Digitalisasi Sekolah Sebuah Keniscayaan

Berita hoax terbukti menjadi ancaman besar terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara. Coba kita flashback selama kampanye Pilpres lalu. Betapa kita terpolarisasi dengan sangat tajam. Hoax nyaris saja meruntuhkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan kita. Politik identitas nyaris saja membuat kita terceraiberai. Ke depan kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan. Dalam perspektif kebanggsaan, maka program Indonesia Cakap Digital akan memiliki peran strategis.

Digitalisasi Sekolah Sebuah Keniscayaan
Teknologi Digital akan menjadi bagian dari seluruh proses Kegiatan di Sekolah
Digitalisasi Sekolah Sebuah Keniscayaan

Buku Global Paradox dan Megatrend 2020 karya John Naisbit dan Patricia Aburdene adalah salah satu buku yang sempat “merajai” penjualan buku alias best seller beberapa tahun silam. Buku ini bercerita tentang bagaimana teknologi informasi digital akan mengubah seluruh tatanan kehidupan manusia dengan sangat paradigmatis. Apa yang diprediksi ternyata berbuah kenyataan. Kita saat ini telah memasuki era digital, era disrupsi atau Era Revolusi Industri 4.0. Beberapa kecendrungan yang menandai kehidupan masyarakat Era Revolusi Industri 4.0 yakni; masyarakat padat pengetahuan (knowledge society) masyarakat informasi (information society) serta masyarakat jaringan (network society).

Masyarakat padat pengetahuan ditandai makin dominannya peran sains dan teknologi dalam kehidupan masyarakat. Hal-hal yang sebelumnya bisa dilakukan secara konvensional, akan segera tergantikan dengan teknologi. Perkembangan ini telah mengubah tatanan kehidupan sosial, ekonomi, budaya. Lanskape kehidupan masyarakat berubah. Masyarakat informasi akan mengubah paradigma masyarakat tentang implikasi dan dampak persebaran informasi dalam berbagai bentuk. Informasi berbasis teknologi digital akan mendominasi arus lalu lintas komunikasi baik dalam perspektif personal, nasional bahkan global.

Kondisi ini akan mengubah paradigma dan cara berpikir dan bertindak masyarakat. Hanya mereka yang mampu menguasai teknologi informasi yang akan mampu memerankan dirinya dalam masyarakat hybrid ini. Selanjutnya networking atau jaringan akan menjadi pengendali masyarakat. Hanya mereka yang mampu membangun jaringan atau networking yang kuat yang akan mampu berperan. Pendek kata di era Revolusi Industri 4.0,  pengetahuan, informasi dan jaringan akan menjadi modalitas utama yang harus dimiliki masyarakat. Dalam kontek ini maka, kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kemampuan digital masyarakat Indonesia melalui program Cakap Digital yang telah diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo menjadi sebuah keniscayaan.

Jumlah pengguna internet di Indonesia versi kementrian informasi dan komunikasi saat ini sebanyak 196,7 juta. Ini menunjukan bahwa internet merupakan salah satu kebutuhan bagi masyarakat Indonesia. Namun sayangnya, di tengah-tengah tingginya animo warga untuk menggunakan internet ternyata penyalahgunaan internet juga tinggi. Laporan tentang terjadinya cyber crime, berita hoax, perundunga, serta caci maki melalui media sosial hingga saat ini masih sering menghiasi berita-berita media mainstream maupun media online. Ini membuktikan jika etika warga netizen kita dalam penggunaan internet masih memprihatinkan.

Pengguna internet memang perlu dibekali dengan etika digital (digital ethics) , keamanan digital (digital safety), keterampilan digital (digital skills) untuk membentuk pribadi yang berbudaya digital (digital culture ). Hal ini tentunya sebagai bentuk antisipasi terjadinya penyalahgunaan internet baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok yang memberikan implikasi sangat dahsyat di tengah masyarakat kita.

Berita hoax terbukti menjadi ancaman besar terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara. Coba kita flashback selama kampanye Pilpres lalu. Betapa kita terpolarisasi dengan sangat tajam. Hoax nyaris saja meruntuhkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan kita. Politik identitas nyaris saja membuat kita terceraiberai. Ke depan kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan. Dalam perspektif kebanggsaan, maka program Indonesia Cakap Digital akan memiliki peran strategis.

Peluncuran Program Literasi Digital Nasional yang bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional lalu, merupakan bukti betapa bangsa Indonesia bertekad untuk menjadikan teknologi digital bukan saja sebagai sarana pemersatu bangsa, namun juga sebagai bagian dari upaya mengakselerasi pengembangan SDM digital yang mampu membaca peluang dalam berbagai pespektif kehidupan. Empat pilar utama yang menjadi titik sentral gerakan literasi digital nasional yakni: Digital Ethics; Digital Safety; Digital Skills; dan Digital Culture, diharapkan akan mampu menjadi pilar penyokong utama menuju Indonesia cakap digital.

Peran penting dunia digital dalam pendidikan bukan semata-mata untuk membantu menghindari hilangnya kesempatan belajar siswa atau yang lebih dikenal dengan learning loss, namun misi yang lebih fundamental adalah bagaimana menjadikan teknologi digital tersebut sebagai penyokong penguatan pendidikan karakter khususnya selama pembelajaran jarak jauh yang telah berlangsung hampir dua tahun ini. Hal ini tentunya sejalan dengan rekomendasi yang dihasilkan Forum Isodel (Internasional symposium on open Distance and e-learning) yang digelar Kemendikbud Ristek akhir tahun 2021 lalu.

Dari 11 rekomendasi yang dihasilkan dalam forum ilmiah yang melibatkan para peneliti dan inovator pendidikan ini, salah satu yang patut mendapatkan perhatian serius adalah bagaimana penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran bisa digunakan sebagai wahana baru untuk pengembangan karakter siswa di tengah kekhawatiran para orang tua akan kurangnya sentuhan pendidikan karakter terhadap putra putri mereka sebagai konsekuensi dari pelaksanaan pembelajaran jarak jauh.

Kita tentunya berharap program digitalisasi pendidikan yang dirancang Kemendikbud Ristek akan mampu mengantarkan dunia pendidikan kita sejajar dengan pendidikan di negara lain. Untuk itu perlu kesadaran kolektif ekosistem pendidikan untuk bahu membahu mendukung program ini. Semua sekolah suka tidak suka harus mempersiapkan diri untuk memasuki dunia digital.

 A.A Ketut Jelantik, M.Pd