Kenapa Anak Indonesia Tidak Minat Berhitung?

Belajar tidak hanya urusan logika. Juga melibatkan emosi. Semakin kita stres, semakin pula kinerja otak meningkat, yang membuat cemas serta panik. Belum apa-apa sudah antipati dengan matematika.

Kenapa Anak Indonesia Tidak Minat Berhitung?

PROSES belajar tidak hanya urusan logika. Belajar pada dasarnya adalah proses yang melibatkan emosi.

Proses belajar itu dipengaruhi oleh sirkuit di sistem limbik pada bagian otak kita yang merespons ancaman (threat) atau hadiah (reward). Sistem limbik ini bertanggung jawab pada banyak hal, seperti emosi, perilaku, motivasi, dan termasuk ingatan jangka panjang kita. Untuk bisa belajar dengan optimal, kita harus mainkan emosi kita secara optimal juga.

Menurut Yerkes dan Dodson, ada grafik yang bentuknya seperti huruf ‘U’ terbalik. Grafik itu menggambarkan hubungan antara performa kerja kita dengan pembangkitan emosional yang dibutuhkan. Semakin kita stres, semakin pula kinerja otak meningkat, yang membuat cemas serta panik.  

Pelajaran berhitung memang sulit. Orang tua pun terkadang susah menjawab soal-soal yang dipelajari anak-anaknya di sekolah. Bahkan sampai ada anak yang sangat amat membenci pelajaran ini. Padahal, matematika itu hidup berdampingan dengan kita. Ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Seharusnya kita bisa mudah memahami dan menerapkan matematika dalam keseharian kita. 

Situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang membuat orang tua harus turun tangan untuk mengajari anak-anak yang diberikan materi oleh gurunya untuk dipelajari. Banyak faktor yang membuat anak-anak tidak menyukai matematika, salah satunya ada mindset yang tertanam luas bahwa “matematika sulit”.

Ubahlah dari mulai pola pikir “matematika sulit”. Karena jika terus menanamkan mindset seperti itu akan mempengaruhi emosi. Lakukanlah cara belajar matematika dengan menyenangkan. Beberapa hal perlu dilakukan untuk meningkatkan minat berhitung, seperti:

1. Jangan antipati.

Di Amerika Serikat ternyata sekitar 6 persen pelajar sekolah dasar (SD) yang mengalami dyscaculia atau math dyslexia yang merupakan gangguan dalam berhitung. Itu gara-gara mereka sejak awal sudah antipati dengan matematika. Sikap antipati akan menghambat kamu untuk mengembangkan kemampuan. Jika belum apa-apa sudah antipati, sudah pasti kemampuan matematika tidak akan berkembang dan cenderung menurun.

Lihatlah matematika sebagai salah satu kunci meraih masa depan kamu.

2. Cari dan temukan pola atau cara khusus.

Pengajar dapat membantu peserta didik menemukan cara mudah untuk memahami suatu materi agar mereka lebih cepat mengingat topik tersebut. Seperti, perkalian angka 1-10 dengan angka 9 menggunakan jari, 7 x 9 artinya jari ke 7 dari kiri menjadi pemisah antara sisa jumlah jari di kanan (6) dan jari di kiri (3). Lalu, kedua angka tersebut digabungkan maka hasilnya adalah 63. Pola atau cara khusus ini akan lebih memotivasi siswa untuk belajar karena memudahkan mereka memahami konsep.

3. Membuat tantangan dan permainan (games).

Memberi tantangan penting untuk menciptakan antusiasme peserta didik. Lakukan tantangan beserta games untuk memotivasi peserta didik.

4. Memberi contoh pengaplikasian matematika sehari-hari.

Contoh pengaplikasian materi dalam kehidupan sehari-hari dapat pengajar berikan pada awal pembelajaran. Hal ini agar siswa menjadi termotivasi terhadap materi yang akan dijelaskan pengajar. Pengajar juga bisa membantu peserta didiik menghubungkan matematika dengan jenjang karir yang mereka inginkan di masa depan.

Misalnya, pengajar menjelaskan manfaat teori peluang yang bisa diaplikasikan ketika siswa menempuh pendidikan di jurusan biologi. Ke depannya, peserta didik akan bisa menghitung peluang terjadinya peristiwa tertentu, seperti risiko keuangan di masa depan dan dampak dari kondisi finansial.

FAIRUZ ZAHIRA