Dosen UNS: Jadilah Guru Berprestasi yang Diidolakan Peserta Didik!

Dosen UNS: Jadilah Guru Berprestasi yang Diidolakan Peserta Didik!
Agung Nugroho Catur Saputro (sumber: dosen.fkip.uns.ac.id)

SahabatGuru - Salah satu praktisi pendidikan yang hadir sebagai narasumber pada Webinar Pendidikan Kabupaten Karawang (23/10) ialah Agung Nugroho Catur Saputro, S.Pd., M.Sc. Pembicara yang merupakan Dosen Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta ini menyampaikan materi “Peran Guru dalam Pembelajaran dan Tantangan di Era Digital”.  

Dalam paparan materinya, Agung Nugroho menjelaskan jika pendidik tidak bisa tergantikan oleh teknologi. Guru sebagai tenaga profesional memiliki tugas utama mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Profesional merupakan orang yang memiliki profesi atau pekerjaan yang dilakukan dengan memiliki kemampuan yang tinggi dan berpegang teguh kepada nilai moral yang mengarahkan serta mendasari perbuatan.

“Tiga hal pokok yang harus ada pada seorang profesional. Pertama, skill, yang artinya orang tersebut harus benar-benar ahli di bidangnya. Kedua, knowledge, yang artinya orang tersebut harus menguasai, minimalnya berwawasan mengenai ilmu lain yang berkaitan dengan bidangnya. Ketiga, attitude, yang artinya bukan hanya pintar, tetapi harus memiliki etika yang diterapkan di dalam bidangnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa profesional ialah orang yang menjalankan profesi sesuai keahliannya,” jelas Agung.

Pendidik yang profesional harus mampu berpikir sebagaimana tingkat berpikir peserta didik agar mampu memahami bagaimana peserta didik berpikir dan belajar. Sehingga, proses pembelajaran dapat mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan. Dengan memahami tingkat berpikir peserta didik, seorang pendidik dapat memilih metode pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajarannya sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pendidik yang profesional harus memahami karakteristik dan gaya belajar peserta didik sehingga dapat membedakan layanan pendidikan yang tepat kepadanya. Pendidik profesional juga dituntut mampu menyelenggarakan pembelajaran yang berdiferensiasi. Apa itu? Yaitu pembelajaran yang memberi kekuasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi tak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tetapi juga fokus pada proses dan konten/materi.

Menurut Dosen Kimia UNS, ada beberapa profil pendidik profesional, seperti selalu dirindukan oleh peserta didik, kesuksesan belajar peserta didik adalah segala-galanya, jaminan mutu bahwa peserta didik mampu mengembangkan potensi kemampuannya, mementingkan kepentingan peserta didik, dan nilai pengabdian tertinggi ialah memberikan layanan keprofesionalan di bidang pendidikan.  

“Kompetensi guru ada empat. Pertama, kompetensi pedagogik. Contoh keterampilan dasar yang saja ajarkan pada mahasiswa ketika kelas microteaching ialah keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi kelompok lain, mengelola kelas, dan mengajar. Kedua, kompetensi kepribadian. Kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, dan mampu menjadi teladan adalah kepribadian yang diperlukan oleh guru-guru. Ketiga, kompetensi sosial. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif. Selain itu, berkomunikasilah secara efektif, empatik, dan santun. Keempat, kompetensi profesional, yaitu yang mampu menguasai bidang ilmu.

Jadilah guru yang berprestasi. Dengan begitu, peserta didik kita akan meneladani dan meniru untuk selalu berprestasi. Jangan jadi guru yang biasa saja. Jadilah guru yang hebat dan diidolakan anak-anak kita.