Ketahui Tantangan Di Era Digital yang Makin Kompleks!

Tantangan di era digital sangatlah bermacam-macam. Pertama, kejahatan siber menjadi salah satu momok menakutkan yang menghantui keamanan digital. Kedua, peran guru di era digital memegang peran penting dan harus terus ditingkatkan kualitasnya.

Ketahui Tantangan Di Era Digital yang Makin Kompleks!
Gambar oleh Dom Ide dari Pixabay

Nah, kedua bahasan tersebut telah dikupas tuntas oleh narasumber-narasumber inspiratif yang telah hadir pada Webinar Program Literasi Digital Indonesia 2021 untuk Kabupaten Magelang pada Kamis (25/11), yaitu Direktur Lembaga Survei IDEA Institute Indonesia Dr. Jafar Ahmad, S.Ag., M.Si. serta Dosen FISIPOL UGM Frans Djalong, MA.

Kejahatan Siber yang Mengancam Keamanan Digital   

Pada tahun 2019-2020 terjadi peningkatan serangan siber yang luar biasa. Pada tahun 2019 terjadi lebih dari 39 juta data siber, lalu tahun 2020 mengalami peningkatan hingga lebih dari 187 juta data serangan siber. Hal ini menandakan pada tahun pandemi terjadi peningkatan yang laur biasa. Ini dipengaruhi faktor banyaknya masyarakat yang makin sering menggunakan media digital selama pandemi Covid-19. Orang yang berbuat jahat di internet juga makin meningkat. Banyak pula keahlian yang dikuasai orang jahat untuk melakukan serangan siber.

Ada berbagai macam sumber-sumber kejahatan di dunia digital. Misalnya, penawaran asuransi, kartu kesehatan, peminjaman utang, dan banyak jenis kejahatan yang berkedok penawaran. Lalu, ada juga pishing, yang bertujuan untuk mengambil data korban, seperti tanggal lahir, kata sandi, dan alamat domisili. Peretasan juga menjadi sumber kejahatan yang marak dilakukan. Jangan pernah memberikan kode OTP kepada orang sembarangan. Kode OTP ini bisa jadi bahan untuk melakukan peretasan akun. Selanjutnya, ada juga stalking yang dilakukan untuk berbuat kejahatan. Pastikan postingan di media sosial jangan menjurus pada sesuatu yang bersifat privat.  

Jafar Ahmad juga menyampaikan langkah-langkah menjaga keamanan standar. Pertama, simpan data rahasia secara offline, misal pada buku catatan kecil. Kedua, periksa keandalan situs web. Ketiga, gunakan kata sandi yang kuat, yang terdiri dari kombinasi angka, huruf, dan simbol. Keempat, hindari tautan online yang mencurigakan. Kelima, perbarui komputer. Keenam, waspada terhadap WiFi dan unduhan gratis. Hindari log in akun/sesuatu menggunakan WiFi. Ketujuh, amankan koneksi internet dengan VPN.

Pergeseran Peran Guru di Era Generasi Digital

Narasumber selanjutnya yaitu Frans Djalong, MA., Dosen Departemen Sosiologi UGM. Beliau menyampaikan “Pergeseran Peran Guru di Era Generasi Digital”. Cakap digital sangat penting karena metode belajar mengajar akan terus berlangsung menggunakan daring. Adaptasi dan pemanfaatan harus segera dilakukan secara teratur.

Apa itu guru digital? Pertama, guru yang mampu menjadi Homo Digitalis, yaitu pengguna aktif digital, menguasai know how instrumen digital. Kedua, guru juga menjadi pembelajar media belajar, akses ragam informasi dan pengetahuan, life-long learning. Ketiga, peneliti, dengan media belajar khusus untuk peningkatan kapasitas sebagai guru berpengetahuan sesuai bidang keilmuan dan pengetahuan lintas-keilmuan. Keempat, fasilitator, menggunakan media digital untuk kegiatan belajar mengajar, meningkatkan partisipasi dan kepercayaan diri peserta didik dalam proses belajar.

Berbicara mengenai tantangan, ternyata tantangan peran guru di era digital cukup berat dan masih terasa hingga sekarang. Misalnya, masih terbatasnya inovasi kebijakan sekolah yang mampu memfasilitasi pembelajaran guru, seperti insentif penelitian guru dan panduan pembelajaran. Selanjutnya, masih kurangnya pelopor dan perintis di kalangan para guru, belum ada inisiatif individual – kebiasaan lama fokus ke mata pelajaran masing-masing, masih ada label sekolah unggulan dan tidak unggulan, metode perangkingan yang membuat guru dan siswa tidak percaya diri. Selain itu, adanya pemisahan dan pembagian disiplin ilmu, serta tantangan dalam penguasaan Bahasa Inggris.

Sebagai penutup, Frans Djalong memaparkan langkah yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan peran guru di era digital. Pertama, setiap sekolah harus punya inovasi penguatan kapasitas guru dalam berliterasi digital, wujudnya program sekolah dan forum guru pelopor. Kedua, guru memberi penugasan reguler kepada siswa, mengurangi kecanduan siswa pada konten yang tidak edukatif. Ketiga, siswa didorong belajar bahasa Inggris secara mandiri.

ANIS SAFITRI