui kegiatan intrakurikuler dan atau ekstrakurikuler dalam mengaplikasikan kegiatan pengelolaan sampah.


5. Membuat Biopori

Mengajarkan anak untuk membuat lubang resapan biopori (pori-pori di dalam tanah). Yaitu lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Sampah organik dimasukkan ke dalam lubang tersebut sehingga menghasilkan kompos. Akibatnya dapat menghidupi fauna tanah dan tercipta pori-pori tanah. Air permukaan tanah meresap ke dalam tanah. 

Guru memiliki peran penting untuk membentuk dan menanamkan karakter kepada anak-anak. Pendidikan karakter juga dapat dimaknai sebagai upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil. 

Pendidikan karakter membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang seperti tingkah laku yang baik, peduli lingkungan, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Upaya di atas merupakan praktik pendidikan karakter kepada anak.

Anak-anak sejak dini disadarkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk melestarikan lingkungan hidup. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan lingkungan hidup, salah satunya yaitu pengelolaan sampah dengan benar.

Sahabat guru, untuk menjaga alam ini tetap lestari dan harmoni bukan hanya memulai dari diri sendiri, tetapi juga mengajarkan hal-hal tersebut kepada anak untuk mencetak generasi yang bersahabat dengan alam. Kalau kata Benjamin Disraeli, “Kebersihan dan kerapian bukan masalah naluri, itu adalah masalah pendidikan.”

Muh Galih N.

Referensi:
Suwarti (2019). Penguatan Pendidikan Karakter dengan Kelola Sampah. Radar Kudus. https://radarkudus.jawapos.com/read/2019/10/28/163230/penguatan-pendidikan-karakter-dengan-kelola-sampah.

Sulistyanto, dkk (2019). Pembiasaan Pengelolaan Sampah sebagai Strategi Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan bagi Siswa MI Muhammadiyah Cekel, Karanganyar. Buletin KKN, 1(2), 42-49.