Digitalisasi Pendidikan: Peran Guru Seperti Apa Yang Dibutuhkan?

Transformasi digital telah menyentuh hampir setiap aspek kehidupan kita. Sekitar lebih dari 3,5 miliar orang memiliki akses ke internet dan lebih dari 5 miliar orang diperkirakan memiliki perangkat seluler dan smarthphone.

Digitalisasi Pendidikan: Peran Guru Seperti Apa Yang Dibutuhkan?
Guru mengoperasikan teknologi digital (sumber: republika.co.id)

Tingkat konektivitas ini telah memengaruhi cara orang berpikir dan cara melihat dunia di sekitar mereka. Oleh karena itu, tidak heran jika tren transformasi digital ini juga berdampak besar pada dunia pendidikan. Digitalisasai pendidikan telah memengaruhi ruang kelas dan bagaimana cara berkomunikasi antara guru dan siswa dari pendidikan sekolah dasar hingga pendidikan tinggi. Perubahan digitalisasi pendidikan ini telah dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19.

Digitalisasi pendidikan mengubah arah komunikasi guru dengan siswa. Komunikasi antara guru dan siswa harusnya tetap memerlukan hubungan yang bersifat humanis. Karena pada dasarnya dalam proses pembelajaran tidak hanya sekadar mentransfer ilmu pengetahuan. Memberikan ilmu pada siswa bukan seperti memberikan mainan pada anak kecil namun membutuhkan sosialisasi dan proses pemahaman secara bertahap agar siswa dapat memahami dengan baik. 

Dalam hal ini guru memiliki peran yang sentral, karena proses pemahaman dan penyerapan siswa yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu peran guru tidak serta merta dapat digantikan oleh teknologi digital. Lalu peran guru seperti apa yang dibutuhkan dalam digitalisasi pendidikan yang saat ini terjadi? 

1. Guru sebagai sumber belajar (informator)
Peran guru sebagai informator membawa konsekuensi bahwa guru harus menguasai materi yang akan disampaikan pada siswa. Karena pandangan siswa terhadap guru juga dilihat dari bagaimana seorang guru dapat menjelaskan materi pembelajaran dengan baik. Dalam hal ini kemampuan guru dalam menguasai materi sangat penting. Selain itu, setiap guru juga harus bersiap dengan cepat memberi informasi dan tentunya dengan bahasa yang udah dipahami apabila siswa ingin bertanya. Dalam pembelajaran yang berbasis digital, guru yang berperan sebagai fasilitator harus mampu mendesain pembelajaran yang kreatif dengan memadukan platform-platform digital seperti aplikasi, website, games dan sebagainya. Oleh karenanya, kreativitas kolaborasi sangat dibutuhkan untuk dapat menyampaikan materi dengan baik dengan bantuan teknologi.    

2. Guru sebagai fasilitator 
Peran guru sebagai fasilitator berhubungan dengan bagaimana seorang guru mampu menciptakan atau membentuk program pembelajaran yang bersifat edukatif dan menyenangkan. Selain sebagai penyedia sumber belajar dalam pembelajran berbasis digital, guru juga diharapkan mampu menciptakan ruang belajar yang menyenangkan agar materi yang disampaikan dapat dengan mudah dipahami siswa. Dalam hal ini, diakhir pembelajaran online guru dapat memadukan kuis dan game-game untuk mengetahui pemahaman siswa. 
Kuis dan game dalam pembelajaran juga berfungsi sebagai penghilang rasa bosan siswa agar pembelajaran tidak terkesan monoton dan kaku sehingga pembelajaran terasa lebih menyenangkan.  

3. Guru sebagai pengelola (organisator)
Pada dasarnya pengelolaan kelas adalah perihal penyediaan fasilitas dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam pembelajaran digital, pengelolaan kelas yang baik berarti siswa memiliki kesempatan secara mandiri untuk dapat belajar tanpa bergantung pada bimbingan guru yang memungkinkan siswa memperoleh hasil yang diharapkan. Dalam hal ini, guru mengelola kelas digital dengan mengatur desain pembelajaran yang terorganisir dalam platform digital. Guru juga harus mampu membuat lingkungan pembelajaran digital dengan pengawasan agar pembelajaran digital tetap terarah.

4. Guru sebagai demonstrator 
Guru sebagai demonstrator mengartikan peran guru yang berfungsi sebagai “transfer of value” yakni harus mampu menunjukkan sikap-sikap bernilai yang dapat menjadi contoh atau role model bagi siswanya. Sebagai cerminan guru harus memperlihatkan penampilan, tingkah laku, cara berbicara, gaya bahasa yang diungkapkan dan cara bersikap yang baik. Termasuk dalam penggunaan sosial media guru harus menunjukkan sikap yang bijak dan berhati-hati dalam sharing atau posting di sosial media. Guru juga harus mampu meluruskan opini siswa terkait hal-hal yang sedang viral agar siswa tetap berada dalam lingkungan yang seharusnya.  

5. Guru sebagai pembimbing
Sebagai pembimbing atau konselor, guru diharapkan dapat merespon masalah dan segala tingkah laku dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran yeng berbasis digital, peran guru sebagai pembimbing dapat diaplikasikan dengan membina hubungan yang interaktif melalui komunikasi yang aktif antara guru dan siswa. Beri peluang siswa untuk bertanya di luar jam pembelajaran dengan batasan-batasan jam tertentu agar siswa juga memahami kapan waktu yang tepat untuk menghubungi dan tidak.   

6. Guru sebagai motivator
Peran guru sebagai motivator berarti guru harus mampu meningkatkan gairah siswa agar antusias dalam belajar. Guru harus mampu memberi rangsangan, dorongan, untuk mengembangkan potensi dan soft skill siswa. Guru harus mampu memberi arahan dan motivasi siswa bahwa kecerdasan saja tidak cukup untuk dapat bersaing didunia digital. Beri arahan siswa untuk dapat mengembangkan soft skill yang dimiliki. 

7. Guru sebagai elevator 
Guru berperan sebagai elevator berarti guru tidak hanya sekadar menilai produk hasil pembelajaranya, akan tetapi juga menilai proses pembelajarannya. Selain itu guru juga hendaknya menjadi evaluator bagi siswa dengan melihat kondisi dan potensi siswa memberi perlakuan-perlakuan sesuai dengan perkembangan siswa. Evaluasi dapat dilakukan secara berkala untuk mengetahui arah perkembangan siswa agar efektivitas, dan efisiensi proses pembelajaran tersebut tercapai.

Pada dasarnya setiap pendidik memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan peran masing-masing pada siswa. Lantas bagaimana peran sahabat guru sebagai pendidik di era digital? apakah sudah sesuai dengan rincian beberapa peran di atas? tentunya banyak keterbatasan yang kita miliki dalam dunia digital seharusnya bukan menjadi alasan untuk mengurangi peran kita sebagai seorang pendidik. 

Aulia A.

Referensi: 
EHL Insight. 2020. “Top 8 digital transformation trends in education”, (Online), https://hospitalityinsights.ehl.edu/digital-transformation-trends, Diakses pada 09 Des 2021 
Hadion W. 2020. Transformasi Digital dan Gaya Belajar. (Unduh) http://eprints.binadarma.ac.id/4348/1/TRANSFORMASIDIGITALDANGAYABELAJAR-dikompresi-2-99.pdf